Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 10 Juli 2012

Dilarang Jual Seragam, Sekolah-Sekolah Negeri Ramai-Ramai Jual Kain

Dilarang berjualan baju seragam, sekolah-sekolah negeri dari SMP – SMA kini ramai-ramai berjualan kain. Ini cukup merepotkan orangtua karena selain beaya pengadaan seragam anaknya menjadi jauh lebih mahal,  mereka dibuat lebih repot karena harus mencari penjahit.  Sekolah yang kompak jual kain itu di antaranya SMP 19, SMP 15, dan SMK 1.

Kalau beli di luar, orangtua bisa memilih setelan celana dan baju untuk anaknya yang  masuk SMP dengan harga yang paling murah. Untuk celana jadi  harganya sekitar Rp 60.000 dan baju jadi Rp 35.000. Total 1 stel hanya Rp 95.000. Tapi kalau membeli di sekolah, harga kainnya Rp 65.000 plus ongkos jahitnya  Rp 50.000 menjadi Rp 115.000. Sedangkan untuk baju, harga kainnya Rp 40.000 plus ongkos jahit Rp 40.000 atau harga  jadi mencapai Rp 80.000.  Total 1 stel jadi Rp 195.000

Padahal seragam yang harus dibeli sebanyak 3 stel plus baju batik, satu setelan biru-putih, putih-putih,  pakaian pramuka (atas-bawah). Kalau beayanya dihitung sama maka untuk seragam tiga setel sudah mencapai 3 x Rp 195.000 = Rp 585.000. Ini masih ditambah dengan kain batik harganya Rp 69.000 plus ongkos jahit Rp 40.000 atau total Rp 109.000.

Dengan hitung-hitungan itu maka kalau untuk seragam semuanya belanja di sekolah orangtua harus mengeluarkan dana sebesar  Rp 694.000 atau hampir Rp 700.000. Padahal kalau beli di toko mungkin harga totalnya hanya   95.000 x 3 = Rp 285.000,00 plus baju batik  Rp 50.000, total harga seluruh seragam hanya Rp 335.000.

Ini masih belum termasuk yang  kecil-kecil  seperti kaus kaki 3 stel, ikat pinggang 1 buah, kaos olahraga, bad, dan perlengkapan lainnya. Total untuk membeli seragam dan perlengkapan yang kecil-kecil bisa tembus Rp 1 juta. Ini belum beli buku dan alat-alat tulis, buku pelajaran, dan sebagainya. Maka beaya yang dikeluarkan orangtua pun akan cukup besar.

Memang sekolah tidak melarang siswa membeli seragam  di luar. Namun karena sekolah menyediakan kain dengan warna khusus dan kualitas yang lebih bagus, maka akan kentara mana siswa yang membeli dari sekolah dan mana yang membeli di luar. Ini bisa mengundang sikap diskriminatif pengajar kepada muridnya.

Sikap semacam ini sering dipraktekan para guru terhadap muridnya yang dianggap tidak patuh terhadap kemauan sekolah. Bagi orangtua yang khawatir mendapatkan perlakuan demikian, mereka tentu akan memilih membeli meskipun harus cari utangan ke sana kemari.

Betapa lebih baik bila pengadaan seragam diserahkan sepenuhnya pada orangtua. Dengan demikian mereka bisa lebih berhemat  tanpa takut  mendapatkan  perlakuan  diskriminatif  guru  terhadap anaknya.  Selain itu toko-toko seragam sekolah juga senang karena dagangannya laku.

Akibat banyaknya  sekolah yang menjual kain seragam, toko-toko seragam jadi sepi. Seorang pedagang di Kapas Krampung mengatakan, keponakannya yang sekolah di SMK 1 seharusnya belanja seragam di tokonya. Tapi karena pihak sekolah sudah menyediakan kain dan juga tukang jahitnya sekalian, keponakannya tak jadi membeli kepadanya. Padahal harga satu setel seragam di SMK 1 (sudah termasuk ongkos jahitnya) mencapai Rp 165.000. Ia khawatir tahun ajaran baru ini dagangannya nggak laku karena siswa sudah pada beli di sekolah.

Maka tak heran jika ada keluhan. Tidak ada dana, pendidikan mahal. Banyak dana (di Surabaya Pemkot menganggarkan Rp 1,4 trilian) atau lebih dari 30% dari APBD, pendidikan tetap mahal.

Tidak ada komentar: