Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 14 Juni 2010

Pusat Kota Kini Beralih ke Kawasan Mayjen Sungkono

Superblok Ciputra World 
Selama sekitar 1 abad ini, pusat kota Surabaya telah mengalami beberapa kali pergeseran. Kalau pada awal abad ke 20, kota cenderung berpusat di kawasan CBD Kembang Jepun, lalu bergeser ke kawasan Tunjungan - Basuki Rahmat, maka tampaknya tak lama lagi akan bergeser ke kawasan Mayjen Sungkono.
Peralihan pusat kota ini dipacu dengan perkembangan yang pesat di kawasan Surabaya Barat. Selama duapuluh tahun terakhir ini, tiga pengembang PT. Ciputra Surya. PT. Pakuwon Jati, dan PT. Dharmala Land telah membangun kawasan pemukiman mewah lengkap dengan sarana pendukungnya di kawasan itu.



Bahkan PT. Ciputra Surya telah berhasil mengembangkan kota baru seluas 1000 ha dan kelak juga 1000 ha di Gresik yang saling berdampingan lokasinya. Saat ini di kawasan itu telah berdiri pemukiman mewah dan menengah seperti Citra Land, Pakuwon Indah, Bukit Darmo, Graha Family, Darmo Harapan, Darmo Satellite Town, Kupang Indah, Bukit Mas, Darmo Hill, dll. Selain itu telah  berdiri Supermal Pakuwon, Waterpark Ciputra, lapangan golf Ciputra dan Dharmala Land.
Semuanya itu menjadi pemicu perkembangan kawasan Mayjen Sungkono. Di kawasan ini (Jl.Mayjen Sungkono, Jl. HR,Muhammad, dan Jl.Adityawarman) telah berdiri hotel bintang lima, SanghriLa, Hotel Somerset, Pusat Perbelanjaan Darmo Park I dan II, Apartemen Paragon, Surabaya Square Town (Sutos), TVRI,  Arek TV, dan sejumlah sekolah seperti Petra, Sekolah Ciputra, Universitas 17 Agustus, Universitas Ciputra, dan Unesa.
Yang kini tengah dibangun di Jl. Mayjen Sungkono adalah superblok Ciputra World di areal seluas 7,7 ha. Areal ini terdiri dari 150,000 m2 untuk  shopping centre, 6 menara apartemen yang total berjumlah 1,500 units, 5 hotel berbintang lima dengan ballroom seluas 3,000 m2, dan sebuah menara perkantoran. Pada tahap awal dibangun Mal Ciputra seluas 86.000 m2.
Dibanding dengan lokasi Kembang Jepun dan Tunjungan-Basuki Rahmat, lokasi kawasan Mayjen Sungkono memang lebih kondusif sebagai pusat kota. Selain jalannya jauh lebih lebar, kawasan ini juga berhubungan langsung dengan akses jalan tol.
Dulu pada tahun 1990-an,  kawasan segi empat emas (Kawasan Tunjungan) pernah diperebutkan pengembang untuk membangun superblok. Tapi karena kawasan itu sudah terlalu padat dengan bangunan milik penduduk dan permintaan ganti ruginya terlalu tinggi, maka kawasan tersebut ditinggalkan investor.
Selain itu ketika direncanakan sebagai kawasan CBD (Central Bussines Distric), kawasan Mayjen Sungkono realtif belum banyak yang terbangun sehingga proses pembebasan lahannya lebih mudah dan murah. Pembangunan kawasan ini diplot dengan sistem blok dengan ketentuan mereka yang akan membangun di lokasi ini minimal harus memiliki lahan seluas 1 ha.
Sayangnya kawasan Mayjen Sungkono dan sekitarnya (Jl. Ciliwung dan Jl. Hayam Wuruk) sampai saat ini masih menjadi langganan banjir. Ketika terjadi hujan lebat, ketinggian genangan air di kawasan ini bisa sampai lutut orang dewasa. (Surya, 2 Pebruari 2010)
Di kawasan Jl Mayjen Sungkono, genangan air terjadi mulai dari lokasi depan Hotel Shangri-La di sisi barat hingga sekitar depan Gedung Juang 45. Begitu pula ruas jalan di sisi selatan genangan air membentang dari lokasi depan kawasan proyek Ciputra World Jl Mayjen Sungkono di sisi timur hingga ke arah barat di pertigaan arah Pakis Argosari.
Genangan air yang sering menyebabkan kemacetan lalu-lintas ini tak jarang menyebabkan kerusakan mobil. Bahkan berdasarkan pengalaman beberapa pengguna jalan, ada mobil baru yang rusak dan masuk bengkel karena kemasukan air.

Tidak ada komentar: