Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 11 September 2010


Dr. Poernomo Kasidi
Meski lahir di Jakarta, Dr. Poernomo Kasidi sangat layak disebut orang Surabaya. Dalam kapasitasnya sebagai Walikota selama dua periode secara berturutan, statusnya sebagai warga Surabaya, tak mungkin bisa diperdebatkan lagi. Apalagi setelah tak menjabat sebagai Walikota, pak Poer tetap tinggal di Surabaya sampai akhir hayatnya.
Sebagai dokter umum TNI AD, pria kelahiran Jakarta, 22 September 1933 itu harus menghabiskan hidupnya dengan berpindah-pindah tempat tinggal. Tugas pertamanya adalah di Malang. Kemudian pindah ke Bangka, Kediri, kembali ke Malang, dan Denpasar. Pernah ditugaskan saat peristiwa Dwikora. Kemudian pindah lagi ke Kalimantan, Sulawesi Selatan, Timor Timur. Poernomo juga sempat ditugaskan Angkatan Darat untuk mendampingi Bung Karno di Istana Bogor.
Ketika bertugas di Timor Timur, ia sempat menolong menantu Presiden, Prabowo Subianto, yang juga seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Sejak itulah ia menjalin hubungan pertemanan yang cukup dekat. Prabowo secara diam-diam sering mengunjungi Pak Poer di kediamannya.
Tak mengherankan jika kemudian Pak Poer bisa dengan mulus menjadi Walikota untuk dua periode secara berurutan. Saat itu posisi Walikota masih banyak ditentukan oleh para pemimpin militer pusat maupun lokal. DPRD hanya tinggal memberikan stempel saja.
Awalnya, bapak dari emapt anak ini menempuh studi di Fakultan Kedokteran Universitas Indonesia. Karena orangtuanya tak mampu membeayai kuliahnya, ia pindah kuliah ke FK Universitas Gadjah Mada melalui program ikatan dinas. Setelah lulus ia bertugas sebagai dokter Angkatan Darat. Sebelum menjadi Walikota ia pernah menjadi Kepala Kesehatan AD Udayana dan Brawijaya Malang.
Ayahnya Kasidi adalah pejuang sipil yang sangat berani. Ketika meninggal jasadnya dimakamkan di TMP Kalibata dan mendapatkan penghargaan dari Bung Karno atas jasa-jasanya membela negara.
Saat menjadi Walikota Surabaya antara tahun 1984-1994, Pak Poer sangat peduli dengan masalah sampah dan kebersihan. Ia sering keluar masuk kampung untuk memeriksa got. Tak heran kalau kemudian dia dijuliki sebagai Walikota Got.
Saking pedulinya terhadap masalah sampah, ia pernah memburu seorang pengendara yang melemparkan sampah dari dalam mobil. Ketika pengendara berhasil dihadang, Walikota tak kuasa membendung amarahnya dan memberikan nasehat agar pengendara itu tak mengulangi perbuatannya.
Berkat kepeduliannya terhadap masalah kebersihan, Surabaya berhasil beberapa kali meraih penghargaan adipura dan adipura kencana karena penghargaan itu didapatkan secara berturut-turut. Piala Adipura merupakan wujud penghargaan nasional tetinggi di bidang kebersihan.
Selain itu Pak Poer berusaha menata kampung-kampung agar menjadi lebih indah, bersih dan hijau. Pada zamannya banyak kampung yang jalannya diberi paving dan di kiri kanan jalan dibuatkan saluran air yang ditutup dengan semen di atasnya. Di atas saluran itu diletakan pot yang berisi berbagai tanaman untuk menghijaukan kampung.
Pada zamannya juga dibangun rumah susun untuk penduduk kalangan bawah dengan harga yang sangat murah dan terjangkau.
Dr. Poernomo Kasidi juga sangat peduli dengan penataan kota secara terencana dan konseptual. Di antaranya dengan jalan mengamankan kawasan Surabaya Barat untuk pembangunan kota mandiri dan Surabaya Timur sebagai kota marina yang berisi pemukiman modern lengkap dengan segala fasilitasnya. Di kedua wilayah ini Pak Poer, memberikan izin lokasi seluas ribuan hektar kepada para pengembang besar.
Kalau saat ini di kedua kawasan ini kita melihat banyak rumah mewah dengan arsitektur moder dan lingkungan yang sangat tertata seperti di negara-negara maju, itu tak lain merupakan hasil karya Poernomo Kasidi ketika menjabat sebagai Walikota. Salah satu ciri khas dari perumahan itu adalah tak ada kabel yang berseliweran di udara. Semua kabel, baik kabel listrik maupun telepon ditanam di bawah tanah.
Dengan banyaknya pengembang besar yang sudah melaksanakan proyeknya, kawasan Surabaya Barat kini berkembang pesat. Selain perumahan mewah, di kawasan itu kini terbentang sejumlah padang golf yang luas sehingga membuat kawasan menjadi hijau. Selain itu kawasan Surabaya Barat telah dilengkapi sejumlah mal besar, Water Park, Universitas, dan Sekolah Internasional.
Konsep pembangunan perumahan di kawasan barat sebetulnya sangat bagus. Sebelum membangun rumah, para pengembang wajib membangun saluran-saluran pematusan besar dan danau-danau untuk mengantisipasi banjir di masa depan. Namun tak jelas apakah konsep seperti ini benar-benar sudah terwujud.
Dalam era Walikota Poernomo Kasidi, Surabaya juga sedang mengalami booming pembangunan plaza dan gedung perkantoran. Bahkan untuk mewadahi minat para pengembang, Pemkot menciptakan tujuh kawasan CBD (central Bussines Distric). Di antaranya CBD Mayjen Sungkono yang merupakan jalan akses menuju kawasan Surabaya Barat.
Selain itu Pemkot Surabaya juga merencanakan berbagai proyek mercusuar seperti pembelian incinerator untuk membakar sampah kota, pembangunan Surabaya Sport Centre, dan Jembatan Suramadu. Sayangnya dari semuanya itu, yang terwujud hanya pengadaan incinerator. Tapi inipun kisruh karena perjanjian kerjasamanya tidak jelas dan cenderung merugikan keuangan Pemkot. Selain itu incinerator tak berjalan mulus karena mesin ini kesulitan membakar campuran sampah basah dan kering. SSC dan Suramadu baru bisa terwujud 20 tahun kemudian.
Yang disayangkan tampaknya para stafnya yang brilian tak kuasa menahan godaan duniawi. Karena terlalu dekat dengan para pengembang, yang tidak hanya mendatangi kantor Pemkot ketika mengurus proyek tapi juga melobi di hotel-hotel dan tempat wisata, berhembus aroma tak sedap yang disebut KKN. Praktek semacam ini pada zaman orde baru sebetulnya hal yang lumrah tapi karena media massa di Surabaya mempersoalkannya, hal itu menjadi masalah besar. Para pejabat harus bolak-balik datang ke kepolisian dan kejaksaan untuk dimintai keterangan.
Ketika kasus ini berlarut-larut kasuspun diambilalih Bakorstanasda, lembaga superbodi yang dibentuk militer. Tapi penyelesaiannyapun tak memuaskan. Mereka hanya dipersalahkan melakukan penyimpangan prosedur dan sebagai sanksi dinonjobkan. Beberapa pejabat yang dianggap berjasa dalam pembangunan kota bahkan hanya dimutasikan ke Pemda Tingat I.