Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 29 Desember 2010

Kaya Dengan Menjadi TKI


Awal Desember 2010, saya mengunjungi desa yang sudah sekitar 10 tahun tidak pernah saya datangi untuk menghadiri resepsi pernikahan sanak famili. Desa itu adalah desa Tulung yang terletak di Kecamatan Sampung Ponorogo Jawa Timur. Dulu ketika kakek dan nenek masih hidup, keluarga ayah saya dari berbagai kota selalu berkunjung ke desa ini untuk sungkem setiap lebaran.

Saya sangat terkejut dengan perubahan yang terjadi di sana. Banyak rumah bagus berarsitektur modern dibangun menggantikan bangunan-bangunan tradisional yang sederhana. Di jalan-jalan banyak berseliweran sepeda motor model terbaru. Sesekali tampak melenggang mobil bagus di jalanan. Sementara angkutan pedesaan menghilang digantikan dengan kendaraan pribadi. Selain itu di sana-sini mulai bermunculan toko-toko yang menjual bahan-bahan bangunan yang dulu tidak pernah ada. Juga bermunculan kedai-kedai makanan menggantikan warung-warung giras.

Beberapa warga pedesaan bahkan sudah mulai akrab dengan laptop. Dilengkapi dengan modem yang seukuran flashdisc, merekapun juga mulai akrab dengan internet. Tak mengherankan jika wawasan mereka juga sudah modern seperti halnya mereka yang tinggal di perkotaan.

Menurut seorang famili, rumah-rumah dan motor yang bagus-bagus itu milik para TKI. Saya juga diberitahu, tanah milik ayah saya bersama dua saudaranya yang baru terjual Rp 100 juta, yang membeli juga seorang TKI. Di atas tanah sawah itu, dia kini sedang membangun toko bahan-bahan bangunan.

Ketika saya tanya hari gini (ketika banyak TKI disiksa, diperkosa, dan tidak dibayar) masih banyak yang mau jadi TKI, dia menjelaskan, mereka itu bukan TKI yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi. Mereka kebanyakan bekerja di Hongkong. Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

"Mereka tidak mau lagi menjadi TKI di Arab Saudi dan Malaysia karena banyaknya kasus penganiayaan dan perkosaan. Lagi pula di kedua negara itu, upah TKI sangat murah. Kan sayang begitu lama meninggalkan keluarga, ketika pulang tak membawa apa-apa," ujar dia menjelaskan.

Apa yang terlihat saat ini memang sangat kontras dengan pemandangan 10 tahun yang lalu. Ketika itu sebenarnya sudah banyak yang menjadi TKI di Malaysia dan Arab Saudi. Tapi karena upah di kedua negara itu tidak cukup besar, uang TKI yang mengalir ke desa itu tidak cukup membuat perubahan yang signifikan. Rumah masih tradisional, tak banyak yang bisa membeli motor, dan merekapun kebanyakan masih mengandalkan jasa angkutan pedesaan untuk datang ke pusat kota.

Kebanyakan warga desa Tulung hanya memiliki tanah kurang dari 2 ha. Bahkan banyak di antaranya yang tidak lagi memiliki sawah sehingga mereka hanya bisa bekerja sebagai buruh tani dengan upah seadanya. Dengan kondisi seperti itu kebanyakan warga desa tak mampu membangun rumah yang bagus, membeli motor baru, dan membangun toko. Mereka hanya mampu mencukupi kebutuhan yang paling dasar seperti sandang dan papan seadanya saja.Yang kelihatan cukup makmur terbatas pada mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri seperti guru dan perawat, atau polisi.

Kondisi ekonomi warga desa Tulung saat ini bahkan mungkin jauh lebih baik daripada kebanyakan warga di Surabaya yang bekerja di kantor-kantor, pusat-pusat perbelanjaan, dan pabrik. Mereka umumnya mendapatkan upah antara Rp 300.000 - Rp 1 juta, yang berarti masih di bawah upah minimum tahun ini yang hanya Rp 1.050.000/bulan.

Berbeda dengan gambaran suram yang sering kita saksikan dalam berita-berita di televisi maupun media cetak, prospek TKI ternyata sangat cerah.  Pengiriman TKI tidak hanya bisa membawa kemakmuran bagi warga negara tapi bahkan mampu menjadi penggerak kemajuan di pedesaan dan kota-kota kecil, selain tentunya menjadi pahlawan devisa.

Dengan tumbuh suburnya inisiatif warga negara yang menjadi TKI, pemerintahan tinggal memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka. Plus selalu berusaha mencarikan negara-negara yang sistem hukumnya tidak memungkinkan warganya berbuat seenaknya terhadap para pendatang dan memberikan uang yang lebih banyak sebagai tujuan TKI yang baru.

Tidak ada komentar: