Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 10 Agustus 2010

Oversupply Ruang Pertokoan, Stop Plaza Baru


Gencarnya pembangunan Plaza baru di Surabaya dalam waktu lima tahun terakhir ini tampaknya berdampak sangat signifikan terhadap pusat-pusat perbelanjaan atau plaza/mal lama. Banyak di antaranya yang menjadi sepi dan ditinggalkan para penyewa yang mencoba adu untung buka usaha di plaza dan mal baru. Namun plaza dan mal baru tampaknya juga kesulitan mendatangkan pengunjung dan tenan.

Situasi seperti ini tampak di Jembatan Merah Plaza. Dulu di lantai paling atas plaza ini ada Arena Ketangkasan, bioskop, dan berbagai toko dan rumah makan. Tapi kini bioskop dan Arena Ketangkasan sudah hengkang. Yang tersisa hanya arena biliar dan rumah makan yang sepi pengunjung. Para tenan yang ditanya Surabaya Raya, khususnya yang lantai 2 ke atas kebanyakan menyatakan kesulitan mendapatkan pembeli.

Hal yang sama juga terjadi pada ITC yang menjadi saingan terdekat bagi Jembatan Merah Plaza. Pusat Perbelanjaan ini termasuk baru, namun juga kesulitan mendapatkan tenan dan pengunjung. Lantai dasar yang awalnya dipenuhi toko, kini banyak yang tutup. Di lantai atas yang semula banyak dipenuhi toko game, komputer, dan HP juga banyak yang masih kosong. Bahkan beberapa stan telah berubah menjadi Cyber Game atau rental game komputer dan warnet.

Hi-Tech Surabaya Mall tampaknya juga tak bisa berkembang secara optimal. Ruang pamer di areal atrium yang biasanya selalu padat dengan jadwal pameran komputer dan aksesoris kini kadang kosong. Ini tak terlepas dari munculnya gedung-gedung baru yang mengkhususkan diri untuk penggunaan pameran. Seperti Gramedia Expo, Jatim Expo, dan tak lama lagi Mall Grand City.

DTC Wonokromo tampaknya hanya pasarnya yang ramai sementara plazanya kurang berkembang. Banyak pemilik stan yang terpaksa adu untung untuk mengikuti berbagai pameran di tempat lain untuk mendongkrak penjualan. Hal yang sama juga terjadi dengan Royal Plaza, Kaza, PTC, dan BG Junction, yang juga tergolong pusat perbelanjaan baru, juga sulit berkembang.

Perubahan yang mencolok terlihat pada restoran-restoran cepat saji di pusat-pusat perbelanjaan lama. Dulu ketika belum banyak bermunculan plaza-plaza baru, pengunjung terlihat berlimpah namun sekarang surut dengan drastis.

Perkembangan semacam ini tentu kalau tidak dikendalikan bakal merugikan pedagang. Mereka akan terus menerus mengalami kesulitan menjual barangnya dan akhirnya tutup. Pedagang baru yang datang belum tentu bakal bisa survive karena masalahnya adalah terjadinya oversupply ruang pertokoan. Kondisi semacam ini akan bertambah parah kalau pembangunan plaza baru tidak distop.

Kecenderung yang terjadi di plaza/mal tampaknya juga terjadi pada ruko dan gedung pekantoran. Barangkali memang pembangunan mal/plaza dan ruko tmpaknya perlu distop lebih dulu agar para pedagang bisa ambil nafas kembali.

Tidak ada komentar: