Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 23 Juni 2012

RSBI Ajarkan Diskriminasi


Dimanakah letak nilai edukasinya ketika  dalam satu sekolah yang sama, sekelompok siswa diberi fasilitas yang serba lengkap, sementara sekelompok siswa lainnya hanya mendapatkan fasilitas apa adanya?

Kebijaksanaan diskriminatif semacam ini benar-benar terjadi di sekolah yang berlabel RSBI. Karena sekolah-sekolah RSBI, khususnya di Surabaya,  selama ini juga masih membuka program regular.


Ya di sekolah tersebut siswa dengan nilai unas tinggi masuk ke kelas yang berlabel RSBI. Di kelas ini mereka mendapatkan banyak fasilitas yang serba mewah, mulai dari laptop multimedia, laboratorium yang lengkap, ruangan ber-AC, dan guru-guru asing. Pokoknya semuanya serba kelas 1.  Sedangkan mereka yang prestasinya biasa-biasa saja dimasukan kelas regular. Mereka hanya bisa gigit jari karena fasilitas untuk mereka biasa-biasa saja dan bahkan minim.

Konon ini sesuai dengan uang yang harus dikeluarkan oleh orangtua yang anaknya  diterima di kelas RSBI yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah.

Apa yang sebenarnya ada dalam benak para pengambil kebijakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Apakah mereka menganggap diskriminasi hanya ada dalam kasus warna kulit, atau antar ras. Bukankah pembedaan berdasarkan prestasi dan  fasilitas dalam satu sekolah ini juga bisa disebut bibit-bibit diskriminasi?

Kenapa RSBI tidak dikumpulkan dalam satu sekolah saja. Biar tak ada pertunjukan diskriminasi yang mencolok antara kelas RSBI dan regular. Sebab kalau kelas yang berbeda ini dikumpulkan dalam satu sekolah juga tidak memberikan pendidikan yang baik bagi para siswa. Mereka yang masuk ke kelas RSBI jadi sombong, dan bahkan menjadi malas karena dimanjakan kemewahan. Apalagi kalau proses belajarnya hanya di dalam kelas dan tidak ada yang diterjunkan ke masyarakat.

Lalu yang kedua, kenapa sekolah-sekolah diperbolehkan memungut SPP yang tinggi untuk anak-anak yang dianggap berprestasi. Kenapa pemerintah tak berani membebaskan kelas-kelas RSBI ini dari segala pungutan dan memberikan uang transpor dan beaya hidup agar siswa miskin berprestasi bisa menikmati sekolah RSBI?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya dipikir dong jangan asal tulis, untuk menciptakan sebuah suasana yang kondusif, kelas harus di isi dengan HANYA orang-orang berkualitas. Kalau digabung dengala jenis kalangan yang berbeda kemampuan, kualitas akan turun