Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 02 April 2013

5 Fakta Yang Bisa Mendorong Pedagang Pasar Turi ke Jurang Kehancuran

Pasar Turi saat terbakar tahun 2007



1. Persaingan yang makin menggencet usaha mereka. Ini karena jumlah stan di Pasar Turi yang sudah direnovasi bertambah dua kali lipat dibanding sebelum kebakaran. Jika sebelum kebakaran jumlah stan hanya 3800 stan sesudah direnovasi akan menjadi 7000 stan. Dengan jumlah pedagang yang bertambah hampir dua kali lipat, pedagang lama akan semakin sulit menjual dagangannya. Apalagi sejak kebakaran tahun 2007 lalu sampai sekarang telah muncul pusat-pusat perdagangan baru. Dan fakta menunjukan bahwa banyak stan ruko-ruko/plaza/pusat grosir yang masih kosong dan yang buka pun seperti hidup enggan matipun tak mau.

2.Himpitan Utang Yang  Tak terbayarkan. Setelah kebakaran terjadi, pedagang tidak saja mengalami kerugian besar karena stan dan semua isinya terbakar, tapi juga sejak itu hingga kini mereka kehilangan sumber penghidupan. Mereka harus menguras tabungan hasil jerih payah berdagang puluhan tahun untuk menghidupi keluarganya. Sudah begitu mereka harus dihadapkan pada kewajian baru mencicil pembelian stan yang harganya berkisar antara Rp 175 -200 juta/stan dengan luas 6,75 meter persegi. Dengan uang muka sebesar 20 persen, yang nilainya antara Rp 28 juta hingga Rp 40 juta, pedagang masih terbebani membayar cicilan sebesar Rp 147-160 juta

3. Bayangan kebangkrutan. Paska pembangunan, bagi pedagang yang dagangannya lancar akan selamat dan bisa melunasi cicilan dengan baik. Tapi dengan persaingan yang ketat akan lebih banyak lagi pedagang yang bisnisnya tak lancar. Akibatnya mereka tak bisa mencicil dengan baik, lalu terkena denda keterlambatan membayar stan 1,5%. Dan ketika mereka benar-benar tak bisa membayar cicilan, stan akan disita. Mereka tak bisa lagi berdagang dan mereka pun jadi bangkrut.

4.Para pedagang yang semula berjualan di lantai dasar yang strategis akan berubah mendapatkan stan yang tidak strategis. Sebab stan yang strategis hanya bisa dibeli para pedagang baru atau lama yang berani membeli stan seharga Rp 1 miliar. Saat ini sebanyak 30 orang pedagang Pasar Turi Surabaya yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Turi (P3T) terancam tak bisa memiliki stan yang strategis seperti sebelum kebakaran. Mereka tengah berjuang di pengadilan untuk menuntut ganti rugi kepada investor. Mereka meminta kesempatan pertama menempati lantai tower ground, lantai satu dan lantai dua dengan harga miring, yaitu antara Rp 17-25 juta per meter persegi. Namun kenyataannya PT Gala Bumi Perkasa sebagai  investor tetap mematok harga Rp 1 miliar untuk satu stand atau kios sehingga tak terjangkau pedagang lama. Pedagang merasa layak diberi kesempatan pertama karena telah berjualan di pasar grosir terbesar di Indonesia timur itu sejak 1970 sampai terjadinya kebakaran pada 27 Juli 2007 silam.  Sesuai perjanjian pedagang lama seharusnya mendapatkan prioritas pemilikan stan. Lantaran dianggap wanprestasi, pada 10 Desember 2012 lalu P3T menggugat perdata PT Gala Bumi Perkasa sebesar Rp 263 miliar atau sama dengan jumlah anggota P3T. Langkah hukum ini ditempuh  karena audiensi dan mediasi yang telah berulangkali digelar tidak membuahkan kesepakatan.

5. Kecurangan perubahan desain. Ini bisa menyebabkan pedagang yang semula mendapatkan tempat strategis jadi mendapatkan lokasi yang sebaliknya. Seperti ditemukan oleh  Walikota Surabaya Tri Rismaharini ketika melakukan sidak pada saat pembangunan kembali Pasar Turi tengah berlangsung. Contoh dalam perencanaan awal seharusnya area terbuka (voip) ada di bagian tengah, tepatnya di tiang ke empat. Namun, pengembang malah membangunnya di bagian tiang ke enam. 
“Wajar kalau pedagang Pasar Turi terus protes. Dengan adanya perubahan itu, pedagang yang awalnya mendapat lokasi di pinggir saat undian stan  berubah menjadi tertutup di tengah. Ini sudah jelas-jelas salah. Kami tak bisa dibohongi seperti ini, kita putus saja kontraknya kalau seperti ini,” ungkap Walikota kesal.

Jelas bahwa pembangunan kembali Pasar Turi yang melibatkan investor akan membawa para pedagang lama ke jurang kehancuran. Solusinya pembangunan kembali pasar harus sepenuhnya dengan dana APBD. Toh pedagang selama ini tak pernah benar-benar memiliki stan karena statusnya hanya hak pakai. Pedagang hanya menempati sementara stan tetap milik Pemkot. Anehnya kalau kebakaran atau dipugar kembali, Pemkot tak pernah mau bertanggungjawab untuk membangun kembali tapi menyerahkan pada investor. Sehingga pedagang harus membeli stan baru lagi.

Sumber:
Tempo.co.id, surabayapost.co.id, seputar-indonesia.com

Tidak ada komentar: