Headline News

Jembatan Suramadu Menggeliat, Pengembang Tawarkan Tower Superblok Water Front City

Foto: Lahan sedang diurug. surabayaraya.online surabayaraya.online: Setelah hampir sepuluh tahun Jembatan Suramadu dibangun, peru...

Sabtu, 15 Mei 2010

Berikutnya PKL Peneleh Ditertibkan

Setelah PKL Keputran, penertiban berikutnya bergeser ke Pasar Peneleh dan Koblen.  Walikota Surabaya, Bambang DH menyerahkan sepenuhnya rencana penertiban itu kepada polisi dan satpol PP. Pemkot juga merahasiakan waktu penertiban. ''Bagi saya, makin cepat makin baik. Namun, tetap harus meminimalkan terjadinya gesekan,'' tegasnya.

Berdasar perkembangan terbaru pasca penertiban PKL Pasar Keputran, kemarin terjadi sedikit ketegangan antara polisi dan PKL Keputran di sisi selatan. Emosi PKL memanas karena dipicu niat polisi yang berupaya memediasi mereka dengan Perum Jasa Tirta. Perum Jasa Tirta berkeinginan memindahkan lapak-lapak PKL yang masih ditempatkan di jalan inspeksi.

Kejadian tersebut bermula ketika polisi yang dipimpin Kepala Bagian Operasional Polwiltabes Surabaya AKBP Tagor Hutapea mendekati pedagang. Tujuannya, memediasi agar pedagang bersedia memindah lapak. Namun, keinginan itu ditolak. ''Di sini (bantaran sungai, Red) bukan kewenangan polisi. Kalau mau mengusir kami, satpol PP suruh turun sendiri," ujar Alwiyah, salah seorang PKL.

Ketegangan terjadi antara para PKL perempuan dan petugas. Sementara itu, PKL laki-laki berada di posisi belakang. Perlawanan yang dimotori PKL perempuan tersebut tidak bisa dipandang remeh. Sebab, polisi mundur.

PKL beranggapan, polisi tidak berhak mengusir mereka. Sebab, polisi tak berwenang di bantaran sungai. Sebaliknya, polisi hanya berwenang mengembalikan fungsi jalan. ''Pedagang tidak mau pindah,'' tegas Alwiyah.

Suasana memanas ketika petugas Jasa Tirta hendak menancapkan papan di kawasan bantaran. Papan itu bertulisan, ''Kawasan bantaran adalah tanah milik negara. Siapa pun dilarang masuk/menggarap/memanfaatkan/membuang sampah atau limbah yang bisa merusak prasarana sumber daya alam''. Papan itu juga mencantumkan ancaman pidana bagi pihak-pihak yang melanggar. Namun, upaya penancapan papan tersebut gagal karena ditolak pedagang.

Kabag Bina Mitra Polwiltabes AKBP Sri Setyo Rahayu menuturkan sengaja menarik pasukan agar tidak terjadi bentrokan dengan PKL. Meski kawasan Keputran relatif aman, polisi tidak ingin berspekulasi. ''Kami tidak ingin ada gejolak sekecil apa pun,'' ujarnya.

Merespons ketegangan antara PKL dan polisi, Yayuk menyangkal bahwa peristiwa itu sebuah ketegangan. ''Hanya dialog antara PKL dan polisi. Polisi hanya ingin membantu pedagang untuk meminggirkan lapak-lapak,'' paparnya.

Namun, karena PKL menolak, polisi tidak mau mengambil risiko. Karena itu, pasukan diminta mundur. Meski demikian, polisi akan kembali melakukan pendekatan dengan pedagang. Caranya, menerjunkan pasukan polisi wanita (polwan) dari reserse kriminal (reskrim). Mereka diharapkan bisa berdialog lebih baik dengan para pedagang.

Tidak ada komentar: