Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 05 Juli 2010

Sosio Kultural Masyarakat Tak Mendukung Keamanan LPG?


Dulu ketika penggunaan LPG masih terbatas pada lapisan atas masyarakat, nyaris tak terdengar berita ledakan LPG yang mengakibatkan kebakaran dan membawa korban jiwa. Tapi ketika penggunaan LPG sudah begitu masif, berita terjadinya tragedi LPG merajalela. Apakah bencana LPG ini sebagai akibat kondisi sosia kultural masyarakat yang tak mendukung? Memang ini masih dibutuhkan kajian yang mendalam.

Akibat banyaknya kasus ledakan LPG ini, anak-anak di rumah pun sekarang mulai merengek-rengek supaya orangtua mengganti LPG dengan yang lain. Ini dialami penulis sendiri. Protes datang mulai dari anak yang masih duduk di kelas 5 SD sampai anak yang sudah mulai bekerja seusai lulus SLTA.
Orangtua tentu saja kebingungan. Kompor LPG harus diganti apalagi. Lha wong ini sudah merupakan program pemerintah untuk menggantikan kompor tradisional dengan kompor LPG. Dan untuk itupun harga minyak tanah sudah dinaikan begitu tinggi sehingga tentu ini akan berat bagi kebanyakan rumah tangga di Indonesia.

Kompor desain baru yang diperkenalkan LAPAN pun masih menimbulkan keraguan. Benarkah kompor model baru ini lebih aman mengingat tungkunya di atas tabung LPG. Dibuat terpisah dengan tabung saja masih sering terjadi kecelakaan, bagaimana kalau tungkunya diletakan di atas tabung yang merupakan sumber ledakan.

Kurangnya keamanan LPG mungkin saja berasal dari kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat kita. Misalnya saja dalam soal disiplin masyarakat kita dikenal masih rendah. Padahal untuk menjamin keamanan LPG dibutuhkan kewaspadaan yang tinggi. Dari segi ekonomi, dengan tingkat pendapatan yang rendah sulit sekali mengharapkan masyarakat dapat mengganti aksesoris (selang dan regulator) secara teratur dan tepat waktu. Yang juga harus diperhitungkan, letak rumah yang kecil dan berdesak-desakan di kampung juga bisa meningkatkan resiko. Karena LPG membutuhkan ventilasi udara yang lancar.

Kebakaran akibat ledakan LPG ternyata terjadi juga di ruko dan bangunan tempat usaha, yang notabene milik orang-orang berduit. Ini bisa terjadi karena pekerja yang mengurusi dapur mungkin tingkat pendidikannya tak memadai. Atau mungkin saja upah mereka terlalu rendah sehingga mereka tak sempat memikirkan keamanan tempat kerjanya. Apalagi kalau pengawasan dari pemiliknya kurang.

Dalam situasi semacam ini pemerintah dituntut untuk  terus melakukan upaya menemukan kompor yang lebih aman. Sebab bagi masyarakat kompor adalah sarana vital untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar: