Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Kamis, 26 Agustus 2010

Pendekatan Kemanusiaan untuk Pedagang Pasar Turi

Pembangunan kembali Pasar Turi yang terbakar membutuhkan pendekatan kemanusiaan. Para pedagang yang stannya ludes dimakan api patut diperlakukan seperti kelompok masyarakat yang terkena bencana. Karena itu harus dihindarkan pendekatan komersial yang hanya akan membuat harta benda para pedagang terkuras habis.

Namun sejak awal rencana pembangunan kembali pasar legendaris itu tampaknya jauh dari sentuhan kemanusiaan. Mulai dari perencanaan design bangunan, soal harga stan, sampai ke pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan pembagiannya. Situasi semacam ini semakin diperkeruh dengan buruknya kualitas bangunan TPS sehingga menyebabkan keruntuhannya.

Para pedagang yang semula tidak percaya terhadap Pemkot dan Investor, yang ditunjukan dengan adanya gugatan ke pengadilan, akan semakin tidak percaya lagi. Ini akan semakin mempersulit upaya membangun kembali Pasa Turi. Resistensi di kalangan pedagang akan semakin kuat.

Untuk memupuk kembali kepercayaan pedagang terhadap Pemkot sebaiknya dilakukan pendekatan baru yang lebih menekankan pada  sisi kemanusiaan. Dalam perencanaan pembangunan kembali Pasar Turi hendaknya dihindari pemikiran mengejar keuntungan yang kuat mengakar di kalangan eksekutif, legislatif maupun tentu saja investor.

Di kalangan eksekutif indikasinya sangat jelas dengan digandengnya investor sebagai penyandang dana. Ini menunjukan Pemkot tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun untuk pembangunan kembali Pasar Turi. di kalangan legislatif terlihat dari sikap FPKS yang menolak adanya BOT semata-mata karena supaya PAD-nya sepenuhnya masuk Pemkot, tapi bukan karena kepentingan pedagang.

Di pihak investor jelas orientasinya sepenuhnya pada pengejaran keuntungan. Ini biasanya dilakukan dengan melipatgandakan space yang akan dibangun dibandingkan dengan sebelumnya. Penambahan jumlah stan ini memang sangat menguntungkan investor tapi di sisi lain akan membuat pedagang akan sulit mengembangkan usahanya paska kebakaran.

Di kalangan eksekutif dan legislatif masih terjebak dengan pemikiran bahwa pedagang itu gudangnya uang. Padahal dengan semakin banyaknya berdiri plaza dan mal baru, supermarket dan toko-toko di sepanjang jalan, usaha ritel menjadi semakin spekulatif. Hanya sedikit yang berhasil, sebagian besar hidup pas-pasan dan bangkrut. Di pasar-pasar yang ada saat ini banyak pedagang yang seperti hidup enggan matipun tak mau. Mereka bertahan berdagang hanya karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lainnya. Kondisi seperti ini berbeda dengaa tahun 80-an ketika masih tak banyak orang berdagang. Saat itu hanya dengan berdagang di pasar orang bisa membeli rumah, bahkan lebih dari satu.

Selain itu di kalangan Pemkot berjangkit sindrom pasar bebas dengan memberikan izin seluas-luasnya bagi investor untuk membangun plaza, mal dan pusat perbelanjaan sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan aspek perlindungan terhadap para pedagang lama. Tak ada upaya untuk menakar di mana izin itu harus dikendurkan dan kapan harus diperketat.

Biagaimanapun juga sebagai korban musibah kebakaran Pedagang Pasar Turi harus dibantu untuk bangkit kembali. Pendekatan komersial hanya akan membuat harta pedagang makin terkuras dan bangkrut. Padahal pembangunan pasar awalnya ditopang dengan Inpres yang bertujuan untuk membina ekonomi rakyat.

Tidak ada komentar: