Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 19 Juli 2010

Kreativitas PKL Buah Peneleh


Para PKL yang berdagang buah-buahan di kawasan stren kali Peneleh memilih pindah ke lokasi pilihan sendiri di Jl. Tanjungsari dari pada harus hijrah ke lokasi arahan Pemkot,  Pasar Induk Tambak Oso Wilangun. Ini merupakan kreativitas yang luar biasa dari PKL yang tak ingin nasibnya ditentukan pihak lain, yang belum tentu memahami kondisi pasar yang sebenarnya.

Meskipun terlihat megah, namun dengan lokasi di pinggiran kota dan jauh dari pemukiman penduduk, Pasar Induk Tambak Osowilangun sudah dapat dipastikan akan sulit berkembang. Karenanya memilih pindah ke lokasi ini, bagi para PKL buah Peneleh sama saja dengan bunuh diri. Walaupun harus diakui setelah pindah ke Jl.Tanjungsari, belum tentu otomatis mereka bisa berkembang. Namun tentu para PKL Peneleh sudah melakukan pengamatan sehingga bisa memastikan prospek lokasi pilihan mereka sendiri.


Langkah PKL Peneleh yang total omset perharinya mencapai Rp 100 juta itu perlu ditiru para PKL lainnya seperti PKL Pasar Keputran. Daripada selalu was-was menghadapi operasi penertiban yang digelar Satpol PP mending mereka mulai berpikir untuk mencari lokasi alternatif mereka sendiri. Kalau perlu mereka urunan membangun pasar sendiri secara sederhana di tempat yang mereka pilih sendiri. 

Bukankah selama ini mereka sudah cukup banyak mengumpulkan modal dari berdagang di kawasan Pasar Keputran? Fakta menunjukan, lokasi PKL Pasar Keputran telah menjadi pusat kulakan sayur mayur dan sembako yang sangat ramai dan tak tersaingi. Pusat kulakan ini melayani hampir seluruh wilayah kota Surabaya karena lokasinya di pusat kota. 

Sudah saatnya mereka mulai investasi untuk pengadaan tempat berdagang baru yang lebih aman dari penertiban, tidak mengganggu kepentingan umum, lebih bagus, dan lebih permanen. Bola ada di tangan pedagang dan jangan sampai dioper ke pihak lain termasuk Pemkot. Sebab selama ini Pemkot sering meleset dalam menangani persoalan pedagang. Sebagai contoh pembangunan kembali Pasar Tambakrejo dan Pasar Wonokromo. Karena tak paham kondisi lapangan dan terlalu bias pada kepentingan investor, banyak pedagang lama yang bangkrut. Padahal tempat berdagang yang lama telah berubah jauh lebih megah.

Pada tahun 1990-an, Pemkot juga pernah membangun Pasar Induk kendangsari yang dimaksudkan untuk merelokasi pedagang Pasar Keputran. Namun karena lokasinya terlalu ke pinggir, akhirnya Pasar Induk itu mangkrak dan tak terpakai.


Seperti diberitakan Surabaya Post,  Minggu. 18 Juli, PKL Peneleh yang berjumlah sekitar 90 orang itu segera pindah ke lokasi baru di jl. Tanjungsari Senin, 19 Juli 2010. Mereka  semula beberapa kali diberi deadline Pemkot untuk segera pindah dari stren kali Peneleh. Mereka tidak bisa memenuhi deadline itu karena lokasi pengganti yang mereka bangun sendiri belum jadi.

Anehnya meskipun telah diberitahu mereka sedang mempersiapkan lokasi pengganti, Pemkot seolah tak mau tahu dan terus mendesak PKL Peneleh yang terdiri dari 50 lapak itu segera pindah. Seharusnya Pemkot mendukung upaya PKL Peneleh yang tak mau merepotkan pemerintah mencarikan lokasi pengganti. Kalau PKL sudah mau mengambil inisiatif sendiri, Pemkot tinggal memberikan dukungan saja.


Foto  : reportaseoline.com



Tidak ada komentar: