Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 18 Mei 2012

Susahnya Hidupkan Kembali “Mlaku-Mlaku NangTunjungan”


flickr.com
Dalam lagunya “Rek Oyo Rek, Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan” Mus Mulyadi menggambarkan Jl. Tunjungan sebagai kawasan rekreasi untuk warga kota. Namun kawasan Jl. Tunjungan sekarang terlihat sepi, Tak tampak lagi orang-orang jalan kaki di trotoar Jl. Tunjungan. Lebih-lebih setelah pertokoan Siola yang lama tutup. Beberapa kali upaya menghidupkan kembali kawasan ini tak berhasil.

Sejak sebelum kemerdekaan, kawasan Jl. Tunjungan merupakan salah satu pusat keramaian kota dengan hadirnya pusat perbelanjaan Siola. Kawasan ini semakin ramai dengan dibangunnya Tunjungan Centre yang menjadi pusat penjualan video game dan VCD bajakan. Ditambah lagi dengan hadirnya toko-toko elektronika di sekitarnya. Ciri-ciri yang menonjol saat itu, banyaknya orang-orang yang lalu-lalang di trotoar Siola yang atasnya pakai atap.

Namun pada akhir tahun 1998 Siola tutup karena merugi. Menjelang tutupnya pertokoan Siola yang lama, sebenarnya Jl. Tunjungan sudah mulai sepi. Ini karena di mana-mana mulai muncul plaza baru. Satu-satunya yang mampu mendongkrak keramaian Jl. Tunjungan, penjualan game dan VCD bajakan di Tunjungan Centre dan kaki lima di trotoar Siola. Tapi karena terus dirazia, penjualan VCD bajakan itu pun akhirnya hilang. Dan pelahan tapi pasti kawasan Jl. Siola jadi  sepi.  Bahkan ketika  pertokoan Siola diteruskan Ramayana setahun sesudah Siola lama tutup..

Biarpun sekarang sudah ada plaza baru yang menjadi pusat penjualan elektronik dan pusat game di samping Siola, keramaian Jl. Tunjungan tetap tak bisa dipulihkan. Pusat keramaian pun berpindah Jl. Basuki Rakhmad – Jl. Embong Malang, dekat Jl. Tunjungan,  yang dipicu dengan kehadiran Tunjungan Plaza 1 – 4. Tampaknya munculnya pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat penjualan elektronika baru di seluruh penjuru kota, menjadikan kawasan Jl. Tunjungan sulit sekali dihidupkan.

Bahkan upaya  PT Tunjungan City Hopefull (TCH) untuk menghidupkan kembali Siola pada Juni 2011 lalu belum ada tanda-tanda membawa hasil. Kawasan Jl. Tunjungan memang selalu ramai dengan lalu-lalangnya kendaraan bermotor, tapi masih tetap sepi dari aktivitas belanja warga kota.

Perusahaan yang masuk dalam Maspion grup itu mengaku rugi besar karena setelah perjanjian sewa dengan Pemkot dilakukan, eks-Siola sulit dihidupkan kembali. Selain masih sepi pengunjung, masa sewa gedung itu dibatasi Pemkot maksimal 5 tahun. Sementara, para tenan Siola inginnya minta masa sewa gedung sampai 10 tahun.

Salim, salah satu menajer di PT TCH saat di DPRD Surabaya mengatakan, bangunan yang disewa PT TCH luasnya 8.338 meter persegi dan di atas tanah seluas 2.199 meter persegi. Sedangkan tentang harga sewanya adalah sebesar Rp 11.000 per meter persegi setiap bulannya

Harga sewanya memang murah karena saat perjanjian sewa dimulai keadaan bangunan kurang layak pakai. Selain itu, usianya sudah 133 tahun dan rawan roboh. Bila kondisi bangunan seperti itu dipakai memerlukan biaya renovasi yang besar pula. “Kami sudah merenovasinya dengan biaya yang cukup besar juga, karena biaya renovasinya miliaran rupiah juga,” ungkapnya.

Selain menyewa Siola PT TCH juga menyewa Tunjungan Centre (TC) dengan nilai sewa Rp 22.000 per meter persegi  dalam sebulan atau harga per tahunnya sebesar Rp 1,674 miliar untuk tahun pertama.

Terkait dengan luas TC yang disewa, katanya, luasnya hanya 6.480 meter persegi dan berada di lantai I, II dan III di gedung TC Jl. Tunjungan Nomor 3. Kontrak atau sewa lahan termasuk fasilitas parkir di lantai V, VI, VII dan VIII. Sewa itu tidak termasuk tempat hiburan Delux yang ada di lantai IV, karena Delux kontrak langsung dengan Pemkot Surabaya.

Terkait dengan masa sewa, PT TCH tengah mengajukan perubahan perjanjian (adendum) dengan pemerintah kota (Pemkot) Surabaya. Perubahan yang diminta terkait dengan jangka waktu sewa dan biaya sewanya. Jangka waktu sewa semula 5 tahun diminta untuk diperpanjang menjadi 10 tahun. Sedangkan biaya sewa yang semula Rp 1,67 miliar untuk lima lantai diharapkan bisa turun karena lantai yang disewa hanya tiga lantai.

dewey.petra.ac.id
Gedung Siola pertama kali didirikan pada 1877 oleh seorang pemodal asing asal Inggris, Robert Laidlaw. Bantuk bangunan awalnya tidak seperti yang tampak sekarang. Bangunan yang asli berarsitektur awal tahun 1900an. Sejak berdiri bangunan ini sudah difungsikan sebagai pertokoan. Toko Siola sudah lebih dulu ada jauh sebelum toko Nam (di pojok Basuki Rachmat-Embong Malang sebelah utara Hotel Tunjungan sekarang, Red.) lahir tahun 1900-an.

Ketika pengusaha Inggris itu membeli sebidang tanah di pojok jalan Jl Tunjungan dan Gentengkali untuk pembangunan Siola, Tunjungan masih berada di bagian selatan kota. Namun pasca pembongkaran tembok benteng kota 1880, Tunjungan berkembang pesat, menjadi sentra perdagangan baru di selatan.

Saat itu Surabaya dikenal sebagai pusat perdagangan tersibuk di Hindia Belanda dan bisa disejajarkan dengan Singapura. Penduduknya juga lebih besar ketimbang Batavia sehingga pusat grosir ini menjadi pelengkap di kota dagang sesibuk Surabaya.

Pasca revolusi, gedung ini mangkrak bahkan hingga 15 tahun lamanya. Saat nasionalisasi aset-aset asing pada 1950, gedung ini direbut pemkot Surabaya. Sampai akhir 1950an ada lima pengusaha Surabaya berniat menghidupkan kejayaan gedung ritel terkenal itu.

Mereka adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang. Keempatnya kemudian membangun kongsi dagang dengan membuka toko ritel besar. Toko itu dinamakan SIOLA yang merupakan gabungan huruf depan kelima nama pengusaha tersebut yang masing-masing pemilik modal. Tahun 1960-an SIOLA menjadi toko ritel terbesar di Surabaya. Namun tidak lagi terbesar se-Indonesia.
Sumber:

Tidak ada komentar: