Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 01 September 2013

Balai Pemuda Tempo Doeloe

Jadi Tempat Dansa-Dansi


Di manakah tempat hiburan paling ramai di kota Surabaya pada zaman kolonial, khususnya sekitar awal tahun 1900-an? Jawabnya, Simpangsche Societeit atau yang sekarang disebut Balai Pemuda. Tapi saat itu tempat hiburan ini khusus untuk warga Belanda dan Eropa saja, bukan untuk pribumi.


Lokasinya ada di Simpangstraat, yang sekarang sudah menjadi Jl. Gubernur Suryo. Jalan ini membujur dari Toendjoenganstraat (Jl. Tunjungan) hingga ujung Kajoonstraat (Jl. Kayon). Jalan ini dipisahkan Palmenlaan (sekarang Jl. Panglima Soedirman) dan Dijkermanstraat (kini Yos Sudarso).

Bentuk bangunan Simpangsche Societeit  begitu khas dan berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya di Surabaya. Bangunan utama bagian atasnya dihias dengan kubah yang berbentuk mahkota dan di kiri-kanannya ada selasarnya.

Pada malam hari di sekitar gedung selalu terang-benderang dengan diterangi lampu-lampu gas. Halaman gedung juga diterangi lampu-lampu yang dipasang pada tiang-tiang lampu berukir indah dan berjajar rapi sekali. Begitu juga Dijkermanstraat atau Simpangstraat diberi lampu setiap  30 depa.

Mereka yang ingin datang dan pergi dari tempat ini biasanya menggunakan alat transportasi yang pada waktu itu disebut kereta setan. Mereka kebanyakan orang-orang Belanda dan sebagian lagi orang Eropa seperti Jerman dan lain-lain.

Di halaman gedung ada dua papan pengumuman yang satu menghadap ke Jl. Simpangstraat dan satunya lagi ke Dijkermanstraat bertuliskan “Verboden voor Inlander!” Yang artinya “Pribumi dilarang masuk!”  Yang boleh masuk hanyalah pribumi yang bekerja sebagai pelayan di tempat itu.

Lalu jenis hiburan seperti apa yang terdapat di sini? Di tempat inilah warga Belanda dan Eropa bersantai, berdansa dengan diiringi musik dan suara penyanyi. Para pengunjung juga bisa main bilyar bola tiga atau bowling bola kayu. Sebagian dari mereka mungkin lebih suka sekedar makan-minum saja.

Biasanya bersamaan dengan datangnya jam makan malam digelar acara dansa. Sebuah orchestra kecil yang terdiri dari tiga orang pemain biola dan satu orang pemain cello segera menyajikan komposisi lagu-lagu berirama waltz. Orang Belanda menyebut dansa waltz itu dengan sebutan weenerwals atau waltz Wina. Lagu-lagu ciptaan komponis Johann Strauss yang paling sering diperdengarkan dalam pesta tersebut.

Semakin malam suasana semakin panas. Minuman keras pun mulai beredar. Dansa yang diperagakan biasanya pulka yang rancak. Lagu pengiring favorit saat itu adalah Mamsell Ubermut serta Die Lustigen Kahlenberger.

Kalangan elit yang biasanya refreshing di sini mendirikan klub rasial bernama Vaderlandsche Club. Anggotanya terdiri dari para banker, pengusaha dan pemilik perkebunan yang kaya raya. Meski ini acara refreshing, mereka sering menyanyikan lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus dengan semangat.

Orang-orang Belanda yang ada di Surabaya kebanyakan lahir di Surabaya seperti di Kembang Djepoen, Baliweerti, Boeboetan, Darmokali, dll. Mereka melampiaskan kerinduan akan tanah air mereka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda.

Semua pelayan adalah orang pribumi yang sudah dibekali dengan pendidikan adat dan tata krama, tapi kelihatan sekali kalau hidup mereka tak terjamin dari penampilan fisik mereka yang kurus-kurus.

Para pelayan dilengkapi dengan pakaian seragam model djas toetoep dan celana berwarna putih. Antara baju dan celana dililitkan kain panjang jarit yang diwiron. Para pelayan itu semua mengenakan ikat kepala udheng yang warnanya senada dengan kain jaritnya. Dan mereka semuanya bertelanjang kaki. Tugas mereka adalah terutama menyajikan makanan serta minuman untuk para tamu serta menjaga kebersihan gedung.

Sambil menyajikan minuman yang telah dituang dalam gelas-gelas kristal bertangkai tinggi, para pelayan itu hilir mudik dari satu ruangan ke ruangan yang lain di dalam gedung itu hingga ke selasar jika tamunya berada di luar gedung.

Minuman berbagai jenis diletakan dalam nampan kayu ukuran besar. Cara membawa baki harus diangkat di atas kepala, tidak boleh di bawahnya. Anggapan orang Belanda saat itu: bau mulut orang pribumi itu bisa meracuni minuman! Saat istirahat para pelayan dilarang duduk-duduk di kursi tetapi harus ndeprok di sudut ruangan.

Tata Ruang
Sekitar tahun 1900-an, Surabaya telah berkembang menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Tak mengherankan kalau kemudian bermunculan tempat-tempat hiburan. Sebagian besar di antaranya diperuntukan bagi angkatan bersenjata Hindia Belanda khususnya Angkatan Laut. Karena sejak zaman Deandels, Surabaya sudah dikenal sebagai basis angkatan laut.

Tempat-tempat hiburan yang terkenal pada tahun 1900-an itu di antaranya:
1.       Simpangsche Societeit di jl. Simpang, sekarang Jl. Gubernur Suryo, didirikan pada tahun 1907
2.       De Club di pojok Embong Malang (di areal Toko Nam yang sekarang sudah tak ada lagi). Didirikan pada tahun 1850.
3.       Societeit Concordia di Societeitstraat, kini jl. Veteran. Didirikan pada 4 Maret 1834
4.       Militair Cantine di Krembangan
5.       Marine Societeit Moderlust di Oedjoeng. Didirikan pada 1 Mei 1867

Simpangstraat menjadi tempat hiburan yang paling muda dan lokasinya paling selatan. Ini menunjukan arah perkembangan kota yang makin lama semakin meluas ke arah selatan.

Komplek Gedung Balai Pemuda yang berdiri di atas lahan seluas 17.000 m2 itu dibagi menjadi beberapa bagian. Gedung yang ada di sebelah barat dilengkapi dengan panggung hiburan, ruang pengunjung, urinoir, kamar rias, dapur, ruang konsumsi dan gudang yang kini sudah dibongkar dan berganti dengan bangunan Masjid Assakinah.

Gedung ini digunakan untuk kegiatan hiburan/kesenian panggung, musik, dan dansa. Para pengunjung seringkali sampai meluber ke ruang parkir tengah yang saat itu berlantai marmer. Namun bersamaan dengan pembangunan gedung bioskop Mitra, lempengan marmer itu hancur tergilas mobil bahan bangunan.

Bangunan utama yang di atasnya berkubah digunakan sebagai kantor pengurus Soecietet. Di sini para anggota sering melakukan tatap muka. Di dalam gedung ini juga terdapat ruang untuk dansa-dansi sambil makan minum. Selain itu ada panggung untuk pertunjukan musik dengan lantunan lagu dari para vokalis. Panggung setinggi 3 meter ini ada di seputar kolam segi delapan yang berhiaskan patung putri duyung dari marmer di bawah kubah.

Peninggalan berupa piano, almari kaca berisi gelas-gelas kristal, buffet-buffet, mesin hitung, roneo dan gramophone Philips merupakan saksi bisu atas sejarah gedung ini di masa lalu.

Gudang minuman yang menghadap ke Jl. Yos Sudarso merupakan fasilitas pelengkap gedung utama. Gudang ini sudah dibongkar bersamaan dengan pembangunan gedung bioskop Mitra. Ruangan gudang ini pernah dimanfaatkan sebagai kantor Sub Direktorat Perekonomian, Unit  Terminal Angkutan Umum, Resimen Maha Surya dan lain-lain sebelum terbangunnya kantor Walikota di Jl. Jimerto pada tahun 1978.

Setelah kemerdekaan gedung utama pernah digunakan untuk kantor Surabaya Investment Office (SIO), yang kemudian menjelma menjadi tim Master Plan. Selanjutnya pernah digunakan untuk kantor KNPI, Kantor Sosial Politik, dan Kwartir Cabang Pramuka (sebelum tahun 1988). 

Ruang untuk bilyar dan bowling terletak di sebelah utara komplek Balai Pemuda dengan bentuk serupa dengan ruang yang ada di sayap barat. Antara gedung olahraga dan gedung hiburan dihubungkan dengan selasar yang kini sudah tidak ada bekasnya.

Untuk memudahkan mengurus gedung ini dibuatkan perumahan pengurus dalam satu lokasi. Perumahan ini terletak di sebelah utara gedung olahraga dan menghadap ke Jl. Yos Sudarso. Bangunan perumahan ini pernah ditempati untuk kantor LVRI, Kwartir Cabang Pramuka dan Dinas Pariwisata. Tapi kini sudah tergusur untuk pembangunan Gedung DPRD Surabaya.

Aneka Macam Kuliner
Apa saja jenis kuliner yang disajikan untuk para tamu yang datang ke Simpangsche Societeit? Ternyata di antara masakan Belanda atau Eropa hadir juga unsur-unsur masakan  Indonesia. Saat itu ikut disajikan di gedung itu adalah masakan tradisional seperti dendeng ragi, dan bumbu opor.

Makanan biasanya ditaruh di atas meja oval berukuran besar yang hampir memenuhi ruangan.
Biasanya para tamu mengawali bersantap dengan hidangan pembuka seperti berikut ini:
1. Bruine Bonen Soep. Para pelayan biasanya menyebutnya Sop Kacang Merah. Hidangan pembuka ini memang masakan asli negeri kincir angin (belanda). Di situ ada kacang merahnya, iga sapi muda, bawang bombai, seledri, daun bawang, serta bumbu-bumbu lainnya, membuat si penyantap akan tambah lagi sampai kekenyangan sampai lupa makanan ini bukan menu utama.
2. Hidangan pembuka lainnya adalah huzarensla yang sering disebut sla saja. Daun selada dipadu dengan potongan nanas, daging, kentang, bit, acar, putih telor, sementara kuning telurnya sendiri dipakai untuk saos yang dicampur dengan minyak salad, cuka, garam serta minyak goreng.
Lalu dilanjutkan dengan menu utama yang terdiri dari:
1. Ayam besengek. Ini berupa ayam panggang dengan bumbu merica, bawang, cabai merah serta kecap. Ini  bukan masakan asli Belanda tapi jadi menu utama dalam jamuan makan risjttafel. Makanan ini terdiri dari:
2. Nasi putih pulen yang diletakan dalam sebuah schaal (pinggan) ukuran besar. Dan di sekeliling pinggan itu berisi berbagai jenis lauk pauk pribumi dengan bumbu rempah-rempah yang luar biasa lezatnya seperti: dendeng ragi, bumbu opor, dan sambal miso.
3. Semoer Oma lintje juga banyak digemari. Hidangan ini terdiri dari daging goeloeng, goebis, serta lidah sapi. Hidangan lainnya dalah Ayam Zwartzuur, yang di mulut para pelayan menjadi ayam suar suir, yaitu ayam yang dimasak dengan terigu, margarine, daun salam, merica dan lain-lain serta ditungai anggur merah.
4. Lapjes artinya irisan daging. Namun segala sesuatu berupa irisan sering disebut lapis, seperti kuwe lapis! Hidangan lapis Portugis yang disajikan di meja itu lain lagi. Yaitu irisan daging sapi dengan bumbu-bumbu: merica, ketumbar, batang serai, lengkuas, dan lain-lain dan diberi santan. Pada waktu disajikan diberi irisan cabe merah sebagai hiasan.
Sebagai hidangan penutup di antaranya:
1. Poffertjes, yang sering disebut sebagai Apem Belanda karena bentuknya yang memang mirip kuwe apem, tapi kalau poffertjes diolesi mentega dan taburan gula halus.
2. Kroket londo, makanan ini tidak saja digemari oleh orang  Belanda tapi juga orang bumiputera  karena memang lezat.
3. Klappertaart, yaitu hidangan penutup yang berupa pudding roti dan irisan kelapa muda. Sedangkan untuk camilan biasanya berupa sus kering, lidah kucing, bolu kering, nastar, kastangel dan kacang goreng.  

Sumber:
1. Soerabaia Tempoe Doloe Buku 1 Dukut Imam Widodo “Bibit Kaitane Kutho Suroboyo” hal. 155-162,  Dinas Pariwisata Surabaya, 2012
2. Seri Bangunan Cagar Budaya (1) “Balai Pemuda Cipta Rasa dan Karsa” Disusun oleh Tim Bappeko Surabaya, Mei 2004, Penerbit: Bappeko Surabaya.

Tidak ada komentar: