Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Kamis, 26 Agustus 2010

Menyelamatkan Surabaya dari Ancaman Pengusaha Jahat

Kemenangan dalam coblos ulang yang disahkan Mahkamah Konstitusi memastikan Tri Rismaharini segera mengemban tugas sebagai Walikota Surabaya untuk periode 2010-2015. Banyak tantangan dan kendala yang siap menghadang di depan mata. Di antaranya adalah ancaman dari para pengusaha jahat yang dalam memburu keuntungan siap merusak kota dan mengorbankan siapa saja.

Mereka terus membangun fasilitas-fasiltas komersial tanpa mempedulikan kelestarian lingkungan. Kalau perlu dengan mengambilalih lahan-lahan yang telah diplot sebagai lahan ruang terbuka hijau maupun konservasi. Mereka tak mau peduli kalau proyek-proyeknya itu nantinya bakal menimbulkan problem-problem perkotaan yang serius seperti banjir, kemacetan lalu-lintas, kekumuhan, dan pencemaran lingkungan.

Kota yang sudah jelas menjadi korban pengusaha=pengusaha seperti ini adalah Jakarta. Saat ini ibukota negara ini sudah terkena penyakit kronis banjir, kemacetan lalu-lintas dan pencemaran lingkungan akibat konspirasi jahat antara pengusaha dan pejabat plus penegak hukum korup.

Mereka pun terbukti sudah sejak lama bergerilya di Surabaya. Buktinya adalah jatuhnya lahan Kebun Bibit pada pengembang. Bahkan sebagian lahan Kebun Bibit ini sudah menjadi toko. Lalu sudah lama muncul isu lahan KBS akan diambilalih investor dan sebagai pengganti KBS dipindahkan ke pinggiran kota.

Sebetulnya masih banyak contoh-contoh lainnya yang menunjukan gerak-gerik para pengusaha jahat ini. Misalnya saja lenyapnya sejumlah bangunan cagar budaya dan berubah menjadi bangunan pertokoan. Lalu juga tergusurnya Museum Empu Tantular yang ada di pusat kota ke Sidoarjo.

Tindakan para pengusaha jahat ini tidak hanya merusak lingkungan tapi juga mengeskploitasi buruh dengan upah murah. Banyak di antara mereka yang membayar upah jauh di bawah upah minimum dan menggunakan sistem outsourching untuk menghindari tanggungjawab memberikan jaminan sosial kepada para buruhnya. Tak jarang mereka memanipulasi ketentuan upah minimum. Mereka tak malu-malu membanggakan diri telah membayar gaji sesuai upah minimum untuk pekerja yang telah memiliki masa kerja puluhan tahun. Padahal upah minimum seharusnya hanya untuk pekerja pemula.

Lalu ada lagi pengusaha yang tak memiliki sense of belonging dan kepekaan terhadap karakter kota ini sebagai kota pahlawan. Mereka membangun duplikasi arsitektur bangunan dari berbagai negara dan memasang nama-nama jalan asing sehingga kota ini kehilangan jati dirinya sebagai kota pahlawan. Sebagai ganti berdirinya patung-patung yang bertemakan kepahlawanan, muncul patung-patung duplikasi dari berbagai negara di luar negeri.

Kalau para pemimpin tak tanggap dengan adanya gerak-gerik para pengusaha jahat ini, maka nantinya kota ini akan berubah menjadi kota yang mengerikan: selalu menjadi langganan banjir, udaranya pengap dan panas, lalu-lintasnya ruwet, dan tak memiliki karakter karena dipenuhi bangunan-bangunan dengan arsitektur duplikasi dari berbagai negara.

Ketika masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan Pemkot dan Ketua Bappeko Surabaya, Tri Rismaharini, sudah menunjukan kepekaannya terhadap pelestarian lingkungan dengan memperbanyak dan mempercantik taman-taman kota. Bahkan dia telah memahami pentinngya konsep walfare state ketika menggratiskan taman-taman kota untuk warga kota. Semoga saja modal yang telah ada ini bisa terus dikembangkan untuk memperbaiki kesejahteran para buruh dan mengamankan lahan-lahan terbuka hijau dari para pengusaha jahat.

Tidak ada komentar: