Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 14 Juli 2010

Pungutan Liar Petugas PLN


                                                  Para petugas PLN yang bertugas melayani keluhan masyarakat ternyata masih sering melakukan pungutan liar. Untuk perbaikan kabel luar yang sudah usang, mereka tak sungkan-sungkan memasang tarif. Para petugas yang berasal dari perusahaan rekanan PLN itu bisa leluasa melakukan hal itu tampaknya tak terlepas dari restu manajemen lokal.

Pengalaman tidak enak itu dialami oleh penulis sendiri ketika listrik beberapa rumah di kampung di kawasan Kalilom Lor Indah tiba-tiba mati. Karena listrik rumah yang lain tidak mati, maka kami sepakat menelepon petugas PLN bagian keluhan. Dalam waktu singkat para petugas PLN itu datang.
Setelah melakukan pemeriksaan, penulis mendapatkan masukan dari petugas PLN kalau kabel luar yang tersambung ke beberapa rumah sudah usang dan harus diganti agar tidak sering mengalami gangguan lagi. Setelah ditanya apakah ini berarti pelanggan harus mengeluarkan beaya, seorang di antaranya mengiyakan. Besarnya beaya untuk pembelian kabel sepanjang 50 meter harganya sekitar Rp 350.000. Sedangkan untuk ongkos petugas Rp 150.000 sehingga total beayanya mencapai Rp 500.000.

Ketika penulis menyatakan, perbaikan kabel luar seharusnya menjadi tanggungjawab PLN dan karenanya seharusnya gratis, koordinator petugas  membenarkan. Tapi kalau mau yang gratis, pelanggan harus mengajukan permohonan tertulis dulu ke PLN setempat. Setelah itu pelanggan harus menunggu selama dua bulan karena persediaan kabel tidak ada. Ketika penulis mempertanyakan apakah tidak cukup dengan mengajukan permohonan  melalui telepon, koordinator itu mengatakan silakan dicoba saja.

Karena listrik masih bisa menyala lagi dan beaya penggantian kabel mahal maka penulis memutuskan tidak mengganti kabel. Sedangkan seorang tetangga lain memutuskan membuat jalur sendiri dengan menggunakan kabel baru dan petugas dari luar..

Kejadian seperti itu ternyata tidak hanya terjadi pada penulis. Banyak pelanggan di tempat lain yang listriknya terkena gangguan juga ditarif oleh para petugas PLN. Kalau ini dibiarkan terus maka pungutan liar di kalangan PLN akan menjadi kebiasaan dan dianggap hal yang lumrah. Sehingga masyarakat tak tahu lagi mana yang kewajiban PLN dan mana tanggungjawab pelanggan.

Yang mengherankan kenapa PLN begitu keras bersikap kalau ada pelanggan yang telat membayar dengan langsung memberikan sanksi denda atau pemutusan aliran. Tapi di sisi PLN tak mau menyediakan pasokan kabel untuk melayani penggantian kabel, sehingga pelanggan tak harus membeli kabel sendiri kalau ada kerusakan kabel luar.

Selain itu kenapa pelanggan harus mengajukan permohonan lagi kalau sudah menyampaikan keluhan lewat telepon. Lalu apa gunanya PLN mencantumkan nomor telepon keluhan pelanggan. Kenapa juga pelanggan harus menunggu selama berbulan-bulan kalau ingin mengganti daya padahal meteran terus berjalan. Padahal banyak pertimbangan mendesak pelanggan harus mengganti daya. Misalnya saja karena perubahan tarif yang membuat listrik berdaya 1300 ke atas jadi mahal.

Selain itu seringkali rumah yang semula dipakai usaha, kini tak lagi dipakai usaha. Tentu  ini membuat orang harus menurunkan daya untuk efisiensi. Tapi kenapa hal ini harus dihambat dan beaya penggantian daya ini tak pernah di pasang di loket-loket PLN. Padahal ini penting demi transparansi dan menghindari pungutan liar.

Tidak ada komentar: