Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 10 Oktober 2010

PDAM Menyengsarakan Pelanggan`


Hari Jumat siang (8 Oktober 2010), rumah saya di Jl. Kalilom Lor Indah Gg. Blewah No. 22 Surabaya dipasangi sambungan PDAM. Namun setelah kran dipasang, air ternyata tidak mengalir ke pipa yang menuju ke kran bak air di rumah. Baru pada pukul 03.40 menjelang Subuh, air mengalir walau hanya pelan. Agar bak mandi dan beberapa bak lainnya segera terisi, saya menghidupkan pompa Dub kecil yang sebelumnya dipakai untuk menyedot air sumur. Dalam waktu dua puluh menit semua bak yang berjumlah tiga buah sudah terisi. Kamipun lega karena kami punya air untuk mandi, cuci dan memasak

Tapi celakanya hari selanjutnya, kami sama sekali tak kebagian air. Sampai pukul 03.40 kran dalam rumah tak meneteskan air sama sekali. Kami coba menyedot dengan pompa air, air dapat mengalir sebentar tapi kemudian air sama sekali tak keluar. Beberapa kali saya mencoba menyalakan  pompa tapi malah rusak. Dan kamipun tak mendapatkan air sama sekali. Akhirnya air ledeng tak dapat, air sumur pun hilang. Hari itu kami tak punya air. Terpaksa membeli gledekan.

Setelah kami cek ke berapa tetangga yang sudah lebih dulu memasang sambungan air PAM ternyata mereka mengalami hal yang sama. Air mengalir sedikit, mencoba menyedot air dengan pompa lalu pompanya rusak. Bagi yang punya uang lebih tak masalah. Mereka bisa membangun tandon dan membeli pompa besar dengan beaya jutaan. Tapi yang dananya pas-pasan, harus menerima tak kebagian air sama sekali atau hanya mendapatkan sedikit air. Itupun  mereka harus menunggu hingga Subuh.

Lalu bagaimana dengan tanggungjawab PDAM Surabaya. Kenapa pemasangan  jaringan pipa ke kampung-kampung dengan beaya bantuan Bank Dunia tak diikuti peningkatan suplai air? Saat ini sedang musim penghujan, lalu bagaimana nanti kalau musim kemarau. Tentu akan semakin banyak pelanggan yang tak kebagian air. Apakah hal ini sudah diperhitungkan sebelumnya?

Selain itu bagi kampung yang banyak cabang jalannya, kenapa jalan utamanya hanya dipasang pipa kecil sehingga tak mampu mendistribusikan air ke cabang-cabang jalan sehingga akhirnya banyak pelanggan yang tak kebagian air. Apakah karena beaya pemasangannya lebih ringan daripada yang di perumahan mewah, maka pipanya pun hanya mendapatkan yang kecil tanpa memperhitungkan efektivitas penyaluran airnya?

Kami sangat berharap PDAM mau segera memperbaiki sistem distribusi  dan menambah suplai air agar semua yang sudah pasang sambungan rumah kebagian air. Bagi yang tak kebagian air, kami berharap PDAM bertanggungjawab. Selain terlanjur keluar beaya untuk pemasangan sambungan rumah, kami juga kehilangan pompa dan keluar banyak beaya untuk mengacak-acak pipa distribusi di rumah untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada. Di sisi lain kami harus tetap membeli air PAM gledekan dengan harga yang jauh lebih mahal. Ingat proyek itu diperuntukan bagi kalangan menengah bawah dan banyak di antaranya yang memasang sambungan rumah dengan cara mengangsur di BRI karena tak punya cukup dana sendiri.

Kita sangat bersimpati dengan upaya PDAM untuk memberikan akses kepada sebanyak mungkin warga kota untuk mendapatkan air minum. Tapi upaya ini menjadi mubasir dan hanya menyengsarakan calon pelanggan ketika tidak diikuti dengan perencanaan yang cermat dan profesional. Mudah-mudahan PDAM bisa belajar dari kasus ini. Dan bagi para calon pelanggan baru yang menginginkan sambungan air PAM di rumah, berhati-hatilah.

Tidak ada komentar: