Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Selasa, 25 Mei 2010

Memperingati HUT Surabaya ke-717 Mengeksplorasi Jati Diri sebagai Kota Pahlawan





clip_image001Tanggal 31 Mei 2010 adalah hari jadi kota Surabaya yang ke-717. Inilah saatnya kita kembali membuat suatu refleksi apakah kota kita sudah berjalan di atas jalan yang benar atau ada sesuatu yang keliru. Selama ini Surabaya dikenal sebagai kota pahlawan. Tapi tak banyak ciri-ciri fisik yang menunjukan kota ini sesuai julukannya.



Surabaya sama saja dengan kota-kota besar lainnya, di sana sini mulai banyak bermunculan pusat perbelanjaan, perumahan mewah, industri, dan gedung-gedung menjulang tinggi. Semuanya  menunjukan ciri-ciri kota seperti yang ada di Amerika atau kota-kota di Eropa dan negara-negara sedang berkembang lainnya. Bahkan di kota Surabaya ada kawasan real estate yang dibangun untuk menjadi tiruan kota Singapura. Sejumlah kawasan perumahan mewah dibangun dengan arsitektur, patung-patung,  dan nama-nama yang  diambilkan dari kota-kota di Eropa, Amerika atau Jepang.

Lalu kalau semuanya yang ada di Surabaya hanya tiruan kenapa orang-orang asing harus berkunjung ke Surabaya? Toh apa yang ada di Surabaya ada di negeri mereka bahkan lebih hebat dan orisinal. Mending mereka datang ke Bali atau Yogya yang memiliki banyak ciri khas yang tak ada di negara mereka.
Ada dua peristiwa penting yang menjadi alasan kota Surabaya mendapatkan julukan sebagai kota pahlawan. Pertama,  ketika pasukan Kerajaan Mojopahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol utusan  Kubilai Khan dari kota Surabaya. Itu terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang kemudian diperingati sebagai HUT Kota Surabaya.
Yang kedua, peristiwa perlawanan arek-arek Suroboyo dan tentara nasional terhadap tentara Inggris yang mengultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris. Sikap perlawanan ini membuat Inggris marah dan membobardir kota Surabaya.  Serangan bumi hangus ini dimulai pada 10 Nopember 1945 dan berlangsung selama 10 hari.  Akibat aksi brutal Inggris ini sekitar 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Peristiwa ini diperingati secara nasional sebagai Hari Pahlawan.

Dalam usianya yang sebentar lagi mencapai 717 tahun ini,  Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia. Surabaya tidak hanya sebagai ibukota Jawa Timur saja tapi juga sudah menjadi pusat perkembangan wilayah Indonesia Bagian Timur.
Sebagian kalangan warga kota  gelisah dengan perkembangan kotanya yang nyaris tak berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang bercirikan: semakin menyempitnya lahan terbuka hijau karena tergusur bangunan untuk pusat perbelanjaan, apartemen, gedung perkantoran, industri, dan fasilitas komersial lainnya. Pola pembangunan yang seringkali tak mengindahkan perencanaan tata guna lahan ini dengan sendirinya menyebabkan kota ini terancam bahaya banjir, keruwetan lalu-lintas,  pencemaran udara, dan kondisi lingkungan yang tak nyaman untuk ditempati.

Masalah lainnya yang tak kalah serius adalah soal jati diri kota Surabaya. Kalau kota-kota di Eropa dikenal karena bangunan-bangunan kunonya yang indah dan kota-kota di Amerika dikenal dengan bangunan-bangunan pencakar langitnya, lalu apa yang dapat ditawarkan oleh kota ini.
Surabaya memiliki bangunan-bangunan kuno seperti yang terdapat di Eropa atau gedung-gedung tinggi, tapi apakah benda-benda tiruan semacam ini yang akan kita banggakan. Atau mungkin heroisme ala bonekmania yang brutal dan seringkali mengundang kerusuhan yang kita banggakan? Tentu tidak.

Sebetulnya julukan sebagai kota pahlawan bisa menjadi acuan untuk memberikan ciri khas bagi kota kita. Sampai saat ini tak banyak tetenger dan monumen  yang bisa digunakan untuk menunjukan Surabaya sebagai kota pahlawan. Karena itu tampaknya perlu dibangun lebih banyak lagi monumen yang berupa patung-patung yang menggambarkan perjuangan rakyat Surabaya mulai jaman Mojopahit sampai zaman kemerdekaan atau bahkan hingga saat ini.

Mungkin target  pertamanya adalah wilayah pusat kota. Selanjutnya adalah kawasan bersejarah yang banyak ditempati bangunan-bangunan kolonial. Akan lebih menarik dan mudah dilihat oleh siapapun termasuk oleh turis asing jika patung-patung itu dibangun di atas gedung-gedung kolonial yang bisa juga dipakai untuk menggambarkan bahwa bangsa Indonesia telah berhasil menaklukan pemerintahan kolonial.

Tidak ada komentar: