Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 06 Juli 2010

Kenaikan Harga Berantai di Awal Tahun Ajaran Baru


                                                  Kebanyakan orangtua yang anaknya masih sekolah pasti dibuat pusing dengan kondisi ekonomi akhir-akhir ini. Di samping harus menyiapkan beaya untuk menghadapi tahun ajaran baru bagi anak-anak, mereka juga harus menghadapi serangan kenaikan harga secara berantai.

Beberapa minggu terakhir ini masyarakat dibuat pusing dengan naiknya harga beberapa kebutuhan pokok. Seperti telur misalnya semula 1/2 kg hanya Rp 5600 - Rp 6000, kini sudah menjadi Rp 7.000. Daging ayam 1/4 Kg yang semula Rp 5000 menjadi Rp 7000. Begitu juga harga sayur-mayur dan bumbu semuanya meroket sehingga merogoh semakin dalam kocek ibu-ibu.
Kondisi ini diperburuk dengan kenaikan TDL untuk listrik berdaya 1300 ke atas. Walaupun sekitar 80% pelanggan listrik yang berdaya 450 dan 900 tak mengalami kenaikan tarif, namun mereka semua akan terkena dampak kenaikan harga barang-barang sebagai akibat kenaikan TDL. Sebab hampir semua usaha menggunakan listrik 1300 ke atas.

Masuknya pengusaha pers, Dahlan Iskan, ke jajaran Direksi PLN ternyata tak membawa berkah bagi masyarakat Indonesia tapi malahan menambah beban. Selama tujuh tahun ini PLN tak pernah menaikan tarif listrik, tapi berkat kehadiran Dahlan, kenaikan tarif itu akhirnya terjadi. Mengelola BUMN seperti PLN tidaklah sama dengan perusahaan yang  murni swasta. Di perusahaan swasta kalau untungnya berkurang sedikit saja, langsung  bisa menaikan harga komoditinya. Tapi untuk perusahaan negara, jajaran direksi harus bisa menahan diri karena PLN adalah perusahaan negara yang mengelola bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Menurut pasal 33 UUD 1945, bidang-bidang semacam ini dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Kenaikan tarif TDL ini tidak hanya merugikan masyarakat Indonesia saja tapi juga reputasi Grup Jawa Pos. Sebagai koran besar yang terbit dari Surabaya, kini independensi dan keberpihakannya pada kepentingan publik dipertanyakan. Bagaimana tidak,  kalau sang bos sudah menjadi pegawai pemerintah?

Sebentar lagi anak-anak sekolah mulai memasuki tahun ajaran baru. Para orangtua pasti sudah pusing menyiapkan segala kebutuhan sekolah anak-anaknya. Mulai dari buku tulis, buku pelajaran, dan seragam sekolah. Bagi sebagian lagi orangtua yang memasukan anak-anaknya ke SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi pasti lebih berat lagi. Karena mereka harus menyiapkan beaya untuk pendaftaran dan uang gedung. Semoga sekolah-sekolah tidak membuat situasi semakin runyam dengan memberlakukan pungutan-pungutan yang tidak perlu dan berlebihan.

Sumber Foto: tiyangnem.worldpress.com

Tidak ada komentar: