Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 20 Juli 2010

Pembangunan Pasar Turi Seharusnya Belajar dari Pasar Tambakrejo


Sikap merasa paling tahu dan paling berkuasa dalam persoalan pembangunan kembali pasar yang terbakar maupun peremajaan seharusnya ditinggalkan Pemkot Surabaya. Kenyatannya sikap seperti itu hanya membuat para pedagang lama yang seharusnya dibina justru menjadi binasa satu persatu.

Contoh kasus semacam itu sudah terjadi di Pasar Tambakrejo dan Pasar Wonokromo. Banyak pedagang lama di kedua pasar itu yang bangkrut karena kehilangan pelanggan. Besarnya cicilan untuk membeli stan tak dapat diimbangi dengan pemasukan dari berjualan, sehingga kerja keras mereka  seolah mubasir. Bukan hanya hasilnya tak bisa untuk menopang ekonomi keluarga, tapi bahkan sudah sampai menguras tabungan yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.

Anehnya setelah membuat terpuruk pedagang di kedua pasar itu, Pemkot masih hendak mengulanginya dalam pembangunan Pasar Turi. Wajar kalau kemudian para pedagang melakukan gugatan class action ke Pengadilan Negeri dengan alasan tak diikutsertakan dalam perencanaan pembangunan kembali Pasar Turi.
Pola pembangunan yang dilaksanakan Pemkot selama ini adalah selalu dengan menggandeng investor. Selanjutnya dalam pembangunan kembali ini jumlah stan selalu dilipagandakan jumlahnya. Penambahan jumlan stan ini biasanya tidak hanya untuk menambah jumlah toko, tapi juga untuk fungsi baru seperti departemen store, supermarket, bahkan hotel dan perkantoran. Tanpa mengkaji lebih jauh kemungkinan benturan kepentingan antar berbagai fungsi tersebut. Sebagai contoh pasar yang masuk kategori 'kotor' apa tidak bertabrakan dengan fungsi hotel yang selalu menuntut semuanya serba bersih dan indah.

Kedua pola ini, kehadiran investor dan pelipatgandaan stan, sangat berkaitan. Investor yang terpilih melakukan pembangunan kembali tentu tak mau merugi. Karena itu dia harus diberi hak untuk melipatgandakan jumlah stan yang akan dibangun sehingga keuntungan yang diperoleh bisa berlipatganda.

Sayangnya kepentingan investor untuk melipatgandakan jumlah stan ini jusru bertabrakan dengan kepentingan pedagang walaupun pihak pedagang tak selalu menyadarinya. Selama ini fakta menunjukan bahwa pengunjung pasar makin lama makin berkurang karena banyaknya bermunculan usaha-usaha perdagangan di sepanjang jalan dan PKL. Selain itu jumlah pengunjung terus merosot karena banyaknya bermunculan pusat-pusat perbelanjaan yang baru dan minimarket-minimarket.

Satu pusat perbelanjaan lama belum begitu ramai sudah muncul lagi pusat perbelanjaan lainnya. Begitu seterusnya sehingga makin lama pengunjung pasar, termasuk Pasar Turi terus berkurang. Dengan kondisi seperti ini mestinya tak perlu ada penambahan jumlah stan ketika pasar dibangun kembali. Tapi kenyataannya karena investor butuh keuntungan yang besar, jumlah stan harus dilipatgandakan.

Baik Pemkot maupun investor tak mau tahu kondisi pedagang yang sebenarnya. Pemkot hanya peduli pasar itu dibangun kembali tanpa mengeluarkan dana dari APBD dan investor hanya tahu bagaimana mengejar untung sebesar-besarnya.

Seringkali keinginan Pemkot ini dipaksakan supaya bisa diterima para pedagang. Pemkot melakukan hal itu karena merasa tanah maupun bangunan adalah asetnya. Padahal pedagang yang telah mengangsur stan selama bertahun-tahun dengan jumlah cicilan perbulan yang tak sedikit mestinya juga memiliki hak atas pasar. Karena itu bagaimanapun juga Pemkot harus menghormati hak pedagang.

Selain itu adanya pemaksaan kehendak menunjukan bahwa Pemkot merasa yang paling tahu masalah pedagang. Kenyataannya, pembangunan kembali pasar di bawah komando Pemkot justru mendorong pedagang ke arah kebangkrutan.

Upaya pedagang menempuh jalur hukum perlu mendapatkan apresiasi. Kita tinggal menunggu kepada siapa pihak pengadilan berpihak, pada kepentingan pedagang yang ekonominya tengah terpuruk atau ke Pemkot yang didukung investor bermodal kuat? Di sinilah kita akan kembali menguji kualitas sistem peradilan kita.

foto: www.skyscrapercity.com

Tidak ada komentar: