Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 28 Juli 2010

Pedagang Tambakrejo Ogah Buka Toko, Dosa Pemkot Juga

Ancaman Pemkot Surabaya lewat Perusahaan Daerah Pasar Surya (PDSP) kepada para pedagang Pasar Tambakrejo seperti dilansir Harian Surabaya Post (27 Juli 2010) sungguh mengejutkan. PDSP mengancam para pedagang yang tak mau membuka tokonya akan dicabut hak pemilikan stannya. 

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Tambahrejo H. Moh. Iksan mengatakan, pedagang sudah menerima surat pemberitahuan dari PDPS. Surat tersebut menimbulkan beragam reaksi dari pedagang. Ada yang menolak diusir tetap  menempati stannya, tapi ada pula yang siap pindah. “Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pedagang terkait dengan masalah ini. Sebab hal ini hak pedagang masing-masing. Mau terus berjualan, berhenti berjualan atau memindahtangankan kepada pihak lain,” kata Iksan kepada Surabaya Post, Selasa (27/7).

Tampaknya Pemkot lupa apa yang menimpa para pedagang Tambakrejo sekarang ini sebenarnya dosa Pemkot juga. Mestinya, PDSP tahu dalam kondisi sekarang ini membuka toko di Pasar Tambakrejo yang jadi satu kesatuan dengan Kapaskrampung Plaza - apalagi di lantai II - sama saja dengan bunuh diri. Pada awal pembukaan pasar sekitar tahun 1995, memang cukup banyak toko yang buka. Namun sejak dua tahun kemudian dan sampai sekarang banyak stan yang tutup. Dari ratusan stan yang ada di lantai atas, yang buka bisa dihitung dengan jari. Mereka yang buka di lantai I pun banyak yang mengeluh sepinya pembeli.
 
Pemaksaan terhadap para pedagang agar membuka tokonya dengan disertai ancaman pencabutan hak penguasaan stan sungguh tidak bijaksana. Apa yang menimpa Pasartambakrejo saat ini tak lain karena kesalahan perencanaan. Pembangunan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih dalam kondisi pedagang dan pola perilaku konsumen pasar menyebabkan bangunan yang megah ini seakan mubasir. Tidak dipakai berdagang sayang, dipakai berdagang tidak ada pembeli. 


Yang terjadi saat ini adalah jumlah stan atau toko yang berlebihan dan design bangunan yang membuat orang-orang kampung di sekitar pasar enggan berbelanja. Mereka lebih suka berbelanja di PKL yang ada di sekitar pasar, perempatan Jl. Kenjeran maupun Jl. Bronggalan. Tak perlu susah payah memarkir kendaraan dan berjalan pulang balik ke dalam pasar.


Sebelum pasar kebakaran sebetulnya sudah banyak stan yang tidak berfungsi, khususnya di bagian tengah. Apalagi stan di lantai II yang satu komplek dengan bioskop. Ini berarti memang sejak awal sudah terjadi kelebihan jumlah stan. Tapi dengan pembangunan kembali Pasar Tambakrejo paska kebakaran jumlah stan menjadi berlipatganda. Para pedagang yang sebelumnya sudah terpuruk menjadi kian termehek-mehek. Paska kebakaran banyak pelanggan yang lari ke tempat belanja lainnya. Ketika mereka menempati bangunan yang baru, mereka lebih sulit  mengumpulkan pelanggan baru karena adanya pesaing dari para pedagang baru.


Tidak hanya pedagang lama yang menderita, para pedagang barupun ikut melongo. Sebab stan yang telah mereka beli dengan harga mahal ternyata tak bisa dipakai berdagang. Alih-alih mendapatkan untung, kenyataannya mereka malah buntung.


Di satu sisi para pedagang terpuruk di sisi yang lain Pemkot dan investor untung. Pemkot membangun tanpa harus mengeluarkan dana sedikitpun. Investor untung besar karena stannya telah habis terjual dengan dana bank yang harus diangsur pembeli stan. Kalau kini PDPS mengancam mencabut pemilikan stan para pedagang yang tak mau membuka toko, maka sungguh ironis. Para pedagang adalah pelaku ekonomi kerakyatan yang harus dibina, bukan dibinasakan.

Tidak ada komentar: