Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 06 Juni 2011

Mantan Pelacur Yang Menutup Lokalisasi WTS


                                              
Saat ini berbagai media massa di Surabaya tengah menyoroti rencana Pemkot untuk memasang CCTV di lokasi WTS Dolly. Tujuannya membuat para tamu sungkan sehingga secara perlahan-lahan kawasan lokalisasi WTS itu sepi dan kemudian tutup dengan sendirinya.

Tentu saja rencana ini menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat.
Kenapa mau menutup lokalisasi WTS saja Pemkot berbelit-belit? Dilihat dari segi apapun, lokalisasi WTS tak layak untuk dipertahankan. Apalagi di sekitar tempat pelacuran itu kini telah berkembang  pemukiman. Tentu tidak bagus menyatukan komplek pelacuran dengan pemukiman,

Ya, kenapa Pemkot tidak secara tegas menutup saja komplek pelacuran yang ada. Karena pernah terjadi seorang wanita politisi mantan WTS paska PD II tahun 1945 menggalang penutupan rumah-rumah bordil di Perancis. Perancis bukanlah negara Islam. Negara ini bahkan tak peduli dengan gaya hidup seks bebas. Dan yang mengejutkan yang menggalang ide penutupan lokalisasi itu justru adalah politisi mantan seorang pelacur.

Ya, mantan pelacur itu bernama Marthe Richard (1889–1982). Drama kehidupan Marthe memang penuh warna-warni. Pada usia 14 tahun, ia magang pada seorang penjahit di Nancy, tapi nasib membuatnya terdampar di dunia pelacuran pada tahun 1905.

Sesudah seorang tentara menuduhnya menularkan penyakit kelamin padanya, ia dipaksa pergi ke Paris. Di sini ia bertemu dan kemudian menikah dengan Henry Richer pada tahun 1907, seorang pria pengusaha kaya yang bekerja di Les Halles.

Pada tahun 1912, suaminya membelikannya sebuah pesawat dan ia menerbangkannya untuk pertama kali pada tahun 1913. Pada tahun 1914, ia berpartisipasi dalam pendirian L'Union patriotique des aviatrices françaises ("Pasukan Patriotik Penerbang Wanita Perancis”).Suaminya kemudian mati dalam Perang Dunia I pada tahun 1916.

Setelah ditinggal mati suaminya, ia direkrut komandan mata-mata Perancis, Georges Ladoux, sebagai mata-mata. Ladoux segera mengirim Marthe ke Spanyol, sebagai negara netral pada Perang Dunia I. Ia dikenal sebagai agen rahasia yang hot di tempat tidur. Misinya: merayu Baron Hans Von Krohn, seorang Atase Angkatan Laut Jerman.

Marthe kemudian menikah lagi dengan Thomas Crompton pada tahun 1926 yang bekerja sebagai direktur keuangan untuk Rockefeller Foundation dan pendukung restorasi Petit Trianon. Ketika suaminya mati secara tiba-tiba pada tahun 1928 di Jenewa, Marthe pindah ke Bougival dan hidup dengan sangat layak.

Sebagai mata-mata Marthe memiliki prestasi yang bagus. Dengan cepat ia berubah menjadi Pahlawan Perancis. Selama Perang Dunia II, keberaniannya dikagumi di Perancis dan ia dibenci di Jerman. Ia tampak dekat dengan anggota-anggota tertentu Gestapo, termasuk François Spirito.

Kepahlawanan Marthe di Perancis sempat terusik kabar miring tentang pengkhianatannya terhadap negara. Ketika ia menjalankan misi merayu Von Krohn, ia dikabarkan direkrut balik oleh Atase Angkatan Laut Jerman itu sebagai mata-mata. Maka iapun dikabarkan menjadi agen ganda.

Untuk Perancis ia mendapatkan nama kode Alouette dan untuk Jerman ia memiliki nama kode agen $32. Ia memberi data kepada Von Krohn tentang hal-hal seperti gerakan tentara Perancis. Untuk Perancis, ia mendapatkan penghargaan karena berhasil menggali informasi tentang aktivitas kapal selam Jerman dan memberikan nama-nama musuh yang beroperasi di Perancis. Namun ia membantah tuduhan sebagai agen ganda. Karena menurut dia, informasi yang diberikan kepada Jerman sebetulnya adalah informasi yang sudah kadaluarsa.

Pada tahun 1945, ia terkenal sebagai “pahlawan dua perang dunia”. Ia terpilih menjadi dewan kota dari the IVe arrondissement dengan tiket MRP. Ketika ia dituduh mendapatkan suap 300.000 francs untuk pembebasan hukuman pengkhianat Jerman, reputasinya menyelamatkan dirinya. Selain itu berbagai kontradiksi yang dikenakan pada dirinya menyebabkan skeptisisme di antara banyak orang terhadap dirinya.

Pada 13 December 1945, ia mengajukan rencana untuk penutupan rumah bordil di IVe arondissement. Usulan itu lolos, dan rumah-rumah bordil itu ditutup dalam waktu tiga bulan. Dengan gigih, Marthe Richard memulai kampanye untuk mengakhiri pelacuran di seluruh Perancis.

Pada 9 April 1946, Marcel Roclore, Menteri Negara, mengumumkan laporan komisi tentang kesehatan penduduk dan publik, dan menyimpulkan bahwa penutupan rumah bordil memang patut didukung. Pierre Dominjon mengusulkan rancangan untuk tujuan ini. Rancangan ini, yang sekarang dikenal sebagai La loi Marthe Richard, lolos dengan dukungan suara dari aliansi MRP Demokrat Kristen dan Komunis.

Pada 13 April1946, tempat pendaftaran prostitusi dihancurkan dan 1,400 rumah bordil ditutup, termasuk 180 di Paris. Banyak rumah prostitusi diubah menjadi hotel, yang tetap digunakan oleh para pelacur. Prostitusi masih bergentayangan walaupun banyak UU tentangnya membuatnya menjadi pekerjaan yang ilegal

Ia lalu menulis fiksi erotis dan menerbitkan beberapa buku. Dalam Appel des sexes ia meninjau kembali posisinya terhadap pelacuran. Ia juga menjadi pembicara di seminar-seminar tentang perjalanannya sebagai seorang mata-mata. Ia meninggal pada tahun 1982 dalam usia 92 tahun.
Sumber  : (http://en.wikipedia.org/wiki/Marthe_Richard, http://www.britannica.com/bps/additionalcontent/18/22837624/Let-Us-Now-Praise-Marthe-Richard)