Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Rabu, 26 Mei 2010

Kembalikan Retail kepada Usaha Kecil

Banyak lahan usaha kecil yang telah dimasuki para pemilik modal besar. Sebagai contoh retail barang-barang kebutuhan rumah tangga di tingkat RT/RW,  kelurahan maupun tingkat kecamatan. Lahan usaha itu dulunya milik para pedagang pasar dan toko mracangan tapi sudah lama direcoki minimarket milik perusahaan besar.
Hasilnya sama-sama tidak mendapatkan keuntungan. Para pedagang pasar.dan toko mracangan banyak yang bangkrut dan tutup. Bahkan kalaupun usaha mereka masih hidup tak bisa lagi memenuhi kebutuhan rumah tangganya secara layak karena keuntungan yang mepet. 

Pemilik minimarket juga tak banyak mendapatkan keuntungan, bahkan seringkali dibelit kerugian. Seperti yang dialami Alfamaret yang sempat dikuasai Grup Sampoerna dan Carrefour dari Perancis. Karena mengalami kerugian sampai puluhan milyar akhirnya Alfamaret pun dijual kepada Grup Bank Megah.
Walaupun dikuasai oleh pemilik modal besar, namun minimarket-minimarket itu ternyata juga tak memberikan kesejahteraan lebih kepada para pegawainya. Upah mereka boleh dibilang kecil tapi beban pekerjaannya berat. Bahkan karena efisiensi yang sangat ketat, para pekerja diharuskan melakukan pekerjaan secara serabutan. Semua pegawai mulai dari kasir sampai pramuniaga juga melakukan pekerjaan cleaning service, mulai dari nyapu-nyapu, ngepel lantai sampai membersihkan kaca.
Tampaknya bidang usaha retail tingkat kampung, kecamatan, dan kelurahan tampaknya memang tak layak untuk para pemilik modal. Karena itu sangat mengherankan mengapa mereka mau membuang energi untuk memburu uang recehan. Padahal  lahan usaha yang bisa mereka garap untuk perluasan usaha masih sangat luas. Misalnya saja bidang pertanian, agribisnis dan perikanan.
Namun yang disayangkan kenapa pemerintah pusat dan daerah sepertinya enggan melakukan pengaturan. Mereka sepertinya sudah kepincut dengan teori ekonomi pasar bebas di mana semua  orang bebas berusaha sebanyak mungkin dan dimanapun tanpa batas. Tak peduli kemudian banyak pedagang kecil yang gulung tikar dan kehilangan sumber nafkah. Tak peduli banyak orang yang jadi pengagguran karena mencari kerja sulit tapi mau berusaha juga tak bisa karena harus bersaing dengan modal besar.
Saya masih ingat ketika terjadi booming usaha wartel pihak telkom melakukan pengaturan suatu wartel tak boleh didirikan di dekat wartel lainnya kalau nggak salah dengan jarak kurang dari 100 meter, agar wartel tersebut bisa mendapatkan pendapatan yang memadai. Walaupun kemudian aturan ini dilanggar sendiri oleh telkom, namun pengaturan semacam ini layak dipertimbangkan untuk digunakan dalam masyarakat. Tujuannya tak lain agar setiap usaha mampu tumbuh dengan baik tanpa harus direcoki persaingan yang tak sehat.
Dan yang paling penting harus diatur juga mana lahannya usaha kecil dan mana yang lahannya usaha besar. Tanpa pengaturan semacam ini dunia bisnis yang begitu gemelap tsebenarnya tak lebih perwujudan dari peradaban primitif yang di dalamnya berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang. Dan yang kecil harus binasa. Di dunia tinju saja, ada kelas-kelasnya seperti kelas berat, kelas ringan, kelas bulu dan sebagainya. Di sini petinju yang berbadan dan berbobot besar dihadapkan dengan lawan yang seimbang. Kenapa di dunia bisnis tak bisa dilakukan pengaturan?

Tidak ada komentar: