Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 31 Agustus 2010

Betapa Indahnya Lebaran Bersamaan


Ketika kita yang berusia 40-50 tahunan masih anak-anak, hari Lebaran selalu terjadi secara serempak. Kalau pemerintah sudah menetapkan tanggalnya, maka semua akan mengikuti jadwal pemerintah tanpa syarat. Maka kita pun dapat berlebaran di rumah keluarga besar kakek dan nenek secara serempak. Semuanya bisa berkumpul tanpa ada yang ketinggalan.

Namun sudah sekitar 1,5 dasawarsa ini beberapa kali masyarakat kita terbelah dalam hal berlebaran. Ada yang merayakan sesuai hari yang telah ditetapkan pemerintah, tapi ada juga yang sehari sebelum atau sesudah jadwal resmi pemerintah. Akibatnya, kalau ada sebagian dari anggota keluarga besar kita yang berlebaran di luar jadwal yang telah ditetapkan pemerintah, maka acara lebaran bersama keluarga besar tak bisa dihadiri anggota keluarga secara utuh. Dalam suasana lebaran yang seperti ini  seolah ada yang hilang dan kurang dalam diri kita.

Hal yang serupa juga terjadi pada acara silaturahmi antar tetangga. Ketika masyarakat tak merayakan lebaran pada hari yang sama, maka akan ada pintu rumah tetangga kita yang ditutup rapat pada hari lebaran. Bahkan karena tak ingin menghadapi pertanyaan dari para tetangga tak jarang mereka harus mengungsi entah kemana. Ketika mendapatkan pertanyaan, ada yang menjawab dengan diplomatis agar tak menyinggung perasaan orang lain. Tapi ada yang terang-terangan menjawab bahwa mereka tak ingin merayakan lebaran pada hari puasa karena itu haram hukumnya.

Sudah beberapa kali kita mengalami lebaran tak serempak. Keluarga besar yang dulu selalu bisa berkumpul bersama-sama pada hari lebaran kini tak selalu bisa terwujud. Perayaan menjadi tak selalu berjalan serempak karena ormas Islam besar, NU dan Muhamadiyah  memiliki perhitungan yang berbeda dalam menetapkan berakhirnya bulan ramadhan. Kalau hasil perhitungan berbeda, keduanya sama-sama mengklaim memiliki dasar yang kuat bagi penetapan yang mereka buat.

Boleh jadi jadwal yang dibuat NU bersamaan dengan penanggalan pemerintah, tapi kagang-kadang juga penetapan Muhamadiyalah  yang sesuai dengan jadwal pemerintah. Meskipun ormas-ormas Islam itu tak pernah memaksakan penetapannya namun secara otomatis  para anggota akan mengikuti organisasinya. Maka kalau terjadi perhitungan yang berbeda, pastilah terjadi perayaan lebaran yang tidak serempak. Bahkan pemerintah sudah mulai tidak konsisten dengan jadwal yang ditetapkannya sendiri. Seperti yang terjadi tahun lalu, lebaran maju sehari.

Banyak ketidaknyamanan yang terjadi karena perayaan yang tidak serempak. Ini terutama kalau terjadi pada keluarga besar dan tetangga kita. Selain tak bisa berkumpul dan silaturahmi secara serempak juga menyebabkan semua rencana persiapan mulai dari jadwal mudik, penyiapan kue lebaran, anggaran belanja, dan sebagainya jadi meleset.

Karenanya kini kita merindukan datangnya masa ketika lebaran selalu bisa dirayakan secara serempak. Tak ada lagi salah seorang anggota yang hilang dalam pertemuan keluarga besar kita. Tak ada lagi pintu rumah tetangga yang ditutup rapat-rapat pada hari lebaran. Mungkinkan ormas-ormas Islam menyerahkan saja penetapan hari lebaran pada pemerintah agar kita bisa berlebaran dengan lebih indah dan damai?

Tidak ada komentar: