Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 13 Juli 2012

Komersialisasi Universitas Negeri Makin Parah, 1 Kursi Jalur Mandiri Seharga Rp 600 juta


Komersialisasi universitas negeri saat ini bertambah parah. Sistem penerimaan baru yang diberlakukan untuk jalur mandiri membuat orangtua calon mahasiswa jor-joran dalam menawar kursi yang tersedia. Ada orangtua yang anaknya kepingin masuk Fakultas Kedokteran Unair menyatakan kesanggupan membayar uang masuk hingga Rp 600 juta.

Dari pihak Universitas Airlangga sendiri menetapkan uang masuk minimal untuk Fakultas Kedokteran Rp 150 juta. Namun karena khawatir anaknya tidak bisa diterima karena hanya sanggup membayar minimal, banyak orangtua calon mahasiswa menyanggupi membayar di atas itu. Ada yang menulis angka Rp 200 juta, Rp 250 juta, Rp 300 juta dan yang tertinggi Rp 600 juta.

Dari total 4000 – 5000 kursi yang disediakan Universitas Airlangga, 40% disediakan untuk jalur mandiri. Di samping jalur mandiri ada jalur UMPTN atau jalur ujian tulis yang mendapatkan porsi cuma 30%. Selanjutnya jalur undangan mendapatkan porsi 40%. Jalur mandiri ini sering juga disebut swastanya universitas negeri. Biasanya mereka yang tidak diterima di UMPTN dan jalur undangan mencoba peruntungan lewat jalur mandiri.

Bahkan untuk Fakultas Psikologi yang uang masuk minimalnya  Rp 20 juta, ada orangtua calon mahasiswa baru yang menyatakan sanggup membayar sumbangan uang masuk Rp 200 juta.

Di ITS, batas minimal sumbangan sebesar Rp 45 juta di tiga jurusan yakni Teknik Elektro dan Teknik Industri, Teknik Sipil dan Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Sedangkan di Unesa
cenderung mematok harga lebih murah. Batas minimal sumbangan yang wajib diisikan di beberapa jurusan minimal Rp 20 juta untuk enam jurusan. 

Apakah jumlah nominal sumbangan yang diajukan orangtua berpengaruh atau tidak? Menurut ketua panitian pendaftaran jalur mandiri, Hario Puntodewo Siswanto diakuinya nilai sumbangan juga menjadi patokan. “Jika ada nilai yang sama dari dua peserta dan layak masuk, maka kita ambil yang sumbangannya lebih besar,” jelasnya.

Tingginya beaya masuk di jalur mandir  tampaknya ikut mendogkrak beaya daftar ulang mahasiswa baru jalur UMPTN. Mereka yang mendaftar ulang jadi terkaget-kaget ketika disodori beaya Rp 12 juta dan paling murah Rp 10 juta. Sedangkan mereka yang menggunakan surat keterangan miskin dapat korting dan hanya membayar Rp 2,3 juta.

Yang  dikhawatirkan jika nantinya mereka sudah terjun ke masyarakat, ketika gaji di tempat kerja tak bisa mengimbangi beaya investasi pendidikannya, mereka cenderung melakukan korupsi. Atau kalau mereka jadi dokter, yang dijadikan sasaran adalah pasien dengan beaya berobat yang mencekik. Inikah yang dicari universitas-universitas negeri dengan jalur mandiri?
Sumber: surabayapost.co.id dan  surabaya.tribunews.com

Tidak ada komentar: