Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 19 Juni 2010

Memperluas Taman Kota


Dalam satu dasawarsa terakhir ini penampilan fisik kota Surabaya berkembang dengan cepat. Di antara bangunan superblok dan gedung jangkung, berdiri taman-taman yang asri dan hijau. Ini disebabkan karena beberapa tahun terakhir ini Pemkot dengan serius membenahi taman-taman kota dan menjadikannya go public - dapat dikunjungi masyarakat luas secara gratis.


Namun kalau kita rasakan secara kuantitas jumlah taman-taman kota di Surabaya sebetulnya masih sangat kurang. Taman-Taman yang kini sudah tampak cantik sebenarnya hanya taman-taman lama yang diupgrade. Tak ada lagi tambahan taman-taman baru secara signifikan yang membuat kota ini lebih lapang dan lega. Yang kita khawatirkan kalau taman-taman dan lahan terbuka hijau tak bertambah, kota ini akan menjadi sumpek, penuh polusi, panas dan tak nyaman untuk ditempati.


Memang ada penambahan ltaman-taman kota, tapi itu sangat kecil karena tambahan itu hanya berasal dari  jalur hijau pemisah jalan yang semula digunakan untuk Pom Bensin. Penambahan semacam ini tentu sangat kurang karena kebutuhan kota ini akan ruang terbuka hijau masih sangat besar.

Akhir-akhir ini kita juga dibuat khawatir dengan sengketa yang menyangkut lahan Kebun Bibit. Ruang terbuka hijau ini berada di tengah kota sehingga sayang kalau harus diubah menjadi ruko hanya gara-gara sengketa tanah yang dimenangkan perusahaan pengembang PT. Surya Inti Permata. Menurut cerita, pengembang ini pernah mendapatkan izin untuk mengelola lahan ini tapi kemudian Pemkot Surabaya melakukan pembatalan karena sesuai perda nomor 7 tahun 2002 kebun bibit diplot sebagai ruang terbuka hijau.

Dalam perkembangannya sengketa tersebut telah dimenangkan oleh pengembang. Menyusul kemenangan itu, PN Surabaya telah mengeluarkan perintah penyerahan kebun bibit itu dari Pemkot ke pengembang. Namun Pemkot berniat tetap mempertahankan kawasan itu sebagai lahan hijau karenanya menolak penyerahan. Sejak tahun 2006 sudah dibentuk UPT Pengelola dan setiap tahun ada anggaran dari pengelolaan dari APBD.

Meski Direktur Utama PT SIP, Henry J Gunawan menyatakan akan tetap mempertahankan Kebin Bibit sebagai ruang terbuka hijau, namun kita sebagai warga kota tetap was-was suatu ketika kawasan itu berubah menjadi ruko. Apalagi  berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah peruntukan lahan mudah sekali diubah menjadi fasilitas komersial melalui perubahan peruntukan di Dinas Tata Kota maupun DPRD. Biasanya prosesnya berlangsung secara diam-diam.

Biasanya alasan perubahan peruntukan itu untuk meningkatkan nilai guna lahan. Itu yang diungkapkan secara terbuka kepada publik. Namun seringkali agenda tersembunyi dari pelepasan tanah asset Pemkot itu karena banyak pejabat yang mengincar komisi untuk memperkaya diri. Tentu kebiasaan seperti ini harus segera diakhiri dengan menyeret para pejabat yang terlibat ke meja hijau untuk mencegah kerusakan kota yang terlalu jauh.

Pelepasan tanah aset Pemkot juga banyak terjadi pada eks tanah ganjaran. Tanah-tanah itu biasanya ditukar dengan tanah di pinggiran kota oleh pihak pengembang. Tanah-tanah itu digunakan untuk kepentingan komersial seperti pembangunan perumahan, ruko, pusat perbelanjaan dan perkantoran.

Sudah terlalu banyak eks tanah ganjaran yang berlokasi di tengah kota ditukarguling kepada swasta. Kita tidak tahu  lagi berapa yang masih tersisa atau bahkan malah sudah habis. Padahal kalau saja pejabat Pemkot mau, eks tanah ganjaran bisa digunakan untuk perluasan taman-taman, lapangan olahraga atau pengembangan pertanian kota. Memang Pemkot tak dapat banyak uang dari proses semacam ini tapi di masa mendatang akan sangat menguntungkan bagi perkembangan kota. Kota ini akan memiliki taman-taman yang luas dan asri, dan memiliki lapangan olahraga yang memadai di tengah kota.

Keinginan Walikkota terpilih, Tri Rismaharini, untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan seperti diungkapkan di Universitas Wijaya Kusuma tentu perlu diapresiasi. Dengan konsepsi pembangunan seperti itu tentu dia akan berusaha menambah porsi lahan hijau kota dan mempertahankan yang sudah ada. Kuncinya adalah menghentikan pengoperan lahan-lahan Pemkot di tengah kota untuk kepentingan komersial dan memplot untuk lahan terbuka hijau.



Tidak ada komentar: