Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 21 Juli 2010

Kaos Cak-Cuk, Mengeksplor Pisuhan Dan Kepahlawanan Bonek


Kalau di Yogyakarta ada Degadu dan di Bali ada Jogger,  kini di Surabaya ada kaos Cak-Cuk. Kaos ini dirancang sebagai souvenir atau cendera mata untuk para wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Surabaya.

Karena untuk souvenir, bagian depan atau belakang kaos Cak-Cuk dihias dengan gambar-gambar yang dilengkapi kata-kata yang khas dan unik kota Surabaya. Kebanyakan hiasan seperti ini lebih kental warna humornya. Seperti pisuhan khas Surabaya yang dituangkan dalam kalimat berikut ini, “Seperti halnya batik, misuh adalah budaya warisan leluhur yang harus dijaga (sebelum diklaim milik negara tetangga). Masih di sekitar pisuhan, kaos yang lainnya menampilkan kamus “Bahasa Misuh Surabaya – Inggris”, lengkap dengan perincian kata-kata pisuhan dan terjemahannya.

Kaos Cak-Cuk juga banyak menampilkan ilustrasi tentang kepahlawanan Arek-Arek Suroboyo pada tahun 1945. Namun penggambarannya lebih banyak dilakukan dengan plesetan. Simak kalimat-kalimat yang diberi judul “Semua Gara-Gara Bonek” ini, “Di Jembatan Merah tahun 1945, Jendral Inggris AWS Mallaby tewas di tangan bonek hingga pecah perang Surabaya, perang terdahsyat yang pernah dialami Inggris di Asia.”

Kepahlawan  Arek-Arek Suroboyo juga diplesetkan dengan kata-kata berikut ini, “Bonek 10 Nopember 1045 pahlawan terlupakan.  Bonek tidak hanya berani bertarung di  lapangan hijau. Tetapi juga bertaruh nyawa di Jembatan Merah.”.

Lokalisasi WTS Dolly, yang konon disebut-sebut yang terbesar di Asia Tenggara, diplesetkan menjadi Dollywood. Kata ini mengingatkan kita pada suatu kawasan perfilman di Amerika Serikat Hollywood atau di India Bollywood.

Tapi tidak semuanya diplesetkan. Ada juga yang menampilkan ikon-ikon Surabaya secara serius. Contohnya kaos yang bergambar Bung Tomo yang kini telah bergelar sebagai Pahlawan Nasional.

Produsen kaos Cak-Cuk, Dwita Roesmika, arek Suroboyo asli kelahiran tahun 1977 mengakui kaos Cak-Cuk terinspirasi kaos Degadu dari Yogyakarta. Selain itu munculnya kaos Cak-Cuk didorong rasa prihatin terhadap minimnya produk souvenir khas Surabaya. “Saya lihat orang luar kota, kalau cari oleh-oleh beli krupuk di Pasar Genteng. Lalu saya mencoba membuat kaos Cak-Cuk untuk memperkaya souvenir khas Surabaya,” ujar dia.

Pertama kali dia merintis usaha di Royal Plaza. Banyak tanggapan positif dari masyarakat tapi mereka mengeluhkan susahnya mencari stan Cak-Cuk yang terpencil. Mereka menyarankan bikin toko di pinggir jalan saja, biar mudah dijangkau pembeli. “Usulan itu saya ikuti dengan mendirikan toko di Jl. Darmawangsa. Apalagi sewa stan di Royal dinaikan, “ ujar mantan pegawai accounting Plaza East Point itu.

Awalnya kurang laku sehingga dirinya sempat berpikir apakah barang dagangannya kurang diminati masyarakat. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk berpikir positif. “Alhamdulillah dalam waktu dua tahun, kaos Cak-Cuk mulai menuai untung. Tapi belum bisa dinikmati karena saya masih invest menambah outlet,” kata pria lajang ini.

Saat ini Dwita memiliki empat outlet  Selain yang di Jl. Darmawangsa, dia juga memiliki toko di Jl. Mayjen Sungkono, Jl. Raya Suramadu, dan Bandara Juanda. “Sekarang ini omset  total kaos Cak-Cuk berkisar antara Rp 150 juta- 200 juta/bulan,” katanya.

Kata Cak-Cuk itu sendiri diambil dari kata Cak yang berarti panggilan untuk orang laki-laki atau kakak dan Cuk yang merupakan kata pisuhan khas Surabaya. “Kedua kata itu sangat mewakili Surabaya yang blak-blakan dan egaliter,” katanya.

Tidak ada komentar: