Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 22 April 2012

Bertanam Sayuran dengan Pot Kaleng Bekas









Menanam sayur di kota dan di lahan sempit? Kenapa tidak. Kasiono dari Tandes membuktikan bahwa itu bisa dilakukan dan bisa memberikan penghasilan yang lumayan. Di kawasan Tandes di atas lahan seluas 700 m2, ia menanam seledri, bawang daun, cabai, sawi, dan tomat. Total jenderal ia menanam 30 sayuran berteknologi vertikultur. (pot bersusun).

Kasiono bertanam sayur-sayuran itu dengan  sistem vertikultur atau pot bertingkat. Dan untuk itu ia tak menggunakan pot baru yang bagus, tapi cukup dengan menggunakan kaleng-kaleng bekas. Selain mengurangi tumpukan sampah, hal ini bisa membantu menghemat ongkos tanam karena tak perlu membeli pot atau bambu sebagai tempat menanam.


Kaleng yang digunakan Kasino untuk bertanam berukuran 5 kg sebagai bahan vertikultur alias budidaya tanaman sistem bertingkat. Tak mengherankan kalau di sudut kebunnya yang  seluas 700 m2, kaleng-kaleng bekas menggunung. Tapi  200 m dari tumpukan kaleng  tampak panorama hijau segar. Sepuluh kaleng disusun vertikal setinggi 2 m dan diperkuat dengan bambu. Seledri tumbuh subur di setiap ‘lubang tanam’ pada  kaleng.

Gagasan membikin vertikultur kaleng itu muncul lantaran Kasino dan seorang temannya, Dadang Permadi prihatin sektor agribisnis kurang diminati. ‘Perlu inovasi dan menciptakan teknologi baru dalam bercocok tanam agar pertanian kembali dilirik,’ kata Kasino. Oleh karena itu sejak awal 2007 keduanya merancang vertikultur di lahan 700 m2. Yang  semula hanya ditumbuhi semak belukar.

Mula-mula Kasino mencari kaleng cat bekas tempat  es krim berdiameter 15 cm. Lalu  pria kelahiran 14 Oktober 1957 itu memasukan dalam kaleng campuran sekam mentah, serbuk gergaji, dan kompos, serta tanah sebagai media tanam sayuran. Kasino menyebut tiga media pertama sebagai otek alias organik tepat guna. Perbandingannya 1:1:1:1.
            
Untuk komoditas umbi-umbian ia memanfaatkan campuran otek, sekam bakar, dan sekam mentah dengan perbandingan 1:1:1. Khusus untuk padi, ia memilih sekam mentah, serbuk gergaji, dan kompos untuk media tanam 20 kg/m2
            
Vertikultur memang bukan hal baru di tanah air. Sejak 1990-an teknologi budidaya itu sudah diterapkan. Umumnya pekebun menggunakan bambu,  polietilenchlorida (PVC),  dan pot. Namun, Kasino justru memanfaatkan barang bekas.
            
Dengan sistem budidaya vertikal, sangat memungkinkan untuk melakukan intensifikasi. Bayangkan, di sebuah kaleng Kasino dapat membuat 45 lubang tanam. Lalu pada  luasan 1 m2 ia membuat 4 susun vertikultur dan satu susun terdiri atas 10 kaleng. Oleh karena itu jumlah lubang tanam dalam 4 susun mencapai 1.800 buah.
          
Dari 4 susun vertikultur di lahan 1 m2, ia memetik rata-rata 20 kg seledri. Sekilo seledri terdiri atas 4 rumpun tanaman yang masing-masing terdiri atas 10 tangkai. Di pasaran harga 3 tangkai seledri Rp1.000, sehingga Kasino memperoleh minimal Rp 266.000.
            
Bandingkan dengan produktivitas seledri yang dibudidayakan secara konvensional.
Menurut Husin Kusnadi, pekebun sayuran di Bandung, produktivitas seledri rata-rata 8 kg per m2. Dengan harga jual Rp4.000 per kg, pendapatannya hanya Rp32.000. Artinya, produktivitas seledri vertikultur lebih tinggi daripada seledri konvensional.
            
Menurut Dr Agus Suryanto, ahli budidaya tanaman Universitas Brawijaya Malang, vertikultur berproduksi tinggi amat wajar sepanjang  pasokan nutrisi terpenuhi. Sumber hara di kaleng bekas itu amat terbatas. Oleh karena itu pekebun vertikultur harus menambahkan pupuk untuk mencukupi kebutuhan unsur hara bagi tanaman. Dengan penambahan pupuk itulah produktivitas sayuran vertikultur tetap tinggi.
            
Selain menghemat lahan, metode itu juga minim perawatan. Untuk penyiraman, cukup memutar kran. Campuran air dan nutrisi di tandon yang posisinya lebih tinggi daripada susunan vertikultur mengalir ke pot teratas. Kasino menutup permukaan atas setiap pot tertinggi dan membuat puluhan lubang berdiameter 2 mm. Larutan nutrisi mengalir ke pot di bawahnya, begitu seterusnya hingga pot paling dasar. Dalam sehari larutan nutrisi diberikan 3 kali, sebanyak 2,5 l. ‘Dengan cara ini bisa menghemat air yang terbuang sampai 100 kali lipat,’ tambah Kasino.
            
Nutrisi pertumbuhan terbuat dari gula dan unsur-unsur lain yang difermentasi selama sepekan. Kasino memasukkan campuran 1 liter nutrisi ke dalam 20 liter air. Cairan itu berfungsi sebagai sumber unsur hara yang diperlukan tanaman untuk tumbuh. Hasilnya, pertumbuhan lebih cepat, panen lebih cepat, dan produksi meningkat.  Walau dalam 1 kaleng ditanami puluhan tanaman, tidak akan terjadi kompetisi, karena unsur hara yang diperlukan sangat melimpah.
            
Kasino menuturkan biaya produksi untuk membuat satu rangkaian vertikultur terdiri atas 10 pot hanya Rp30.000. Biaya lainnya hanya untuk perawatan. ‘Tidak sampai Rp 5.000 per kaleng,  karena semua peralatan dan media tanam bisa digunakan lagi,’ kata Dadang. Media tanam bisa digunakan sampai 3 kali penanaman. Namun, menurut Sunandi Kertawijaya, pekebun vertikultur di Bandung, Jawa Barat, budidaya bertingkat lebih mahal. ‘Semua alat kan harus dibeli, termasuk nutrisi untuk tanaman. Budidaya konvensional, semuanya sudah tersedia di tanah,’ ujar Sunandi.
            
Keuntungan lain? Pekebun dapat mengatur waktu panen. Padi misalnya, jika di sawah hanya 2 kali panen dalam setahun, dengan vertikultur bisa diatur sampai 5 kali panen. Dengan kelebihan itu wajar jika Kasino dan Dadang berencana melebarkan lagi kebunnya.