Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 04 Juni 2012

Rentetan Insiden Bonek dari Tahun ke Tahun

Istilah bonek pertama kali dimunculkan oleh Harian Pagi Jawa Pos tahun 1989 untuk menggambarkan fenomena suporter Persebaya yang berbondong-bondong ke Jakarta dalam jumlah besar. 


Secara tradisional, Bonek adalah suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan away supporters (pendukung sepak bola yang mengiringi tim pujannya bertandang ke kota lain) seperti di Eropa.

Dalam perkembangannya, ternyata away supporters juga diiringi aksi perkelahian dengan suporter tim lawan. Tidak ada yang tahu asal-usul, Bonek menjadi radikal dan anarkis. Pada wal pembentukannya pada tahun 1988, saat 25 ribu Bonek berangkat dari Surabaya ke Jakarta untuk menonton final Persebaya vs Persija tidak ada kerusuhan apapun.

Namun setelah itu kerusuhan demi kerusahan terjadi akibat ulah bonek, mulai dari pelemparan rumah penduduk dari dalam kereta, tawuran antar suproter, penganiayaan fotografer media, perusakan mobil, dsb. Buntutnya di mana-mana bonek dimusuhi. Setiap kali kereta bonek lewat, masyarakat di sekitar rel kereta api melemparinya.

Akibat ulah anarkis ini Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pernah beberapa kali melarang Bonek-untuk mendampingi tim Persebaya saat away selama dua tahun.

Akibat kerusuhan saat Persebaya masih di Divisi Utama 7 Mei 2009 melawan Gresik United, bonek mendapat hukuman dilarang mendampingi Bajul Ijo away hingga Juni 2010.

Hukuman  baru dijalani setengah tahun, bonek sudah dijatuhi hukuman lagi tidak boleh mendampingi tandang away timnya selama 2 tahun yang berlaku efektif sejak 21 Januari 2010. Persebaya juga dijatuhi hukuman denda Rp 29 juta. Keputusan ini diambil setelah salah seorang anggotanya masuk ke lapangan saat Persebaya melawan Pelita Jaya Jakarta pada lanjutan Liga Super Indonesia (ISL) 2009/2010.

Pola seperti ini berulang, masa hukuman belum habis, Bonek sudah membuat ulah dengan melakukan pelemparan terhadap bus Arema Indonesia dan nyanyian rasis pada lanjutan ISL, 16 Januari 2010. Persebaya dijatuhi hukuman percobaan denda Rp250 juta selama satu musim kepada panpel. Persebaya juga diharuskan membayar ganti rugi Rp 5 juta kepada Arema.

Ketika bertanding ke kandang Persib pada (23/1/2010), supporter Persebaya yang masih dalam hukuman nekad datang dan membuat ulah. Hukuman bonek tidak boleh mendampingi Persebaya tandang diperpanjang sampai tahun 2014.  Tak hanya itu, Persebaya pun diwajibkan membayar Rp 50 juta kepada panpel Persib dan denda Rp 200 juta kepada PSSI.

Ada yang menghubungkan semangat bonek mendukung Persebaya seperti semangat Arek-Arek Suroboyo yang melakukan serangan terhadap Inggris yang dibalas dengan serangan bumi hangus tentara Inggris di Surabaya. Hanya saja kalau semangat Arek-Arek Suroboyo pada tahun 1945 tersalur secara positif lewat aktivitas menentang penjajahan, semangat bonek tersalur secara negative lewat tindak anarki.

Insiden berlanjut pada tahun 2012 dengan terjadinya rentetan  insiden yang melibatkan bonek sebagai berikut:

7 Maret 2012 - Sekitar seratus Bonek--julukan suporter Persebaya Surabaya--berunjuk rasa ke kantor TV One biro Jawa Timur di Kompleks Perumahan Jemursari Regency B-1 Surabaya.
Mereka tersinggung dengan ucapan Karni Ilyas saat membawakan program Indonesia Lawyers Club di TVOne Selasa malam. Dalam acara bertema "Mau dibawa kemana PSSI" itu Karni berujar, "Bonek pulang kampung menghancurkan rumah warga dan merampok makanan."

Menurut Koordinator pengunjuk rasa, Siti Nasyiah, kalimat Karni yang disiarkan secara langsung tersebut dapat menimbulkan persepsi salah masyarakat terhadap Bonek.  "Ucapan Karni tidak sesuai dengan fakta di lapangan,'''' kata Ita. ''''Kami juga pernah mengadakan pengobatan gratis dan operasi mata gratis kepada warga tak mampu," ujar perempuan yang akrab disapa  itu

9 Maret 2012 lalu, baru 2 hari setelah mendemo TV One, empat bonek tewas karena terjatuh dari atap kereta api. Mereka tergabung dalam rombongan suporter Persebaya ke Bojonegoro dengan menggunakan kereta api barang pada Jumat (9/3) malam, untuk mendukung klubnya berlaga melawan Persibo pada lanjutan Liga Primer Indonesia (LPI), Sabtu.

Saat kereta api memasuki wilayah Babat, Kabupaten Lamongan, warga sekitar melempari rombongan suporter yang sebagian besar berada dengan batu, sehingga mereka panik dan beberapa jatuh dari atap kereta saat berusaha menghindari lemparan batu. Tragedi itu terjadi karena para bonek tak mengindahkan peringatan petugas kereta agar mereka tidak naik ke atap. Selain empat orang tewas, 14 suporter lainnya dikabarkan luka-luka.

19 Mei 2012 - oknum Bonekmania membuat ulah. Saat merayakan kemenangan atas Negeri Sembilan, 4-1, Sabtu (19/5/2012) malam, ratusan oknum bonek yang melakukan konvoi, merusak sebuah mobil Daihatsu Xenia nopol L 1757 DB, yang melintas di Kebraon II. Bagian depan mobik penyok dan spion pecah akibat dihantam helm dan kayu, oleh ratusan oknum yang melakukan konvoi.

Semangat mendukung timnya yang sering disertai dengan tindak kekerasan, membuat CNN mensejajarkan suporter Surabaya itu dengan supporter hooligan dari inggris. Menurut analisa CNN, Bonek menempati urutan kedua sesudah hooligan dari Inggris dalam hal semangat mendukung timnya.

Sumber :