Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 24 Juli 2010

Jaksa Terima Suap, Kenapa Hanya Sanksi Disiplin?


Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim bertindak tegas dengan menghukum enam jaksa nakal. Mereka dijatuhi sanksi disiplin setelah menerima uang dari pihak yang berperkara saat mengusut kasus pidana. Begitulah kata berita di Jawa Pos (22 Juli 2010) yang bersumber dari Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jatim M. Farela.
Pertanyaannya apakah sanksi hanya berhenti sampai di situ? Bukankan menerima suap masuk kategori korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang bisa dijerat UU anti korupsi? Kalau begitu para jaksa nakal itu seharusnya masih bisa diproses lebih lanjut yang membuatnya dijatuhi hukuman penjara. Kenapa pihak Kejati tak membawa kasus ini ke kepolisian untuk diusut sisi pidana korupsinya?

Kepala Kejati mengungkapkan, bentuk sanksi terhadap jaksa nakal beragam. Jaksa yang melakukan pelanggaran berat, kata dia, dihukum penurunan pangkat. Empat orang yang melakukan pelanggaran ringan disanksi penundaan kenaikan pangkat hingga penundaan gaji.Sanksi itu dijatuhkan setelah dalam satu semester ini kejati menerima 93 laporan dari masyarakat yang mengadukan perilaku nakal para jaksa saat mengusut perkara. Berdasar laporan itu, kata dia, kejati menjatuhkan sanksi kepada 12 orang. Enam orang adalah jaksa aktif. Enam orang lainnya berasal dari bagian tata usaha.

Sayangnya Farel tak secara tegas menyebutkan apakah mereka yang terlibat suap akan diproses pidana korupsinya. Sebab kalau hanya diberi sanksi penurunan pangkat atau penundaan kenaikan pangkat, kurang memiliki pengaruh efek jera. Kapan-kapan ada peluang, mereka pasti akan melakukan lagi dan bahkan mungkin nominalnya bakal berlipat ganda. Dan mereka pun akan terus menebar dan membiakan virus korupsi. Di tangan penegak hukum seperti inilah, hukum di Indonesia begitu mudah dipermainkan. Di tangan merekalah muncul vonis yang aneh-aneh. Seperti terpidana pembunuhan yang mendapatkan korting lebih dari separo masa hukumannya.
Boleh jadi kalau nanti dapat pimpinan yang cocok, para jaksa nakal masih bisa dipromosikan dan naik pangkat. Bahkan tak menutup kemungkinan suatu saat dia bisa menjadi Kejati di tempat lain. Itulah yang sering terjadi, apalagi identitas sang jaksa nakal itu tak diungkapkan. Bagaimana nanti kita bisa lakukan checking?

Dengan ringannya sanksi ini, apakah ini menunjukan penerimaan suap atau pemerasan sudah sangat umum di kejaksaan. Sehingga sanksi yang ringan merupakan bentuk empati dari mereka yang belum terjaring kasus untuk mereka yang sudah terkena kasus.

Tidak ada komentar: