Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 01 April 2013

Enam Penyebab Banjir di Surabaya

surabayadetikcom


Banjir masih terus menghantui Surabaya di musim penghujan ini. Yang terakhir terjadi pada Minggu, 31/03/2013 12:57 WIB ketika hujan deras berlangsung selama sekitar 60 menit. Akibatnya beberapa kawasan terendam banjir seperti di Jalan Jambi, Jalan Ciliwung, Jalan Raya Dr Soetomo dan beberapa ruas jalan protokol seperti Jalan Embong Malang dan Jalan Basuki Rahmad. Di beberapa ruas jalan, genangan air mencapai ketinggian sekitar 40 centimeter, membuat arus lalu lintas dua arah berlawanan merambat.



Seperti pernah dikatakan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Pemkot Surabaya Erna Purnawati, persiapan Pemkot untuk menghadapi banjir sudah maksimal. Seperti tersedianya 45 pompa air di seluruh penjuru kota,  5 bozem, dan 7 bozem mini dan secara rutin melakukan pengerukan saluran.

Tapi kenapa sebagian besar wilayah Surabaya masih tergenang saat hujan deras. Inilah sebab-sebabnya:
1. Banjir yang terjadi di Surabaya karena tingginya curah hujan yang ada di hulu sehingga mempengaruhi debit air di Kali Surabaya.  Untuk itu, dalam mengatasi banjir di Surabaya harus diatasi secara menyeluruh mulai dari hulu hingga ke hilir. ”Salah satu upaya adalah dengan membangun plengsengan mulai dari pintu air Nginden sampai hilir,” sebutnya. Kepala Dinas PU Pengairan Jatim, Mustofa Kamal Basya, 16 Februari 2010
2. Posisi kota Surabaya yang diapit dua muara sungai besar menjadikan kota ini selalu rawan banjir setiap musim hujan tiba. “Selain perumahan baru yang sebagian besar tidak memiliki kajian drainase atau saluran air pengendali banjir, Surabaya berada di antara muara kali Surabaya sebagai lanjutan sungai Brantas dan muara sungai Bengawan Solo. Kalau dua sungai tersebut airnya meluap dan pada saat yang sama air laut sedang pasang hampir dipastikan Surabaya bakal tidak bebas banjir. Karena itu, kami masih tidak berani menjamin Surabaya bebas banjir,” kata dia, beberapa waktu lalu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Pemkot Surabaya Erna Purnawati, 06 Nopember 2011
3. Kebiasaan warga membuang sampah di sungai merupakan salah satu sebab banjir. Selain menganggu aliran air, sampah-sampah itu mengganggu kerja pompa air. Di Sungai Ketintang sampah yang menyumbat saluran mencapai 1 truk. Tampaknya warga membuang sampai di aliran sungai itu mulai Jambangan. Tumpukan sungai yang mengganggu aliran air juga ditemukan di Kenjeran, Kedinding, dan Kalisari. Sampah yang diangkut mencapai 10 truk. Karena itu para lurah dan camat diinstruksikan untuk melakukan sosialisasi agar warga tidak membuang sampah ke sungai. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini , 26 Desember 2012
4. Banjir terjadi hampir merata di Kota Surabaya terjadi karena curah hujan yang tinggi dan durasinya lama. Pemkot sebelumnya sudah mendapatkan surat edaran dari Departemen Dalam Negeri dan Badan Metereologi, Kematologi dan Geologi (BMKG) yang menyatakan akan ada badai dampak dari Badai La Nina. Karena itu curah hujan akan tinggi dan angin semakin kencang, dan badai yang membuat sebagian Surabaya terendam banjir.  Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Jumat, 03/12/2010
5. Ketika turun ke beberapa lokasi pompa ketika hujan turun dengan deras, Walikota menemukan pintu air Jagir terlambat untuk dibuka. "Terlambatnya menurunkan rumah pompa di Jagir karena bukan kewenangan Pemerintah Kota Surabaya, tapi Jasa Tirta. Tapi sudah bisa kok," ucap wali kota perempuan pertama di Surabaya tersebut. Sedangkan di Bozem Morokrembangan ia menemukan dari lima pompa yang jalan ada dua di antaranya patah pada baling-baling karena terbelit sampah. Ini yang membutuhkan waktu agak lama, dan baru Jumat siang bisa difungsikan dan normal lagi.
"Saya minta warga bisa sedikit bersabar dengan adanya genangan air di beberapa ruas jalan. Itu terjadi akibat terkendala secara teknis pada rumah - rumah pompa, dan curah hujan yang tinggi membuat air cepat naik." Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Jumat, Jumat, 03 Desember 2010.
6. Di musim penghujan daerah Simo, Sukomanunggal, hingga Tandes jadi langganan banjir. Kalau penutupan Saluran Banyu Urip dengan Box  Culvert selesai daerah ini tidak kebanjiran lagi.
7. Meluapnya Kali Lamong adalah pemicu banjir di Surabaya barat. Selama Kali Lamong tak ada rehabilitasi maka banjir di kawasan tersebut akan tetap menghantui. Pemkot Surabaya memang sudah menganggarkan dana yang cukup besar setiap tahunnya mencapai ratusan miliar rupiah. Hanya saja khusus untuk Kali Lamong, Pemkot Surabaya tak bisa bergerak sendirian sebab tempat itu merupakan kewenangan Balai Pengawasan Wilayah Sungai (BPWS) Bengawan Solo.Sehingga beban untuk mengatasi meluapnya Kali Lamong sebenarnya ada di BPWS. Anggaran sebesar Rp 2,6 miliar digunakan untuk mengatasi penyebab meluapnya Kali Lamong  tak akan berarti apa-apa. Sebab, untuk pengerukan sungai dan pembangunan tanggul yang permanen butuh dana sebesar Rp 30 miliar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Kota Surabaya, Erna Purnawati, Rabu (2/11/2011). ardison

Sumber:
2. http://www.lensaindonesia.com
6. http://jatim.tribunnews.com
7.http://www.surabayakita.com

3 komentar:

Jaya Mujahiders mengatakan...

kata dosen geografi saya (pak Luci), banjir di surabaya memang wajar karena Surabaya dulunya adalah daerah perairan. jadi resapan dan kedalaman tanah untuk menyerap air pun dangkal. meskipun UNESA telah membuat danau dsb, tetap saja tanah tak mau menyerap air. wong dulunya Surabaya memang daerah perairan.

Saiful Bahri mengatakan...

Tapi menurut saya banjir terjadi karena pemasangan box curvert yang mulai merata disurabaya sehingga air" yang ada dijalan tidak bisa mengalir ke selokan disebabkan tidak adanya lubang pada box culvert dari samping, box culvert hanya memberi lubang pada bagian atas saja sehingga air tidak bisa mengalir ke selokan

Saiful Bahri mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.