Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 06 Agustus 2010

Beli Stan Rp 300 Juta di Kaza, Buat Dagang Sepi Dijual Pun Tak Laku

Sungguh mengenaskan nasib kompleks pusat perbelanjaan Kapaskrampung Plaza (Kaza) dan Pasar Tambahrejo. Berbagai kiat telah dilakukan untuk menghidupkan pusat perbelanjaan itu, namun ternyata hasilnya sia-sia. Kaza dan Pasar Tambahrejo tetap dijauhi pembeli. Pemilik stan satu persatu menutup tokonya dan para penyewapun hengkang tanpa kembali lagi. Padahal kalau dilihat dari lokasinya yang diapit pemukiman yang padat penduduk, seharusnya pusat perbelanjaan ini bisa ramai pengunjung.
Kaza Surabaya (www.panoramio.com)
Setelah berganti nama dari East Point menjadi Kaza, pihak manajemen baru berusaha menghidupkan plaza tersebut dengan  menggratiskan parkir, menggelar pameran, festival, aneka lomba, pertunjukan band sampai gebug drum solo nonstop untuk memecahkan rekor Muri. Namun seiring dengan kegagalan sang drumer memecahkan rekor karena ambrug lebih dini, rontok pula berbagai program manajemen baru.

Anik, seorang penjaga stan salon peserta pameran mengatakan, pengunjung pameran sangat minim sehingga salon milik ipar yang dijaganya tak mendapatkan manfaat dari pameran. "Meskipun masa pameran diperpanjang tiga hari dan digratiskan, tapi percuma kalau pengunjungnya sepi. Justru perpanjangan pameran hanya menghabiskan energi saja," katanya ditemui Surabaya Raya di lokasi pameran beberapa waktu lalu.

Seorang pemilik toko gorden yang mengikuti pameran mengeluhkan sepinya pengunjung. "Masih lebih bagus pameran di Royal Plaza. Bahkan kondisi toko saya di Pasar Wonokromo masih lebih baik dari sini," katanya pada Surabaya Raya.

Sementara penjaga toko buku JP Book di komplek Pasar Buku Indonesia Cerdas (PBIC) yang berada di bawah manajemen Kaza mengaku sedikit sekali pengunjung yang menghampiri stan yang dijaganya. Bahkan seringkali tak ada satupun orang yang mampir.

Seorang pemilik stan di komplek yang sama yang dihubungi Surabaya Raya via telepon mengaku sejak membeli stan tahun 2003 lalu hingga kini hanya sempat buka beberapa hari saja. "Saya buka bareng-bareng dengan pemilik stan lainnya pada saat plaza yang baru selesai dibangun mulai dioperasikan. Saya hanya bertahan beberapa hari saja karena sepi pengunjung. Setelah itu para pemilik stan yang lainnya juga ramai-ramai menutup stan," ujar wanita yang mengaku bernama Sisi itu.

Maka stan ukuran 3 x 3 yang dibeli dengan harga hampir mencapai Rp 300 juta itu pun mangkrak. Dipakai berdagang tak ada pembeli, dijualpun susah karena harga awalnya sudah terlalu tinggi. Sisi mengaku tidak ingin lagi berdagang. Dia ingin menjual stannya, meski tak mendapatkan keuntungan sekalipun. "Saya rela melepaskan stan dengan harga tetap," katanya.

Namun Sisi masih beruntung tak diusik dan dipaksa membuka tokonya lagi oleh pihak manajemen Kaza dengan ancaman penyitaan jika perintah itu tak diikuti. Sebab paksaan dan ancaman  semacam itu kini dialami oleh para pedagang Pasar Tambahrejo yang berada di bawah kendali Perusahaan Daerah Pasar Surya. PDPS yang merasa sebagai pemilik pasar mencoba memaksakan kehendak. "Sampai sekarang saya tak pernah menerima surat apapun yang berkaitan dengan perintah untuk membuka toko atau ancaman penyitaan stan," ujar Sisi.

Adanya pemaksaan membuka toko diakui oleh Humas PDPS, Oscar Rahwadadi,. Dia mengatakan,PDPS memang sudah memberitahu pada  pedagang  pasar Tambahrejo agar segera menempati stannya sampai 25 Juli..Sesuai dengan aturan, lanjutnya, pedagang akan diberi sanksi yaitu dicabut hak atas stannya atau buku stan yang dipegang pedagang dibekukan sehingga tidak bisa berjualan lagi di sana. Alasannya, saat ini lantai II Pasar Tambahrejo kondisinya sangat memprihatinkan. Pada awal beroperasi  yang berjualan hanya 113 pedagang. Padahal jumlah stannya sebanyak 314 unit. Dalam perjalanannya pedagang yang bertahan sampai sekarang  hanya tersisa 9 pedagang. “Harapan kami pedagang bisa berjualan di sana lagi, kalau nggak pedagang harus siap menerima sanksi,” ungkapnya kepada Surabaya Post.

Walaupun mendapatkan ancaman, namun para pedagng hingga kini belum terlihat membuka tokonya. Tina yang mengaku memiliki toko di lantai 1 dan lantai 2 mengatakan, dia hanya membuka yang lantai 1. Sedangkan yang lantai 2 ditutup karena sepi pengunjung. Tentang ancaman PDPS untuk menyita stan yang tidak dibuka, dia mengatakan tidak tahu. "Saat ada rapat saya tak hadir karena sibuk. Toko saya sekarangpun yang mengurus anak-anak," katanya via telepon.

Dia tak tahu apa yang akan dilakukan kalau PDPS benar-benar melaksanakan ancamannya. Apakah akan mengajukan tuntutan hukum atau menyerahkan begitu saja stannya kepada PDPS. "Kalau menurut Ketua HPPnya kita disuruh menjual saja biar tak rugi. Tapi saya belum punya rencana apa-apa. Tunggu saja nanti," katanya.

Sebetulnya stan di Kaza maupun Pasar Tambahrejo bukannya tak diminati para pengusaha. Sejak bernama East Point pusat perbelanjaan tersebut telah dipenuhi para tenan. Yang terbesar adalah dari kelompok Ramayana, Robinson, yang menyewa sebagian besar ruangan plaza untuk Departemen Store dan Supermarket. Sedangkan tenan yang lainnya menyewa unit-unit yang lebih kecil. Namun satu persatu para penyewapun meninggalkan East Point karena sepinya pengunjung. 

Saat ini manajemen baru tampaknya juga berhasil mendatangkan beberapa tenan besar. Namun sebagian besar belum buka dan bagian depan toko ditulisi segera buka. Apakah kali ini mereka bakal hengkang juga?

Tidak ada komentar: