Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 11 Oktober 2010

Seniman


Kartolo
Pada tahun 1970-an, siapapun warga kota Surabaya dan warga Jawa Timur pasti mengenal Kartolo yang terkenal dengan kidungannya Jula-Juli. Tokoh ini sering muncul dalam sandiwara ludruk yang sering ditayangkan radio swasta dan pemerintah. Selain sebagai pemegang lakon sandiwara, ia juga membawakan kidungan yang biasanya menjadi bagian dari drama asli Surabaya itu.
Saat itu, radio memang menjadi satu-satunya hiburan rakyat yang murah meriah. Menu siaran radio saat itu, khususnya di Surabaya, kalau bukan memutar musik, siaran luruk, ya sandiwara radio.
Lahir pada 2 Juli 1947 di Watu Gunung, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, nama aslinya adalah Tolo. Entah mengapa kemudian, kawan-kawan dekatnya memanggilnya Kartolo.
Ia bukan berasal dari keluarga seniman. Ayahnya Aliman adalah buruh pabrik tenun Juwingan Surabaya. Ibunya, Payamah hanya sebagai ibu rumah tangga yang berdagang di warung pracangan.
Kartolo tak pernah bercita-cita menjadi seniman. Ia dulunya memimpikan jadi pegawai negeri, yang dianggapnya memiliki masa depan yang jelas. Karena pegawai negeri dapat pensiun dan tunjangan.
Kartolo masuk Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1952 dan lulus tahun 1958. Kartolo tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena orangtuanya tak mampu membeayainya.
Saat menghabiskan masa kecil di Prigen, ada seorang tetangga yang pandai membuat gamelan dari besi. Namnya Pak Tjipto. Gamelan yang dibuat Pak Tjip biasa digunakan untuk karawitan atau panjak. Di situlah Kartolo belajar gambang dan tayuban.
Ketika usianya menginjak 14 tahun, Kartolo ikut grup ludruk Margo Satoso di desanya. Tak lama kemudian Kartolo ditawari bergabung dengan grup ludruk Garuda yang bermarkas di Pandaan. Kala itu Garuda lumayan memiliki pamor sehingga ia tertarik bergabung. Beberapa waktu kemudian Kartolo gabung dengan grup binaan Batalyon Zeni Tempur V Malang.
Tahun 1961-1962. Kartolo hijrah ke Malang. Ia memilih menjadi freelance alias seniman lepas. Istilahnya ia hanya ikut nggedong (pentas) berbagai grup ludruk yang ada di kota apel tersebut. Jerih payahnya itu membuahkan hasil yang cukup lumayan. Pernah dalam sepekan ia nggedong di tiga tempat. Beberapa tempat yang pernah disinggahi seperti di Kidal, Tumpang, Pujon, Ngantang Batu, Mberu Blitar, Nglego, dan Blora Budaya.
Ketika G30S PKI meletus pada tahun 1965, ia pulang ke Pandaan dan dilanda stres. Itu karena seluruh kegiatan kesenian terhenti yang menyebabkan Kartolo tak bisa berekspresi seni dan mendapatkan penghasilan, Baru pada tahun 1967, ketika situasi negara mulai normal Kartolo melanjutkan kiprah keseniannya.
Kartolo menemukan jodoh yang kini menjadi istrinya ketika siaran di RRI. Saat itu ia sering dipasangkan dengan Kastini dalam berbagai lakon ludruk. Contohnya dalam lakon Sam Pek Eng Tai, ia menjadi Sam Pek, calon istrinya menjadi Eng Tai.
Pada tahun 1980 ia masuk dapur rekaman. Sudah banyak kaset ludruk dan kidungan yang telah dihasilkannya.. Selain itu ia banyak diundang pentas mulai dari pesta pernikahan, acara instansi pemerintah lembaga pendidikan seperti universitas, kalangan militer, dan sebagainya. Bahkan ia cukup sering diundang ngidung untuk siaran televise.
Menurut budayawan Sindhunata, kidungan Kartolo disukai masyarakat dari berbagai strata sosial Di sebuah perkampungan di kota Malang, ada yang rajin mendengar kasetnya sambil bekerja. Di kota Batu, sais-sais dokar pun suka mendengarkan kaset-kaset Kartolo.
Mantan Menteri Penerangan,yang juga Ketua MPR pada zaman Pak Harto, Harmoko memiliki koleksi kidungan Kartolo. Begitu juga dengan mantan Pangdam V Brawijaya, R Hartono, dan pemusik Ahmad Dhani.
Para pelajar Surabaya yang belajar di luar negeri banyak yang mencari kaset kidungan Kartolo. Mereka menyukainya karena dapat menggugah kenangan terhadap tanah kelahirannya. Bahkan kasetnya juga banyak beredar di Suriname.
Kartolo mengaku sering mendapatkan inspirasi membuat kidungan dari berita-berita di media massa. Namun lebih banyak lagi yang ia gali dari rasan-rasan orang-orang di sekitarnya. Tak mengherankan kalau kidungan-kidungannya mengandung berbagai masalah yang benar-benar hidup dalam masyarakat.