Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 03 April 2015

Minuman Keras Oplosan Tiap Bulan Telan Korban Jiwa 16 Orang di Surabaya


Konsumsi minuman keras oplosan makin lama makin mengkhawatirkan. Di Surabaya saja setiap bulannya terdapat 16 korban meninggal dunia akibat mengkonsumsi minuman keras oplosan. Ini merupakan angka kematian tertinggi dibanding dengan kota lainnya di indonesia.


Komunitas Anti Oplosan yang dimotori Sarah Sidharta ini pun belakangan gencar melakukan kampanye anti oplosan. “Aksi ini wujud keprihatinan, karena banyak teman dan orang-orang dekat saya yang jadi korban. Kalau kita nggak gerak, berapa banyak lagi yang jadi korban?” cetus Sarah saat ditemui, Kamis (2/4 2015) malam.

Komunitas Anti Oplosan mencatat selama 2011-2014 ada 1.639 korban meninggal karena oplosan. Dari jumlah itu, 602 orang dari Surabaya. Artinya, tiap bulan ada sekitar 16 orang meninggal akibat mengonsumsi oplosan.

“Angka ini tertinggi di seluruh Indonesia. Ini tentu memprihatinkan kita semua,” tandas Sarah sambil memapar, kasus yang sama terjadi di Yogyakarta menimpa 116 orang, dan Jakarta hanya 96 orang.
“Itu yang berhasil kami data. Yang tak terdata kami yakin lebih banyak lagi,” kata Sarah seperti dikutip tribunnews.

Dan ironisnya, dari angka itu sebagian besar adalah anak muda. “Kami pernah menemukan kasus yang terjadi pada anak usia 14 tahun. Jadi pengaruhnya sudah sampai di pelajar SMP-SMA,” imbuhnya.

Menurut pengamatan Surabaya Raya, pada sejumlah kasus minuman keras oplosan telah menimbulkan gangguan jiwa pada konsumennya. Sebagian bisa diselamatkan tapi ada juga yang berujung kematian.

Sebagaimana dilansir tempo.co, menurut Prof dr Tjandra Yoga Aditama di Jakarta dalam surat elektroniknya pada Kamis, (5/3) di Jakarta mengatakan selama ini bahan minuman beralkohol yang biasa dikonsumsi manusia adalah etil alkohol atau etanol yang dibuat melalui proses fermentasi dari madu, gula, sari buah, atau ubi-ubian.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan atau Balitbangkes dari kantor Kementerian Kesehatan ini menerangkan sementara yang terkandung dalam miras oplosan bukanlah etanol melainkan metyl alkohol atau metanol.

"Metanol biasanya dipakai untuk bahan industri sebagai pelarut, pembersih dan penghapus cat. Metanol dapat ditemukan dalam tiner alias penghapus cat atau aseton yang biasa dipakai sebagai pembersih cat kuku," kata dia.

Tjandra menjelaskan tanpa dicampur apapun, metanol sangat berbahaya bagi kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian. Apalagi dicampur dengan berbagai bahan lain yang tidak jelas jenis dan kandungannya.

"Metanol bila dicerna tubuh akan menjadi formaldehyde atau formalin yang beracun, berbahaya bagi kesehatan. Reaksinya dapat merusak jaringan saraf pusat, otak, pencernaan, hingga pada keadaan tertentu dapat saja terjadi kasus kebutaan."

Dia juga menyebutkan tentang pernah ada laporan yang menemukan miras oplosan yang dicampur dengan suplemen minuman berenergi dan minuman alkohol tradisional seperti tuak. "Namun yang lebih mengejutkan lagi tentang laporan bahwa miras yang dioplos mungkin saja memakai obat nyamuk cair. Hal ini sungguh membahayakan," kata dia.


Tidak ada komentar: