Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 16 Januari 2011

Studi Dephub : Tol Tengah Kota Ganggu Jalan Lingkar


Pemkot Surabaya sudah bertekad menghapus rencana pembangunan tol tengah kota. Sebab, proyek tersebut diangap justru akan menimbulkan berbagai masalah baru. Studi Departemen Perhubungan menyatakan,  dengan adanya jalan tol tengah kota fungsi jalan lingkar barat dan timur akan terganggu. Sebagai ganti, pemkot menyeriusi pembangunan jalan lingkar timur dan barat.
AWAL bulan lalu Wali Kota Bambang D.H. mengeluarkan statemen bahwa pemkot sedang mengajukan penghapusan rencana pembangunan tol tengah kota kepada pemerintah pusat. Wali kota beralasan bahwa proyek tersebut tidak visible lagi dengan perkembangan tata ruang Kota Surabaya. Saat ini proses pengajuan itu dalam tahap pengkajian antara pemkot bersama pemprov.

Namun, rencana pemkot ini belum mendapat dukungan pemprov. Gubernur Jatim Soerkarwo pada 17 Agustus lalu mengatakan bahwa proyek tersebut masih masuk dalam RTRW (rencana tata ruang wilayah) provinsi. Pemprov menilai keberadaan proyek tol di tengah kota sepanjang 25 kilometer itu masih urgen untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kota ini.

Menurut dia, kemacetan yang terjadi di Surabaya sudah memasuki tahap kritis. Tol di tengah kota dinilai sebagai jalur alternatif untuk mengatasi kemacetan.

Ada dua cara pembangunan jalan itu. Yakni, model subway (terowongan) atau elevated (layang). "Tinggal memilih dua model itu," ujarnya. Bila subway menjadi pilihan, nilai investasinya amat mahal daripada elevated.

Namun, alasan apa yang membuat pemkot ngotot menghapus proyek itu? Plt Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Hendro Gunawan mengatakan, sebagai pintu masuk Kota Surabaya, Jalan Ahmad Yani menjadi tumpuan para pengendara yang melewati jalan itu. Sebab, struktur jaringan jalan Surabaya belum terbentuk semua.

Hal itulah yang dulu menjadi alasan pembangunan tol tengah kota. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pembangunan frontage road mengalami progress yang cukup menggembirakan. Secara garis besar, frontage sisi timur telah mencapai sekitar 70 persen. Untuk sisi barat, proses pembebasan lahan juga telah dimulai.

Melihat perkembangan itu, pemkot merasa bahwa pembangunan tol tengah kota tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, solusi yang cocok untuk mengurai kemacetan di kota ini adalah dengan menyiapkan jaringan jalan di sisi timur dan barat kota.

Menurut dia, ada berbagai pertimbangan mengapa tol tengah kota tak lagi sesuai dengan tata ruang Surabaya. Sebagaimana diketahui, proyek sepanjang 25 kilometer itu bakal dimulai dari Aloha -bundaran Waru- menuju Ahmad Yani. Nah, di Ahmad Yani, proyek itu bakal dibangun di median jalan. Artinya, pembangunan jalan itu bakal menggusur ruang terbuka hijau (RTH) di sepanjang jalan itu.

Kemudian, sampai di depan RSAL, jalan itu dibelokkan ke kanan menuju arah timur. Tepatnya, mengikuti rel kereta api, lurus menuju Gubeng. Proyek itu berlanjut hingga Sidotopo -menuju Ampel- hingga turun menuju Jalan Jakarta (sekitar Perak). Tujuan pembangunan proyek itu untuk memudahkan pengendara yang masuk Surabaya menuju Suramadu atau Tanjung Perak.

Pemkot merasa proyek tersebut sudah tak sesuai dengan perkembangan terkini. Alasannya, pertama, studi Surabaya Integrated Transportation Network Planning (SITNP) yang diadakan Departemen Perhubungan (Dephub) menyebutkan, keberadaan tol tengah kota membuat jaringan jalan timur dan barat terputus. "Surabaya terbelah menjadi dua. Hanya tercipta jaringan jalan utara dan selatan," papar Hendro.

Kedua, keberadaan tol tengah menuntut dibangunnya pintu keluar-masuk (out-in) di beberapa jalan. Misalnya, di pertigaan Giant, Margorejo. Juga adanya pintu masuk tol di Jagir hingga keluar atau turun di Jalan Adityawarman. Saat kendaraan keluar tol, bisa dipastikan bakal terjadi kemacetan yang luar biasa di kaki tol. Atau, di jalan sekitar kaki tol.

Persoalan itu bakal menambah beban pemkot. Arus kemacetan bertambah. Pemkot juga harus mempersiapkan alternatif jalan baru lagi. Termasuk, siap menjadi sasaran protes masyarakat.

Ketiga, proyek itu bakal menelan cost yang besar. Sebab, dibutuhkan pembebasan lahan sepanjang jalan yang melewati rel kereta api Jagir hingga Gubeng. Otomatis hal itu memakan anggaran cukup besar. Itu belum termasuk cost social yang harus ditanggung warga, seperti polusi akibat kendaraan yang lalu lalang melewati tol tersebut.

Selain itu, banyak pakar transportasi dan tata ruang memberikan masukan. Karena itu, pola transportasi harus diubah. Caranya, menyiapkan jaringan jalan. Pemkot saat ini memulai pembangunan frontage road. Sisi timur ditarget rampung tahun depan. Pada tahun yang sama, untuk sisi barat, konstruksi fisiknya bakal dimulai.

Bersamaan dengan pembangunan frontage road, sejak 2008, proyek middle east ring road (MERR) 2C mulai dibangun. Proyek yang biaya pembangunan fisiknya berasal dari APBN itu untuk mengurai kemacetan di koridor timur Surabaya. Proyek itu ditarget kelar tahun depan.

Paralel dengan rampungnya proyek itu, pemkot mulai membangun jalur lingkar barat (middle west ring road). Proyek itu dimulai tahun depan. Tujuannya, memberikan alternatif jalan bagi pengendara yang datang dari Sidoarjo atau Surabaya selatan menuju Surabaya barat.

Namun, untuk membatalkan tol tengah kota butuh persetujuan pemerintah pusat maupun pemprov. Sebab, sejak 2008, proyek tol tengah kota telah tercatat dalam RTRW nasional maupun provinsi. Merevisi RTRW tersebut memerlukan kajian mendalam dan argumen kuat.

Di satu sisi Wali Kota Bambang D.H. beranggapan bahwa pemkot memiliki argumen kuat untuk menampik proyek itu. Sesuai UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, lima tahun sekali daerah bisa me-review RTRW-nya. Selambat-lambatnya review itu harus dilakukan tiga tahun. Pada 2010 ini adalah tahun terakhir review itu harus dilakukan. Namun, pemerintah akhirnya memberikan prioritas terhadap pemprov untuk me-review RTRW-nya terlebih dahulu.

Artinya, kata Bambang, peluang pemkot menghapus tol tengah kota cukup terbuka lebar. Persoalannya, tinggal menunggu kebijakan pemprov dan pusat. "Saya ingin agar semua pihak berpikir jernih. Toh, ini bukan untuk kepentingan kami, melainkan warga Surabaya," tuturnya.

Bambang mengakui, untuk mendapat persetujuan itu harus melalui proses panjang. Bisa jadi melalui amandemen. Namun, kata dia, ini bukan persoalan negosiasi antar pemerintah, melainkan untuk kepentingan Surabaya. Karena itu, proses konsultasi terus dilakukan pemkot dengan pemprov dan pusat.

Jika pusat menyetujui usul itu, praktis bakal ada revisi RTRW nasional. Jalan satu-satunya adalah menanti 2013. Sebab, tahun itu pemerintah pusat baru bisa merevisi RTRW. Sambil menunggu revisi RTRW nasional, tol tengah kota mestinya bisa dicoret dulu. Baru resminya pada 2013, proyek tersebut dihapus.

Soal statemen Gubernur Soekarwo yang menolak penghapusan tol tengah kota, Bambang mengaku belum tahu tentang hal itu. "Saya hanya baca di media. Tapi, gubernur belum menyatakan secara resmi kepada saya," ucapnya.

Bambang menggambarkan, berbagai negara maju tidak memiliki tol tengah, namun juga tidak macet. Yang diperlukan kota-kota besar adalah jalan lingkar, bukan tol tengah kota. Jakarta, sebut dia, memiliki banyak tol, tapi macetnya luar biasa. Selain itu, dia menilai dari aspek estetika, keberadaan tol tengah kota hanya membuat penataan kota menjadi karut-marut. "Kalau cara pandang pemerintah pusat dalam mengatasi kemacetan sama dengan Jakarta, ya kita akan siap-siap mengulangi kesalahan yang sama," cetusnya. (kit/c2/nw)

---

JALAN LINGKAR SURABAYA

Lingkar Barat Luar

Tol Sumo di Waru-Driyorejo-Lakarsantri-Pakal-Osowilangun-Romokalisari atau Kali Lamong

Lingkar Barat Dalam

Karangpilang-Wiyung-Pakuwon-Citraland-Tandes-Margomulyo

Middle East Ring Road (Lingkar Timur)

Waru-Pondok Chandra-Gunung Anyar-Rungkut-Medokan Semampir- Sukolilo-Jalan Arif Rahman Hakim-Mulyorejo-Kenjeran-Suramadu

Sunber Jawapos, Aug 30, 2010

Tidak ada komentar: