Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Minggu, 13 Juni 2010

Pembangunan Kembali Pasar, Kepentingan Pedagang Yang Utama




Pemkot mulai berancang-ancang membangun kembali Pasar Turi yang hangus terbakar api beberapa tahun silam. Walaupun negosiasi dengan pengembang dikabarkan belum tuntas namun Pemkot berniat untuk segera memindahkan secara paksa pedagang di TPS. Sayangnya sampai sekarang tak jelas konsep pembangunan yang akan dilakukan. Yang dikhawatirkan, pembangunan kembali Pasar Turi tak mengindahkan kondisi pedagang yang real sehingga  fisik pasar yang kian gemerlap justru akan berbuntut pemiskinan para pedagang.

Seperti diberitakan Harian Surya (4/6) 2010, Pemkot kini tengah bernegosiasi dengan pemenang lelang PT. Gala Bumi Perkasa. Demi kelancaran pembangunan, Pemkot berniat memindahkan secara paksa pedagang dari TPS walaupun negosiasi itu belum tuntas..

Sikap pedagang yang  enggan pindah dari TPS tampaknya patut dimaklumi. Selama ini proses pembangunan kembali pasar yang terbakar ataupun secara sengaja  direncanakan untuk diremajakan selalu berakhir dengan kehancuran para pedagang lama dan meredupnya aktivitas pasar itu sendiri. Sebagai pihak yang berwenang untuk meremajakan pasar tradisional, Pemkot tampaknya kurang mempertimbangkan kondisi pedagang.

Sudah lama pasar tak kondusif lagi sebagai sarana untuk mencari sumber nafkah bagi para pedagang. Masalahnya dalam 1,5 dasawarsa terakhir ini, pertumbuhan  tempat usaha di sekitar pasar sangat pesat, yang diikuti juga dengan hadirnya PKL yang selalu mengerumuni pasar. Belum lagi dengan kehadiran minimarket-minimarket yang dimodali konglomerat. Ini semua membuat kue yang bisa dinikmati para pedagang pasar kian menyusut. Hanya sebagian kecil saja pedagang yang mampu bertahan hidup dengan baik. Sedangkan sebagian besar dalam kondisi hidup enggan matipun tak mau.

Sayangnya PD Pasar selaku instansi yang bertugas mengelola pasar tradisional tak pernah melakukan survei tentang kondisi para pedagang yang sebenarnya. Kalaupun ada mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak pernah diumumkan secara transparan kepada pedagang maupun masyarakat luas. Ini tentu membuat pembangunan kembali pasar tradisional seolah tanpa arah dan haluan yang jelas karena tak memperhitungkan kondisi para pedagang yang sebenarnya.

Setelah pasar dibangun kembali pada umumnya jumlah stan menjadi berlipat ganda. Ini karena selain untuk para pedagang lama, pemilik modal berkepentingan mereguk untung dari menjual stan kepada pedagang baru. Ini menyebabkan over supply stan yang tidak menguntungkan pedagang lama maupun baru. Dengan jumlah pedagang yang terlalu banyak, berdagang di pasar jadi tidak menguntungkan. Apalagi pasar harus bersaing dengan usaha yang bertebaran di tepi jalan, termasuk para PKL yang mengerumuni pasar.

Dengan kondisi usaha yang tidak menentu ini pedagang dibebani kewajiban mencicil angsuran stan yang harganya biasanya berlipatganda. Bagaimanapun pemilik modal yang diberi hak membangun kembali pasar tentu ingin keuntungan yang sebenar-besarnya sesuai dengan hukum ekonomi. Karena itu merekapun akan memberlakukan harga pasar tak peduli bagaimanapun kondisi yang dihadapi pedagang saat ini. Akhirnya bisa ditebak para pedagang harus kerja bakti karena seluruh hasil keuntungannya habis untuk membayar cicilan atau hanya tersisa sedikit untuk hidup seadanya.Dengan kondisi seperti ini, tak sedikit pedagang yang memutuskan untuk berhenti berdagang di pasar dan meninggalkan stannya dalam keadaan kosong dan akhirnya disita karena tak kuat membayar cicilan. Seperti yang terjadi di Pasar Tambakrejo.

Design pasar tradisional yang mengutamakan kuantitas stan daripada kenyamanan berdagang sementara luas lahannya tetap maka ini membuat sebagian besar stan arealnya sangat sempit, tidak bisa digunakan untuk nyetok barang. Dengan stan yang sempit, sekitar 3 x 2, pedagang hanya bisa kulakan dalam skala kecil dan tak bisa mendapatkan harga murah. Selain itu kulakan harus dilakukan bolak-balik sehingga membut beaya operasional membengkak.

Selain itu design pasar yang tertutup tak memungkinkan kendaraan roda dua, becak atau pickup masuk langsung di depan stan.Kalau pasar didesign sedemikian rupa sehingga setiap lajur stan dipisahkan jalan beraspal yang memungkinkan kendaraan kecil bisa masuk, maka ini akan dapat menekan beaya operasional pedagang sehingga mereka bisa menyisihkan keuntungan lebih banyak.Selain itu para pengunjung pasar tak malas lagi masuk pasar. Selama ini mereka memilih membeli di PKL sekitar pasar karena tak perlu jauh-jauh masuk pasar dan bisa parkir kendaraan langsung di depan pedagang tanpa ditarik beaya parkir.


Selain itu dengan harga selangit, pembeli stan hanya mendapatkan status hak pakai, yang harus diperpanjang setiap lima tahun sekali. Ini berarti setiap lima tahun sekali, mereka harus mengeluarkan beaya dan berhadapan dengan birokrasi yang berbelit. Bisa saja kalau Pemkot membutuhkan stan, permohonan perpanjangan hak pakai ditolak. Belum lagi beban membayar retribusi, di luar beaya service charge yang tak perlu dikeluarkan, bila pedagang masuk ke pasar swasta.

Pembangunan kembali pasar tradisional tanpa memeprtimbangkan kondisi pedagang lama sama saja akan menambah problem sosial. Kota memang tampak lebih megah, bersih, dan rapi. Tapi apa gunanya kalau di dalamnya berisi banyak pengangguran dan orang-orang yang selalu hidup pas-pasan.

http://www.kabarindonesia.com. (link foto)

Tidak ada komentar: