Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Senin, 31 Mei 2010

Menanti InvestorJembatan Suramadu


Hampir setahun sudah jembatan Suramadu diresmikan Presiden SBY. Tapi belum ada tanda-tanda investor masuk ke kawasan itu.  Padahal sesuai program pemerintah, lahan seluas 600 ha di sisi Surabaya dan 600 ha di sisi Madura direncanakan untuk membangun  kawasan industri, perumahan, pusat perniagaan, pariwisata dan industri perikanan. Apa sebetulnya yang terjadi? Adakah ini karena tidak ada investor yang berminat atau pemerintah yang kurang agresif menawarkan proyek itu ke berbagai negara?

Alih-alih mencari investor, kini pemerintah pusat dan daerah masih disibukan dengan siapa yang akan mengelola Jembatan Suramadu setelah 18 bulan diresmikan. Masih ada silang pendapat perlukah jembatan tersebut dikelola asing atau bangsa sendiri. Sebetulnya kalau hanya mengelola jembatannya, tak perlu harus repot-repot mendatangkan orang asing. Bangsa kita sendiri sudah berpengalaman menangani proyek-proyek besar. Serahkan saja pengelolaan pada pemerintah setempat atau gandeng investor lokal melalui tender. Ini sebetulnya persoalan mudah dan tidak perlu dibuat berkepanjangan.

Dan yang perlu dipegang adalah kata-kata Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, yang sebagaimana diberitakan Kompas.com 28/5 2009, mengatakan meskipun terbuka regulasi untuk masuknya investor asing tapi Jembatan Suramadu harus dikelola bangsa sendiri. Sedangkan prinsip pengelolaannya, menurut Soekarwo, bukan mencari untung. Dalam kaitan ini, penerapan tarif tol tak bertujuan untuk mengembalikan nilai investasi pembangunan jembatan Suramadu, tetapi hanya untuk biaya pemeliharaan serta pengaturan lalu lintas di jembatan. Untuk pemeliharaan infrastruktur dalam jumlah besar, dana akan diambilkan dari APBN.

Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Chairul Djaelani mengungkapkan, dalam 18 bulan setelah Jembatan Suramadu diresmikan, Jalan Tol Suramadu akan dikelola Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT). Dalam waktu 18 bulan tersebut, pemilihan tender pengelola Jalan Tol Suramadu dilakukan. "Pengelola jalan tol yang dipilih harus memenuhi prinsip memberikan pelayanan murah dan terjangkau, tetapi berkualitas," ujarnya.

Sebetulnya dengan penegasan ini, kontroversi siapa yang akan mengelola Jembatan Suramadu seharusnya sudah dihentikan saja. Yang mendesak, adalah bagaimana mendatangkan investor secepatnya untuk membangun kawasan di dua sisi jembatan suramadu. Sebab tujuan utama pembangunan jembatan ini untuk memacu perkembangan kawasan Madura yang selama ini dianggap tertinggal sekaligus berdampak pada percepatan perkembangan Surabaya. Yang dibutuhkan adalah agresifitas pemerintah pusat maupun daerah untuk menawarkan kawasan ini pada investor asing dan dalam negeri. Dalam persoalan ini Indonesia hsrus meniru China yang sangat lihai menggaet investor asing.

Rintisan pembangunan Jembatan Suramadu sudah dimulai dengan terbitnya Keppres Nomor 55 Tahun 1990 bertanggal 14 Desember 1990. Namun realisasi dari Kepres ini tak kunjung terwujud.. Pada tahun 2003 Presiden Megawati melalui Keppres 79 Tahun 2003, pembangunan Jembatan Suramadu dinyatakan  sebagai proyek prioritas. Pembangunan Jembatan Suramadu diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009
Pembangunan jembatan sepanjang 5.438 Km ini menelan beaya sebesar Rp 4,5 triliun. Dananya sebagian besar merupakan pinbantuan dari pemerintah China.

Tidak ada komentar: