Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 13 Agustus 2010

Pemerintah Benar-Benar Raja Tega Jika Menaikan Harga LPG 3 Kg


Pemerintah berniat mengeruk keuntungan dari tragedi ledakan LPG yang akhir-akhir ini menghantui masyarakat dengan cara menyamakan harga LPG 3 Kg dengan LPG 12 Kg? Kalau itu benar-benar terjadi ini menunjukan  pemerintah telah berubah menjadi si raja tega. Baru saja masyarakat dipusingkan dengan kenaikan tarif listrik, kini datang ancaman kenaikan harga LPG 3 Kg demi penyeragaman harga LPG.

Tudingan semacam itu tampaknya tak berlebihan karena dengan penyamaan harga pemerintah akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar melalui kenaikan harga LPG 3 Kg. Tapi kebijakan semacam ini benar-benar keterlaluan karena upaya mengeruk keuntungan itu dilakukan di atas penderitaan warga yang tertimpa bencana ledakan LPG.

Alasan yang digunakan untuk menyamakan harga itupun sangat naif dan simplistis. Seperti dikatakan para pejabat pemerintah dan pertamina, penyamaan harga itu untuk menghindari penyedotan ilegal isi tabung LPG 3 Kg ke LPG 12 Kg oleh agen curang yang konon menjadi penyebab ledakan LPG. Kalau ini yang jadi alasan  itu pertanda pemerintah sendiri sudah tak percaya terhadap lembaga penegak hukum. Pemerintah mau mengambil jalan pintas dengan menghilangkan kasus ini dari mata para penegak hukum karena tak percaya polisi mampu memberantas pennyedotan ilegal isi LPG 3 Kg.
Padahal kalau dirunut lebih dalam penyebab ledakan mungkin tidak hanya karena penyedotan isi tabung secara ilegal. Banyak kasus ditemukan  selang dan regulator milik warga yang sudah rusak ternyata belum diganti. Banyak alasan yang melatarbelakangi masalah ini. mulai dari ketidaktahuan, kecerobohan sampai pada kemiskinan. Belum lagi sikap para sopir dan kuli yang bertugas mengangkut tabung dari pertamina ke tempat tujuan. Seringkali tabung itu dilemparkan begitu saja ke tanah ketika hendak menurunkan barang di toko-toko.Lalu bagaimana dengan kontrol kualitas tabung oleh pertamina. Ini juga yang harus diselidiki.
Tujuan utama penetapan harga LPG 3 Kg yang lebih murah daripada LPG 12 Kg adalah agar warga ekonomi lemah mau menggunakan LPG sebagai ganti minyak tanah yang oleh pemerintah dipandang sebagai bahan bakar bernilai ekonomis tinggi karena itu sayang kalau dihargai sangat murah sekalipun untuk rakyatnya sendiri. Demi tujuan itu pemerintah bahkan membagikan secara gratis tabung sekaligus kompornya. 
Kalau kemudian harga LPG 3 Kg dinaikan ini akan membuat beban hidup kalangan bawah akan semakin berat. Saat ini mereka tak lagi memiliki pilihan yang lebih murah karena harga minyak tanah sudah terlanjur ditinggikan. Lalu masyarakat bawah mau masak pakai apa kalau harga LPG 3 Kg jadi mahal?  Mudah-mudahan sinyalemen ini tidak benar. 
Pemerintah harus segera menjelaskan kalaupun terjadi penyamaan harga, LPG 12 KG yang diturunkan harganya, bukan LPG 3 Kg yang dinaikan harganya. Selama ini telah beredar opini bahwa penyamaan harga itu dilakukan dengan menaikan harga LPG 3 kg. Karena penyamaan harga akan dikompensasi dengan pemberian BLT pada rakyat miskin.
Yang menjadi tandatanya kenapa BUMN-BUMN selalu gatal untuk menaikan harga. Ini selalu terjadi dari tahun ke tahun sehingga masyarakat selalu dibuat was-was.

Tidak ada komentar: