Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 23 Juni 2010

Hedonisme Ala DPRD Surabaya

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana anggota dewan pusat meminta dana aspirasi Rp 15 miliar untuk setiap anggota dewan? Di Surabaya trend seperti ini juga ada. Belakangan ini tersiar kabar DPRD Surabaya meminta dibangunkan gedung baru yang lebih representatif. Gedung DPRD Surabaya yang saat ini berlokasi di Jl. Yos Sudarso dipandang sudah tak layak pakai dan terlalu sempit (Tempo Interaktif, Selasa, 22 Juni 2010). Pernyataan itu tak main-main diucapkan oleh Ketua DPRD KMS sendiri, Wisnu Wardhana.


Menurut Wisnu, permintaan gedung baru telah disampaikan kepada Pemerintah Kota Surabaya dalam rekomendasi DPRD saat menyikapi laporan pertanggungjawaban Walikota Surabaya. Seluruh anggota DPRD, kata Wisnu, sudah menyetujui diperlukannya gedung baru untuk meningkatkan kinerja anggota DPRD dalam melaksanakan tugasnya.

Kalau kita pernah datang ke Gedung DPRD Kota Surabaya, pasti kita sepakat bahwa gedung itu sangat megah. Fasilitas di dalam untuk ukuran warga kota cukup mewah. Mulai dari Ruang Fraksi, Ruang Ketua DPRD, Ruang Wakil Ketua DPRD, Ruang Komisi, Ruang Pegawai Sekretariat, Ruang Sidang Paripurna dan Lobi yang fullAC, perlengkapan mebel dan lampu ruangan yang mewah. Begitu juga kamar mandi dan WC yang ada di gedung berlantai tiga ini.

Ruangan masih cukup longgar untuk menampung seluruh anggota dewan maupun para tamu. Begitu juga tempat parkirnya, jarang sekali terlaihat full kendaraan. Hanya kalau ada Sidang Paripurna yang diwarnai aksi demo dari masyarakat saja, tempat parkirnya kelihatan meluber.

Entah ukuran apa yang dipakai oleh para anggota DPRD Surabaya sehingga mereka menilai gedung yang mereka tempati selama ini sudah tidak memadai lagi. Apa mereka sering keluar masuk hotel berbintang lima dan tempat-tempat mewah lainnya, sehingga mereka menggunakan standar di tempat-tempat itu? Kalau begitu mengapa mereka tidak mau melihat kondisi ekonomi masyarakat dan konstituen mereka yang masih masih berkutat dengan kebutuhan dasar saja?

Sinyalemen ini tampaknya tidak berlebihan. Suatu ketika saya datang ke gedung ini dan masuk ke kantin. Ternyata di sana sama sekali tidak ada anggota dewan padahal jam makan siang sudah tiba. Dulu kalau siang kantin selalu dipenuhi para tamu dan anggota dewan yang sedang menghilangkan rasa lapar. Mereka melebur dengan rakyat.

Informasi yang didapat dari penunggu kantin, memang sudah lama kantin itu tidak dikunjungi  anggota dewan. Bahkan dulu pintu kantin yang langsung menuju ruang dalam gedung dewan sekarang ditutup, digantikan dengan pintu menuju halaman samping gedung. Mungkin kini para anggota dewan kalau makan sudah pindah ke rumah makan yang mewah.

Kemungkinan lainnya, mereka ogah berkantor di gedung yang sekarang karena lokasinya yang ada di pusat kota. Dengan lokasi seperti ini, siapapun yang ingin menyampaikan uneg-uneg atau melakukan aksi demo bisa dengan mudah mencapai gedung ini. Apakah anggota DPRD Surabaya mulai gerah dengan adanya aksi-aksi seperti ini sehingga mereka mulai mencari lokasi kantor yang lebih tenang dan sepi aksi demo?

Melihat kondisi gedung yang masih sangat memadai dan prioritas pembangunan yang seharusnya untuk membenahi ekonomi masyarakat, tampaknya permintaan para anggota DPRD Surabaya itu sangat layak untuk diabaikan. Ini sekaligus ujian bagi walikota baru Surabaya, Tri Rismaharini, apakah dia lebih konsern untuk membenahi perekonomian rakyat dan memajukan kotanya daripada memanjakan segelintir politisi dan para birokrat yang sudah dihinggapi penyakit hedonisme.

Tidak ada komentar: