Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 25 Desember 2010

PDAM Tak Profesional

Meski usianya sudah cukup tua, tapi PDAM Surabaya ternyata masih belum menunjukan profesionalisme yang tinggi. Contohnya cukup banyak. Mulai dari tagihan yang dibuat secara asal-asalan, air tidak keluar atau tidak lancar, sampai masih banyaknya kawasan yang belum tejangkau jaringan pipa PDAM.

Tagihan yang dibuat asal-asalan misalnya saja terjadi di kawasan Kalilom Lor Indah yang baru saja mendapatkan pasokan air bersih bantuan dari Bank Dunia. Banyak warga di daerah ini yang mengeluh karena terkena lonjakan tagihan. Misalnya saja, tagihan bulanan yang biasanya hanya berkisar antara Rp 10.000-20.000, tiba-tiba saja melonjak menjadi Rp 75.000, bahkan sampai Rp 200.000.

Terjadinya lonjakan tagihan jelas bukan karena lonjakan pemakaian air tapi semata-mata karena tidak profesionalnya manajemen penagihan PDAM. Seorang warga yang pemakaian airnya rata-rata hanya 10 m3 dengan jalan di depan rumah selebar 2 meter biasanya terkena tagihan bulanan sekitar Rp 20.000. Tapi pernah walaupun pemakaian airnya tetap tapi hanya dikenakan tagihan sekitar Rp 11.000 saja. Tapi bulan berikutnya tagihan langsung melonjak menjadi di atas Rp 30.000.

Ketika terkena tagihan Rp 11.000,dalam surat tagihan pemakaian air tercantum 0 m3. Padahal dalam catatan jumlah pemakaian yang diberikan oleh petugas pencatat meteran jelas tercantum 10 m3. Sehingga pelanggan hanya membayar sewa meteran dan iuran kebersihan saja. Tapi pada bulan berikutnya dikenakan tagihan dobel untuk pemakaian air dua bulan.

Dalam hal ini jelas ada ketidaksingkronan antara data yang ada di bagian penagihan dengan yang telah dicatat oleh petugas pencatat meteran. Kesimpulannya bagian penagihan menetapkan jumlah tagihan bukan berdasarkan data dari petugas pencatat meteran tapi hanya berdasarkan perkiraan saja. Lalu dikemanakan hasil pencatatan meteran petugas lapangan?

Kasus lainnya, ada pelanggan yang biasanya tiap bulan terkena tagihan Rp 10.000, tiba-tiba saja pada bulan yang kesekian tagihannya melonjak menjadi Rp 75.000 atau bahkan ada yang mencapai Rp 200.000. Diduga hal ini juga disebabkan data dari pencatat meteran tidak digunakan (atau tidak sampai?) di bagian penagihan.

Ketika ditanyakan pada petugas penagihan, kalau ada kasus seperti ini, mereka bilang tak tahu menahu karena mereka hanya melakukan penagihan. Pelanggan dipersilahkan menghubungi ke kantor PDAM Pusat. Tentu jawaban seperti ini menunjukan ketidakprofesionalan PDAM. Mestinya para petugas penagihan, juga ditugasi mencatat keluhan pelanggan, sehingga pelanggan tak perlu lagi repot-repot datang ke kantor PDAM untuk mengadu.

Tidak ada komentar: