Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Kamis, 07 Juni 2012

Pemprov Lebay, Pencemar Kali Surabaya Hanya diberi Peringatan

Pemprov Jatim ternyata lebay. Perusahaan yang berkali-kali mencemari Kali Surabaya hanya dikenakan peringatan saja. Padahal sebelumnya Kepala RPH Kedurus yang terbukti mencemari sungai itu dipidana dan dijatuhi hukuman penjara 6 bulan. Tindakan Pemprov diambil menyusul terjadinya pencemaran berat di Kali Surabaya pada 27 Mei lalu yang berdampak PDAM Surabaya kewalahan mengolah menjadi air minum.

Menurut keterangan Soekarwo, dari 20 perusahaan yang diambil sampel air limbahnya, 3 perusahaan terbukti mencemari sungai. Dari ketiga perusahaan itu, Pabrik Gula Gempolkrep Mojokerto dikenai sanksi Surat Peringatan 1 kali dan terancam ditutup saluran IPAL-nya. Sedangkan 2 perusahaan hanya dimaafkan

Berita Terkait:
Industri Cemari Kali Surabaya PDAM Kewalahan
Pemprov Jatim Mandul LSM Bergerak
Gubernur Jatim Minta Polisi Selidiki Pencemaran Kali Surabaya
"Sudah mengerucut dari 3 menjadi 1 perusahaan. Yang 2 masih dalam batas toleransi," kata Soekarwo kepada wartawan usai menghadiri acara Musyawarah Wilayah (Muswil) ke VI MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, di Hotel Mercure Surabaya, Rabu (6/6/2012).

Gubernur Jawa Timur ini mengakui bahwa PG Gempolkrep memiliki track record buruk pengolahan air limbah. Bahkan kali ini, PG Gempolkrep telah membuang limbahnya hingga 10.000 kali pada hari pertama, sedangkan hari kedua dan ketiga membuang limbahnya hingga 5.000 kali.

Akibat pelanggarannya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jatim memberikan sanksi administrasi berupa Surat Peringatan 1.  "Sudah di-SP 1. Kalau melanggar lagi ya SP 2, kalau melanggar lagi ya ditutup," tegasnya.

Soekarwo menerangkan, sanksi berupa penutupan itu hanya berlaku pada saluran instalasi pengelohan air limbah (IPAL)-nya saja bukan menutup perusahaannya.  "Bukan menutup pabriknya, tapi dilarang membuang lagi ke kali. Dia harus memperbaiki IPAL-nya. Itu bocor semua terus disemprot dengan cair," terangnya.

Orang nomor satu di pemerintahan provinsi Jatim ini menegaskan, sanksi pemberian SP 1 hingga penutupan saluran IPAL adalah sudah tegas dan sesuai dengan tata cara administratif. Jika sudah menerima sanksi dan masih melakukan pelanggaran lagi, Soekarwo belum berani membicarakan sanksi selanjutnya.

"Tahap pertama seperti itu (SP 1, SP 2 dan Penutupan IPAL). Nanti tahap selanjutnya dibicarakan lagi," jelasnya.

Untuk diketahui, Kepala Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kedurus, Suharto ditahan polisi. karena limbah dari RPH tersebut diketahui mencemari Kali Surabaya. Tidak hanya Suharto, staf teknik RPH yang beralamat di Jalan Mastrip 245 itu, Susanto juga turut ditahan. Kedua tersangka sudah ditahan sejak 26 Mei 2009 dan akhirnya di pengadilan dijatuhi hukuman 6 bulan,

Peristiwa pembuangan limbah sisa pemotongan hewan ke Kali Surabaya terjadi pada 31 Januari 2009 lalu pada pukul 02.00 WIB. Limbah antara lain berupa sisa pemotongan sapi yakni berupa sisa pencucian jerohan dan sisa darah yang dibuang begitu saja ke Kali Surabaya tanpa melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Tiga Perusahaan Dibidik Polwiltabes
Sementara saat ini Polwiltabes Surabaya menyelidiki tiga perusahaan karena diduga membuang limbah ke Kali Tengah.

"Sampel dari masing-masing perusahaan itu sudah kami ambil dan sedang dilakukan penelitian," ujar Kanit Idik IV Satreskrim Polwiltabes Surabaya, AKP Slamet Hariyanto kepada wartawan di Mapolwiltabes, Kamis (6/8).

Ketiga perusahaan itu, kata Slamet, adalah PT Sinar Sosro (SS) di Jalan Cangkir-Driyorejo, PT Gloria Biskuit (GB) di Jalan Kelud-Bambe-Driyorejo dan PT Unimos di kawasan Driyorejo.

Dari masing-masing perusahaan itu, lanjut Slamet, sudah diambil sampel penelitiannya. Dari PT SS diambil 1 ember sludge lumpur, 2 jerigen limbah yang ada di saluran drainase dan selang air. Dari PT GB diambil sampel 1 ember limbah yang dihasilkan perusahaan biskuit itu. Dan dari PT Unimos diambil sampel 2 jerigen limbah. "Limbah-limbah itu akan diteliti di laboratorium PT Jasa Tirta," tambah Slamet.

Menurut Slamet berdasarkan laporan yang ada, perusahaan-perusahaan itu membuang limbahnya langsung ke sungai tanpa melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Itu dilakukan dini hari hingga subuh.

Dalam kasus ini polisi tidak berjalan sendiri. Selain polisi, penyelidikan kasus ini juga melibatkan PT Jasa Tirta, Bapedal, LSM lingkungan dan Badan Pengawas Lingkungan Hidup (BPLH). “Kita tidak berjalan sendiri untuk melakukan penyelidikan kasus ini, kita juga melibatkan melibatkan PT Jasa Tirta, Bapedal, LSM lingkungan dan Badan Pengawas Lingkungan Hidup (BPLH),” pungkasnya.
Sumber :
surabaya.detik.com
surabayapagi.com