Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 17 Juli 2012

Gakin Mau Seragam Gratis Tunggu 3 Bulan


Kalangan pendidik di lingkungan sekolah dasar dan menengah pertama negeri ternyata belum satu visi tentang  pendidikan gratis. Mereka berlomba-lomba mencari celah agar sekolah tetap bisa berbisnis dan mencari uang dari wali murid.

Kabar terbaru di SMPN 25 Surabaya, sejumlah orang tua siswa gakin mengaku bingung karena pihak sekolahmeminta mereka membayar seragam sekolah Rp 650 ribu. Padahal setahu mereka siswa gakin akan mendapatkan seragam  gratis.Tak urung, orang tua siswa pun pontang-panting mencari pinjaman  untuk melunasi pembelian seragam karena harus dipakai saat orientasi siswa (MOS).

Para orang tua mengaku bingung dengan keterangan yang didapat dari pihak sekolah. Mereka dikumpulkan dan diberi penjelasan untuk menunggu tiga bulan lagi untuk mendapat seragam. Daripada menunggu, mereka diminta membayar agar cepat mendapat seragam dan bisa dipakai saat MOS.

"Tidak jelas uang itu diganti atau tidak, besaranya Rp 620 ribu, untuk seragam olahraga Rp 70 ribu, terus mana janji pemerintah yang katanya pendidikan gratis untuk orang miskin, kok kita dibohongi seperti ini," ujar sumber, Senin (16/07/2012).

Di Surabaya memang ada ketentuan bahwa siswa gakin mendapatkan seragam gratis. Tidak itu saja mereka juga akan mendapatkan peralatan sekolan lainnya secara gratis dan uang transpor.
Sementara itu di SMKN 4 Surabaya terjadi  praktek pemaksaan beli seragam secara terselubung. Salah seorang wali murid mengaku diwajibkan membeli seragam nasional abu-abu putih oleh pihak sekolah.

"Padahal kita inginnya beli sendiri agar sedikit lebih murah, tapi dilarang dengan alasan badge sekolah hanya bisa didapat di sekolah. Saat saya tanya apakah bisa beli badge saja, sekolah menyatakan tidak menyediakan sehingga harus beli sekalian seragamnya," terang dia.

Sebelumnya di beberapa sekolah seperti SMPN 15, SMPN 19, dan SMKN 1 juga melayani penjualan kain seragam. Memang tidak terjadi pemaksaan, tapi para orangtua khawatir kalau tidak beli dari sekolah, anaknya akan mendapatkan perlakuan diskriminatif. Meski pengeluaran menjadi hampir dua kali lipat dibanding beli seragam jadi di toko, mereka terpaksa membeli kain dan menjahitkan di luar.

Tidak ada komentar: