Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 11 Agustus 2010

Trend Tarif Parkir Progresif


Di Surabaya kini mulai menjadi trend tarif parkir progresif. Besaran tarifnya pun sangat variatif. Ada yang dengan penuh percaya diri menetapkan tarif yang cukup tinggi, misalnya saja untuk sepeda motor Rp 1.000 untuk satu jam pertama dan tambahan Rp 1000 untuk setiap 1 jam berikutnya. Ada juga yang cukup hati-hati, seperti yang diterapkan Gramedia Expo, yang menetapkan tarif satu jam pertama Rp 1.000 dan tambahan Rp 500 untuk setiap jam berikutnya.

Tujuan penerapan tarif progresif tentu saja untuk mengoptimalkan pemasukan dari lahan parkir. Dengan tarif seperti itu pemilik kendaraan akan berusaha memarkir kendaraannya secepat mungkin kecuali kalau memang ada keperluan yang mendesak, yang membuat dia harus berlama-lama tinggal di sebuah gedung. Dengan cara demikian selalu tersedia ruang yang kosong, sehingga dapat dimanfaatkan pemilik gedung untuk terus menambah pemasukan.

Namun para pengelola gedung dituntut untuk ekstra hati-hati menerapkan tarif parkir ini. Bisa-bisa bukan mendapatkan keuntungan tapi malah menjadi bumerang. Tarif progresif ini tentu akan memberatkan para penyewa dan juga karyawannya karena dengan tarif progresif mereka harus mengeluarkan uang yang jauh lebih besar untuk parkir. Bisa-bisa karena tekanan beaya parkir, para penyewa ruangan gedung beramai-ramai hengkang. Mereka tentu juga tak ingin setiap hari mendengar gerutuan karyawannya yang merasa terbebani tarif parkir tinggi.

Hal itu dimungkinkan karena saat ini banyak sekali berdiri gedung perkantoran, plaza dan pusat-pusat perbelanjaan baru. Tingkat kompetisinya sangat tinggi, bahkan ada kecenderungan telah terjadi oversupply. Tentu para penyewa akan memilih gedung dengan beaya sewa dan beban beaya yang paling murah (termasuk tarif parkirnya). Apalagi beberapa plaza yang sepi, menerapkan tarif parkir murah dan bahkan gratis, untuk menarik penyewa dan pengunjung.

Trend tarif parkir progresif ini tampaknya juga akan ditiru Dinas Perhubungan Pemkot Surabaya yang berniat menerapkannya di lingkungan terminal. Saat ini tarif progresif yang dituangkan dalam raperda telah diajukan kepada DPRD Surabaya.

Rincian tarif progresif itu adalah biaya parkir sepeda motor Rp 500 dengan tambahan Rp 100 setiap jam. Jika menginap sehari, akan kena retribusi maksimal Rp 2.500. Mobil pribadi Rp 2.000, dengan tambahan untuk setiap jamnya Rp 500, dan tarif maksimalnya Rp 10.000. Mobil box/pick up Rp 2.000, untuk setiap jam berikutnya dikenai tambahan Rp 500 dengan tarif maksimal Rp 10.000. Bus penumpang  Rp 2.000, tambahan untuk setiap jam Rp 1.000 dan tarif maksimal Rp 10.000. Bus mini dikenai tarif Rp 1.500, dengan tambahan perjamnya Rp 1.000 dan pungutan maksimal Rp 10.000. Taksi/angguna  Rp 1.000 dengan tambahan perjamnya Rp 500 dan beaya maksimal Rp 5.000.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Perhubungan Eddi mengatakan,  ''Makin lama kendaraan parkir, retribusi yang harus dibayar makin tinggi. Dalam hal ini Dishub akan menerapkan sistem parkir dengan menghitung biaya parkir untuk dua jam pertama. Setelah itu, biaya tambahan dihitung setiap jam".

Kebijakan itu ditempuh supaya suasana di terminal lebih tertib. Dengan begitu, tidak ada kendaraan umum yang parkir seenaknya. Selama ini kendaraan umum hanya bayar sekali untuk parkir. ''Sehingga, ada yang sampai dipakai sebagai garasi," ujarnya. Namun, kata Eddi, dengan parkir progresif, kendaraan tidak bakal lama ngendon di terminal. Sebab, biaya parkir yang dikeluarkan semakin besar. ''Harapan kami, tidak ada kendaraan yang parkir berlama-lama di terminal," jelas Eddi.

Tentu tarif parkir progresif ini memberatkan angkutan penumpang umum, baik yang berupa MPU  maupun bus yang setiap harinya harus masuk teminal. Mereka harus mengeluarkan beaya lebih besar untuk parkir. Dan ini tentu pada gilirannya akan dibebankan kepada penumpang dengan menaikan tarif.

Selain itu tarif progresif akan memunculkan teminal-terminal bayangan di jalanan yang mengganggu arus lalu-lintas. Para sopir angkutan penumpang yang tak ingin terbebani tarif parkir yang tinggi, akan memilih memarkir kendaraan di luar terminal.