Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 20 Agustus 2010

Kematian Massal Hewan KBS Sudah Terjadi Sejak 2008


Bagi warga Surabaya, Kebun Binatang Surabaya adalah aset yang sangat berharga. KBS bukan hanya sekedar sebagai tempat rekreasi saja tapi juga berfungsi sebagai paru-paru kota. Apalagi lokasinya yang ada di tengah kota, membuat  nilai KBS semakin tinggi. Tak heran bila banyak pihak yang khawatir suatu saat nanti KBS akan dicaplok pengembang untuk diubah menjadi pusat perbelanjaan atau hotel.

Sayangnya beberapa tahun terakhir ini binatang yang menghuni KBS banyak yang mati. Seperti diungkapkan oleh Ketua Tim Sementara Pengelolaan Kebun Binatang Surabaya, Tony Sumampau, yang ditunjuk pemerintah sejak Pebruari 2010,  kematian hewan besar-besaran sudah terjadi pada tahun 2008 dan 2009. Rata-rata tingkat kematian pertahun mencapai 320 ekor. Sementara selama enam bulan ini ada 26 ekor satwa mati.

Menurut Tony, kondisi kritis ini disebabkan lebih dari sepuluh tahun tidak ada perbaikan pembangunan fasilitas perkandangan di Kebun Binatang Surabaya. "Karena kondisi kandang yang buruk, banyak satwa yang berpenyakit paru-paru, malnutrisi dan penyakit lain. Yang terpenting adalah kondisi kandang yang buruk menyebabkan satwa-satwa itu tidak bisa sehat," kata Tony Sumampau kepada BBC Indonesia.

Selain karena kondisi kandang dan penyakit, Tony menyebutkan bahwa beberapa karyawan kebun binatang tidak profesional dengan mencuri pakan satwa, membolos kerja dan bahkan mogok kerja.
"Pengelola yang dulu  keluar dari KBS terus menghasut karyawan-karyawannya untuk melakukan tindakan yang tidak populer," tambahnya.

Dari apa yang diungkapkan Tony, tampaknya kematian binatang secara beruntun sekarang ini merupakan warisan pada masa lalu,  bukan kesalahan Tim Manajemen Sementara. Pengurus sebelumnya, Perkumpulan Taman Flora dan Satwa KBS tentu tak mau disalahkan dengan kematian hewan yang terjadi beberapa tahun belakangan. Dalam pertemuan pengurus Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Kebun Binatang Surabaya dengan IWAPI Jatim di  Ruang Rapat Wakil Ketua MPR RI tanggal 9 Maret 2010 yang lalu terungkap, kurang terurusnya KBS disebabkan kurangnya dana. Dana operasional yang dibutuhkan KBS pertahunnya mencapai Rp 1 miliar, sementara tiket masuk untuk pengunjung hanya Rp 10.000/orang.


Pada liburan panjang seperti Lebaran pada tahun 2009, pengunjung KBS mencapai Rp 200.000. Pada saat itu pihak pengelola tak mengalami kesulitan pembeayaan. Tapi pada hari-hari biasa pengelola kesulitan dana. Hadir dalam pertemuan itu, Prof. Dr. Basuki Rekso Wibowo, SH., MS., (Ketua Umum)  Otje Rau, (Sekretaris PT FSS-KBS), Drs. Sukarta, Wakil Direktur Kabon Binatang Surabaya, Samba Perwirajaya, Sekretaris Badan Pelaksana Harian (BPH) Kebun Binatang Surabaya, Hj. Wiwik S (Pengawas KBS)   

Munculnya kepemimpinan Prof. Dr. Basuki Rekso Wibowo, SH., MS sebagai pengurus KBS agaknya tak mulus. Percekcokan terus terjadi antara kepemimpinan baru dengan pengurus lama yang dipimpin oleh Stanny Soebakir yang dulu dikenal sebagai politisi. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mengamputasi pengurus baru dengan membentuk tim Manajemen Sementara. 

Dengan permasalahan seperti itu pemerintah propinsi dan kota Surabaya tak perlu buru-buru mengambilalih pengelolaan KBS, apalagi mau menjadikannya sebagai BUMD. Kalau KBS dijadikan BUMD maka orientasi yang semula nonprofit berubah menjadi mengejar keuntungan. Yang dirugikan jelas masyarakat. Mereka tak bisa lagi menikmati rekreasi yang murah, sehat, dan memiliki nilai edukasi yang tinggi. Demi mengejar keuntungan pasti BUMD akan menaikan tarif dari Rp 10.000 menjadi Rp 50.000 seperti di Taman Safari atau tempat-tempat rekreasi swasta lainnya.

Sejak awal KBS Surabaya bukanlah lembaga yang  berorientasi pada profit. KBS  dipertahankan sebagai sarana rekreasi keluarga yang murah, sarana pendidikan,  sekaligus sebagai paru-paru kota. Tentu warga kota bahkan mungkin seluruh masyarakat Indonesia mengharapkan KBS tidak dikembangkan sebagai mesin uang.

Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya sebaiknya tidak terpancing dengan perpecahan internal di tubuh pengurus. Antar pihak yang berseteru tentu akan saling serang dan memberikan masukan buruk terhadap lawan-lawannya. Karenanya pemprov dan Pemnkot dituntut untuk melihat permasalahan secara jernih.  Pemerintah hendaknya memberikan kesempatan kepada Tim Manajemen Sementara untuk membenahi KBS.




 Alokasi Lahan di KBS
Hijauan dalam sangkar:3,1 ha   (20,7 %)
Hijauan luar sangkar:1,8 ha   (12 %)
Hijauan ruang terbuka:4,9 ha   (37,7 %)
Jalan:0,8 ha   (5,3 %)
Saluran air:0,2 ha (1,3 %)
Kolam dan bangunan:2,5 ha (16,7 %)
Sangkar satwa:1,7 ha (11,3 %)
Parkir:1 ha