Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Jumat, 16 Juli 2010

Angkota Semakin Ditinggalkan, Busway Proyek Latah


Sistem transportasi kota kini tampaknya semakin bertumpu pada kendaraan pribadi. Angkota semakin ditinggalkan masyarakat karena  banyak alasan yang mendasar. Seperti  jalurnya berliku sehingga lebih lambat tiba di tempat tujuan, ongkosnya mahal, dan seringkali tidak bisa turun sampai tujuan sehingga pengguna angkota masih harus berjalan kaki agak jauh atau naik becak.

Kebanyakan warga kota kini beralih pada kendaraan pribadi, sepeda motor.. Selain ongkosnya jauh lebih murah, sepeda motor jalannya lebih gesit, jalurnya tidak berliku, cepat sampai tujuan dan bisa langsung turun di tempat yang dituju. Karena itu kendaran beroda dua ini semakin hari semakin memenuhi jalanan. Apalagi dengan sudah memasyaratnya sistem  4 tak, sepeda motor kini tak lagi menimbulkan polusi. Bahkan orang-orang kaya kadang-kadang untuk mengatasi jalan macet, sering lebih suka menggunakan sepeda motor daripada mobil karena di jalanan yang lalu-lintasnya padat, sepeda motor lebih gesit.

Sebagai perbandingan, kalau menggunakan sepeda motor dengan bensin seliter seharga Rp 4500, sudah bisa pulang pergi  ke kantor, tempat bekerja atau sekolah selama dua hari. Kalau untuk naik angkota sehari sedikitnya harus mengeluarkan beaya sebesar Rp 6.000. Ini kalau cukup menggunakan satu lyn saja. Seringkali untuk ke tempat kerja harus menggunakan dua lyn sehingga kalau ini yang terjadi pengeluaran untuk angkot saja perhari sudah mencapai Rp 12.000. Belum lagi kalau ternyata tempat turunnya angkota itu masih agak jauh dari tempat yang dituju. Para pengguna angkota mungkin harus berkeringat dulu untuk jalan kaki atau mengeluarkan uang lagi untuk naik becak.


Karena mahalnya beaya itulah banyak warga kota yang meninggalkan angkota dan beralih pada sepeda motor, Akibatnya kini banyak sopir angkota yang beralih profesi menjadi sopir angkutan barang, buruh, bangunan, jadi PKL,  atau apa saja karena sepinya penumpang.


Dengan kondisi seperti itu ada baiknya gagasan pengadaan busway sebagai alternatif angkutan massal dipikirkan masak-masak. Kalau perlu sebelum proyek itu diwujudkan, dilakukan survei secara mendalam tentang pola perilaku masyarakat dalam menggunakan mode transportasi. Jangan sampai proyek yang beayanya ratusan milyar itu malah ditinggalkan warga kota dan justru membuat jalanan jadi macet. Bagaimanapun busway membutuhkan jalan tersendiri yang menghalang-halangi jalan moda transportasi lainnya.

Boleh saja Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya berangan-angan busway akan menggantikan 35 % penggunaan kendaraan pribadi. Namun kondisi di lapangan menunjukan menggunakan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor masih jauh lebih murah dan praktis. Kalau motifnya untuk latah-latahan  mengikuti Jakarta biar dibilang metropolis, proyek busway merupakan pemborosan yang tidik ada manfaatnya. Lebih baik dana sebesar itu digunakan untuk kepentingan yang lebih mendesak.
Dalam APBD Kota Surabaya Tahun 2007 nilai proyek pengadaan busway  mencapai Rp 206 milyar dengan kebutuhan dana tahap awal mencapai Rp 90 miliar atau sekitar 43%.

Foto : 
rumit10111.wordpress.com

Tidak ada komentar: