Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 22 April 2012

Sunan Ampel Pernah Berguru di Taman Bungkul


Jika anda ingin refreshing bersama keluarga tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, mungkin Taman Bungkul bisa menjadi pilihan. Selain memanjakan anak-anak dengan berbagai permainan, anda bisa mengenalkan mereka dengan sejarah makam Mbah Bungkul yang ada di komplek itu.

Taman Bungkul  dirancang dengan konsep sport, education, dan entertainment. Taman seluas 900 m2 itu dilengkapi berbagai fasilitas, seperti taman bermain anak,  skateboard & sepeda BMX track, jogging track, plaza (sebuah open stage yang bisa digunakan untuk live performance berbagai jenis entertainment), akses internet nirkabel (Wi-Fi atau Hotspot), telepon umum, arena green park seperti kolam air mancur, dan area pujasera.


Tak mengherankan Taman Bungkul juga sering dijadikan tempat mangkalnya klub-klub penggemar skateboard atau atraksi sepeda BMX. Selain itu Banyak klub-klub sepeda  sehat yang secara rutin melakukan perjalanan bersepeda keliling kota dengan mengambil start di taman ini.

Dengan adanya berbagai pohon besar dan rimbun, Taman Bungkul bisa memberikan suasana segar dan sejuk bagi warga kota yang biasa bersimbah keringat karena panasnya hawa kota Surabaya. Taman ini berada di jalan protokol yakni di Jl. Raya Darmo

Di komplek Taman Bungkul ini juga terdapat Makam Mbah Bungkul yang  menjadi obyek wisata ziarah. Menjelang 1 Muharram atau Ramadan, kawasan Taman Bungkul  selalu ramai dikunjungi  orang dari berbagai penjuru. Selain pengunjung lokal, tidak sedikit pelancong mancanegara yang datang ke tempat bersejarah tersebut.

Selain pengunjung perorangan, tidak sedikit mereka datang berombongan dengan menumpang bis dari berbagai daerah. Umumnya, peziarah melakukan ziarah ke Makam Mbah Bungkul satu paket dengan sejumlah makam wali yang tersebar di Jawa Timur serta lokasi lainnya di luar Provinsi Jawa Timur.

Para peziarah meyakini Mbah Bungkul adalah sosok kharismatik yang membantu perjuangan Raden Rahmat menyebarkan Islam di Jawa Timur khususnya. "Saya mendapat pemahaman dari kiai saya, Mbah atau Sunan Bungkul ini guru sekaligus tokoh spiritualnya Raden Rahmat sebelum menjadi Sunan Ampel," kata Muhammad Khuzaini warga Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur yang saat itu berziarah bersama keluarganya.

Tetapi siapakah sebenarnya Mbah Bungkul? Ada catatan mengisahkan,  700 tahun silam sebelum bernama Surabaya, tempat ini dikenal dengan sebutan 'Pertapaan Mbah Bungkul'.

Konon, Raden Rahmat atau Rahmatullah (kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel) diyakini pernah singgah di tempat ini setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan naik perahu dari Trowulan, Majapahit (sekarang Mojokerto, Jatim). menuju ke kawasan Ampel (kawasan Surabaya Utara).

Dalam catatan ahli sejarah Belanda bernama GH Von Faber, di sebuah bukunya berjudul Oud Soerabaia  , saat jaman kolonial Mbah Bungkul sengaja tidak dikenalkan jati diri sebenarnya. Entah apa maksudnya, yang jelas dalam buku itu tertulis, orang akan diganjar hukuman dan akan celaka atau (bahasa Jawanya kualat), jika mencoba menelisik siapa sebenarnya Mbah Bungkul.
           
Ada yang menyebut sosoknya sebagai lelaki keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Kerajaan Majapahit. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Raden Rahmat? Berikut penelusuran berhari-hari yang dilakukan VIVAnews.

Ada yang menyebut, Bungkul sebagai Ki Ageng Supo. Ada juga yang mengatakan Mpu Supo, sebutan orang tersohor yang memiliki kelebihan di zamannya. Setelah memeluk Islam, berganti sebutan menjadi Ki Ageng Mahmuddin.

Karena lama berada di kawasan Bungkul, ia kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul. Sebutan itu melekat saat pertemuannya dengan Raden Rahmat. Dari cerita beberapa sumber, Rahmat kemudian lama ikut ngawulo atau menetap di kawasan Bungkul yang saat itu masih berupa hutan belantara.

Ada juga yang meyakini, Bungkul adalah orang terkenal di akhir kebesaran Kerajaan Majapahit di abad XV. Tidak ada yang tahu atau literatur yang menyebut kenapa orang ini meninggalkan kerajaan dan mengembara hingga ke daerah yang kemudian bernama Surabaya ini. Dipastikan, perjuangannya ikut membantu Raden Rahmat dalam syiar Islam di tanah Jawa membuat nama Bungkul semakin berkibar.

Namanya disejajarkan dengan tokoh perjuangan Islam tingkat lokal seperti Syeh Abdul Muhyi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sunan Geseng di Magelang, Sunan Tembayat di Klaten, Ki Ageng Gribig di Klaten, Sunan Panggung di Tegal, Jawa Tengah, dan Sunan Prapen di Gresik, Jawa Timur serta wali-wali lokal lainnya di Nusantara.
Cerita lain, menyebutkan 'sumur tua' yang diapit pohon sawo kecik dan beringin itu dibuat keduanya (Mbah Bungkul dan Raden Rahmat) dalam semalam. Konon, saat akan mengambil air wudhu untuk sholat malam, Raden Rahmat tidak menjumpai air. Kemudian, sesaat setelah bermunajad, ia mengajak Mbah Bungkul untuk menggali tanah. Dalam sekejap galian itu sudah mengeluarkan air yang sangat bening dan sejuk. "Saya mendapat cerita itu dari lelaki warga Surabaya bernama Mbah Seto yang tinggal di Kembang Kuning," kata Kartiman (62), warga Sumenep, Madura yang merantau ke Surabaya sejak berumur 17 tahun.

Sejak itu, keberadaan sumur dan dua tokoh itu menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk datang dan menetap di tempat Mbah Bungkul. Mereka 'belajar' apa saja dan selalu minta pertimbangan dari keduanya hingga akhir hayat.

Tidak sulit menemukan petilasan Mbah Bungkul. Setelah berada di kawasan Wonokromo atau yang dikenal dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), jika datang dari selatan Surabaya, bisa berjalan ke utara menuju Jl Raya Darmo pasti akan mendapati Taman Bungkul.

Atau, jika dari utara dan telah berada di Dermaga Ujung, Tanjung Perak, bisa melanjutkan ke tengah kota dan menuju Jl Raya Darmo. Dan, jika masuk dari arah barat atau Gresik, juga langsung saja mencari arah ke Jl Raya Darmo yang berada di tengah kota Surabaya.

Sesampai di lokasi ini, umumnya pengunjung melakukan sholat di surau kecil yang dulu dibangun Mbah Bungkul bersama Raden Rahmat. Kemudian, bisa dilanjutkan berziarah di makam Mbah Bungkul dan sejumlah pengikutnya yang terhampar di satu lokasi berdekatan.

Usai berziarah, pengunjung bisa menikmati satu lagi keajaiban yang hingga saat ini masih terjaga, yakni menikmati air sumur buatan Mbah Bungkul dan Raden Rahmat untuk diminum. "Seperti peziarah lainnya, saya yang beberapa kali datang ke tempat ini selalu mengambil air sumur untuk diminum. Selebihnya, saya bawa pulang dengan botol plastik," tutur Khuzaini kepada VIVAnews.
Sumber: http://www.surabaya.go.id/wisata/index.php?id=22, http://nasional.vivanews.com/news/read/175052-air-bertuah-di-makam-sunan-bungkul