Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 15 Juli 2012

Ketua Mendapatkan Sorotan Negatif, DPRD Surabaya Perketat Pengamanan


Gedung DPRD Surabaya Tampak Angker
Karena Penjagaan yg Ketat

Akhir-akhir ini DPRD Surabaya memberlakukan pengamanan yang ekstra ketat. Siapa saja yang akan masuk Gedung DPRD Surabaya mendapatkan pemeriksaan yang ketat. Termasuk di dalamnya para wartawan yang sehari-hari bertugas di sana.

Sikap yang tidak bersahabat dari DPRD Surabaya ini diduga karena beberapa hari belakangan ini DPRD Surabaya mendapatkan sorotan negatif dari kalangan pers dan media online. Mulai dari kasus kunjungan ke luar negeri yang dipasang di papan pengumuman, uang reses Rp 30 juta untuk setiap anggota dewan, sampai pada kasus penggantian rumah dinas Ketua DPRD Surabaya dengan uang.

Dan pemberitaan tentang sang ketua dewan inilah yang paling mungkin menjadi penyebabnya. Ini karena para petugas mengatakan, sikap mereka yang seperti itu dilakukan atas perintah sang Ketua DPRD KMS, Wisnu Wardhana.

Berita pers dan media online sebelumnya menyebutkan seorang pengacara, M. Sholeh mempersoalkan penggantian rumah dinas Ketua DPRD Surabaya  dengan uang Rp 13 juta/bulan sebagai pemborosan dan sebagai tindakan korupsi. Pasalnya seharusnya kalau sudah tersedia rumah dinas, Pemkot tak perlu lagi mengeluarkan anggaran untuk uang pengganti baik rumah dinas itu digunakan atau tidak.

Rumah yang terletak di Jl. Porong itu memang sejak zaman dulu selalu dijadikan rumah dinasnya Ketua DPRD Surabaya. Rumah tersebut pernah digunakan untuk ‘mbangun nikah’ mantan Ketua DPRD Surabaya, M. Basuki dengan mengundang para wartawan pada akhir tahun 90-an.

Namun entah bagaimana tiba-tiba saja rumah dinas itu beralih menjadi guest house, tempat menginapnya tamu-tamu Pemkot Surabaya. Karena itulah Wisnu Wardhana berdalih, gedung itu diminta oleh Pemkot untuk dialihfungsikan. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan uang pengganti rumah dinas.

Ketatnya penjagaan di gedung dewan itu sudah terlihat ketika memasuki teras DPRD. Di sana  sudah ada meja yang dijaga 6 petugas Pamdal. Sehingga ketika hendak masuk, para tamu langsung menghadapi ’interogasi’ dari petugas tersebut dan harus menyerahkan identitas atau KTP. Setelah dinyatakan aman, petugas mengantar tamu yang akan mengadu ke anggota dewan.

“Baru  sekali ini saya bertandang ke  DPRD, layaknya masuk  kawasan steril sehingga masyarakat harus diperiksa super ketat. Terus terang, kondisi ini semakin membenarkan jika anggota dewan memang tidak suka ketemu rakyatnya,” ujar Rahmadi salah satu warga yang  sempat kecewa dengan kondisi dewan di sana, Jumat (13/7).

Perlakuaan super ketat juga diterapkan petugas pada wartawan. Meski sudah tahu sehari-harinya selalu meliput di gedung DPRD Surabaya, mereka tetap disuruh untuk menunjukan kartu wartawan. Parahnya lagi,  kartu press ini ditahan oleh petugas dengan alasan sebagai tanda bukti Pamdal. Sebagai gantinya petugas memberi keplek tamu. Sedangkan kartu wartawan bisa diambil ketika  pulang sambil mengembalikan keplek.

Wartawan Memorandum, Udin mengatakan, dirinya sudah dua tahun meliput di gedung dewan dan hampir semua Pamdal dewan kenal dengan dirinya, namun dia tetap wajib menaruh KTP atau kartu pers-nya di meja Pamdal.

Hal yang sama juga dialami beberapa wartawan lainnya. Seperti yang diutarakan Rizqillah Zaen reporter JTV yang menilai gedung DPRD sekarang menjadi barak militer. “Kebijakan semacam ini aneh. Petugas Pamdal (pengamanan dalam) harus tahu itu. Masak saya sudah memakai seragam JTV masih diminta menulis data dan 'ditahan' KTP,” cetusnya.

“Ini perintah dari ketua dewan. Ancaman terhadap saya, kalau saya tidak melaksanakan perintahnya, saya langsung dipecat. Jadi tolong isi buku tamu, keperluannya apa. Kalau mau wawancara dengan siapa?,” kata salah seorang Pamdal dengan wajah kaku kepada wartawan Memorandum, Moch Udin yang hendak liputan di DPRD Surabaya.

Tidak ada komentar: