Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 03 Juli 2012

Anaknya Ditolak di Sekolah Negeri, Ibu Miskin Hadang Walikota


Beberapa orangtua dari keluarga miskin yang anaknya ditolak di sekolah negeri menghadang Walikota Surabaya saat menghadiri Sidang Paripurna DPRD. Mereka berniat mengadukan nasib anak mereka yang terancam tidak bisa sekolah karena beaya sekolah swasta tak terjangkau

Salah seorang di antara mereka, Bu Suci,  mengaku sudah mengantungi surat keterangan miskin, tapi tetap tak mendapatkan tempat di sekolah negeri. Ini karena kuota untuk keluarga tidak mampu yang hanya 5% sudah diisi orang lain. Ia bertekad menemui Walikota karena ia tidak ingin anaknya tak sekolah lagi.

"Anak saya sudah tidak sekolah sejak satu tahun lalu. Masalahnya juga sama, kami tidak ada biaya. Tapi sekarang saya sudah kantongi surat keterangan keluarga miskin tapi tetap tidak bisa bersekolah karena ditolak," ujarnya.

Fani lulus dari SD Negeri Kupang Krajan I, tahun lalu. Dia ingin melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 25. Namun, setibanya di sekolah di kawasan Simo itu, Fani ditolak karena kuota gakin sudah penuh. Pemkot Surabaya membatasi keluarga miskin hanya 5 persen yang bisa masuk ke sekolah negeri.

Suciati datang juga bersama beberapa keluarga yang memiliki permasalahan sama. Ada juga warga luar Surabaya yang lama tinggal di Surabaya. Mereka ingin bertemu langsung dengan wali kota

Upaya para orangtua untuk masuk sekolah negeri bisa dimaklumi. Sebab mereka tak mungkin masuk sekolah swasta karena beayanya tak terjangkau. Meskipun banyak yang sudah mendapatkan BOS, tapi umumnya sekolah swasta mengenakan beaya masuk/uang gedung jutaan rupiah. Tentu saja beaya sebesar itu tak terjangkau kantung mereka.

Selain itu pihak sekolah tidak pernah mengecek kebenaran surat keterangan miskin yang dikeluarkan pihak kelurahan. Tak mengherankan kalau kemudian terjadi mereka yang seharusnya mampu malah mendapatkan sekolah gratis. Sedangkan yang tidak mampu malah tidak mendapatkan pendidikan gratis. Atau malah jangan-jangan pemerintah salah prediksi. Kalau menurut statistik kemiskinan terus turun, tapi di lapangan ternyata penduduk miskin malah bertambah?
Sumber: http://tribunenews.com