Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Kamis, 16 Juni 2011

Erosi Moral di Kalangan Pengajar


                                                                Jadi guru negeri sekarang memang enak. Jam kerjanya hanya sampai  pukul 12.00 kalau berangkat pagi dan pulang jam 17.00 kalau masuk siang. Bandingkan dengan jam kerja orang-orang swasta yang masuk kerja  pagi pulangnya sore hari. Tapi yang namanya penghasilan guru setiap tahun dipastikan naik dan kalau sudah pensiun mendapatkan tunjangan hari tua. Belum lagi rapelan puluhan juta bagi guru yang lulus sertifikasi setiap enam bulan sekali. Sedangkan untuk pegawai swasta banyak yang sudah bertahun-tahun kerja gajinya mentok pada angka UMR bahkan banyak yang masih di bawahnya.

Maka cerita tentang Guru Oemar Bakri yang sengsara seperti yang pernah didendangkan oleh Iwan Fals tinggal kenangan. Moto Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun sudah usang. Namun cerita tentang erosi moral di kalangan guru masih terus beredar. Yang terbaru mungkin seperti yang terjadi pada kasus instruksi Kepala Sekolah dan dua staf pengajar guru SDN Gadel untuk contek massal dalam ujian akhir anak-anak kelas 6 di sekolahnya. Mereka akhirnya mendapatkan sanksi tegas dari Pemkot Surabaya.

Namun di luar itu masih sering terdengar kalangan pendidik yang memanfaarkan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Misalnya dengan menggandeng penerbit menjual buku-buku pelajaran untuk murid-muridnya. Banyak juga yang bekerja sama dengan pengusaha untuk menjual peralatan sekolah atau barang-barang lainnya di sekolah.

Modus lainnya adalah membuka les-lesan untuk murid. Ada yang masih dalam batas wajar dengan hanya memungut beaya Rp 15.000/bulan tapi ada juga yang sampai Rp 200.000. Alasannya sekarang ini kursus bimbel sangat mahal. Sebuah lembaga kursus yang kualitasnya biasa-biasa saja berani memungut beaya sampai Rp 900.000/bulan untuk murid SD dengan pertemuan 2 kali  seminggu. Beaya ini lebih tinggi daripada beaya kuliah di Unitomo yang hanya Rp 350.000/bulan. Dengan adanya beaya kursus yang gila-gilaan ini, guru bisa berdalih beaya les Rp 200.000/bulan itu masih terbilang murah.

Namun yang mengkhawatirkan bila kemudian guru melakukan tindakan diskriminatif antara murid yang mengambil les dan tidak. Bagi mereka yang ikut les, akan mendapatkan bonus nilai bagus di rapornya, sedangkan bagi yang tidak ikut les mungkin guru akan sangat pelit memberikan nilai. Kalau guru sudah berani memungut beaya les yang begitu tinggi, tampaknya sangat masuk akal kalau ia berani pula melakukan tindakan diskriminatif. Dan hal seperti ini memang sudah banyak dikeluhkan.

Ada juga sejumlah sekolahan yang sangat berambisi untuk mengeruk dana besar dengan mengajukan diri sebagai Sekolah Berstandar Internasional. Dengan status ini, mereka bisa memungut SPP sangat tinggi. Selain itu ada juga sekolahan SMAN yang membuka kursus untuk sejumlah ketrampilan dengan memungut uang tambahan yang bahkan lebih tinggi dari SPP. Alasannya supaya setelah lulus anak didiknya tak kesulitan mendapatkan kerja. Kiranya perlu ditelusuri kenapa para pendidik masih berusaha mengeruk dana-dana yang besar yang mungkin tak bisa dijangkau para wali murid.  Sebab jangan-jangan ini akan dijadikan tumpuan baru untuk mendapatkan keuntungan pribadi setelah mereka tak bisa bermain dengan uang pendaftaran, uang gedung ataupun jual beli bangku.







Tidak ada komentar: