Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 27 Juni 2012

Aneh bin Ajaib, Ada Perusahaan Berlakukan Shalat Jumat Bergilir


Di Surabaya ternyata masih ada perusahaan yang tak memahami arti ibadah shalat bagi para buruhnya yang sebagian besar beragama Islam. Perusahaan tersebut, PT. Hasil Fastindo, memberlakukan aturan unik, berupa shalat Jumat bergiliran. Kalau minggu ini sudah dapat giliran shalat Jumat, minggu depan tidak boleh shalat Jumat lagi.

Dalam menerapkan aturan tersebut perusahaan tak main-main. Sekitar 22 pekerja yang melanggar aturan tersebut diberhentikan. Hal itulah yang kemudian memicu aksi unjuk rasa puluhan karyawan dan eks karyawan ke DPRD Surabaya.

“Selama 38 tahun bekerja, memang tidak ada peraturan perusahaan tentang waktu istirahat untuk mengikuti shalat Jumat," ujar salah satu karyawan PT Hasil Fastindo yang juga koordinator aksi, Mahfud Zakaria di lokasi unjuk rasa  Selasa (26/6).

Tapi kemudian muncul aturaan yang aneh yang menyakitkan hati para pekerja perusahaan tersebut. "Perusahaan memberlakukan pelaksanaan shalat Jumat bergilir. Dari 31 karyawan dibagi menjadi 3 kelompok bergilir untuk mengikuti shalat Jumat. Kalau pekan ini shalat Jumat, 2 pekan kemudian tidak diperkenankan mengikuti shalat Jumat," tuturnya.

Para pekerja pernah menanyakan ke perusahaan terkait dengan PHK tersebut. Karena tidak ada jawaban yang memuaskan, pekerja menggelar aksi pada pertengah Maret lalu. Lagi-lagi aksinya tidak mendapatkan respon positif dari perusahaan. Bahkan pekerja yang ikut demo pun juga terkena imbasnya di-PHK.

Dia menambahkan aksi yang digelar Maret lalu, membuat jumlah pekerja di PHK semakin bertambah. Pihak DPRD Kota Surabaya pun belum berhasil mengambil jalan tengah dalam menyelesaikan kasus ini.

Dalam aksinya, 5 pekerja dari perwakilan massa saat ini ditemui oleh seorang anggota dewan. Massa tetap meminta Komisi A dan Komisi D, untuk mendukung pekerja untuk mendapat kebebasan berserikat dan kebebasan beribadah. "Kebebasan berserikat dan kebebasan beribadah adalah harga mati yang sudah tidak bisa ditawar lagi," jelas Mahfud.

Dalam aksinya, massa juga meneriakkan yel-yel supaya 22 pekerja yang di-PHK secara sepihak, dapat dipekerjakan kembali ke posisi semula. Mereka juga meminta dewan untuk mencabut surat PHK terhadap karyawan yang di-PHK karena melakukan aksi serupa.

Selain berorasi, massa juga membawa beberapa spanduk dan poster yang diantaranya bertuliskan 'Bekerja itu wajib, shalat Jumat lebih wajib', 'Shalat Jumat kok digilir, aneh-aneh wae', 'Hak berserikat 100 persen', 'Shalat Jumat harga mati'.

sumber:
dutaonline.com